Opini
Opini: Yosef Freinademetz, Hidup Mati untuk Misi
Berbicara tentang misi dalam Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) tidak dapat diceraikan dari tokoh Yosef Freinademetz.
Itulah kesempatan yang baik bagi rekan-rekannya membujuk Yosef Freinademetz untuk ikut mengungsi bersama mereka. Namun di tengah perjalanan dia meminta kendaraan dihentikan dan dengan bercucuran air mata, dia mendesak para sahabatnya untuk membiarkannya kembali ke Puoli. Lalu dengan sembunyi-sembunyi dia pulang ke sana ditemani Bruder Ulrich. Sebuah pengorbanan yang besar dari seorang Yosef Freinademetz.
Berkali-kali Freinademetz mengalami siksaan dan penganiayaan yang hampir merenggut nyawanya. Pengalaman menghadapi maut dikisahkannya sendiri dalam surat kepada keluarganya di rumah.
“Tahun lalu sebenarnya beberapa kali saya menghadapi maut. Pada suatu malam saya harus melarikan diri melalui suatu daerah tanpa jalan, karena kaum Boxer mengincar-incar untuk membunuh saya. Pada kesempatan lain serdadu-serdadu sudah siap untuk menembak saya. Tapi Mandarin yang menaruh kasihan kepada saya, minta dan berhasil membujuk mereka supaya membebaskan saya,” tulisnya.
Rahmat Ekaristi
Walaupun Yosef Freinademetz berkarya sebagai misionaris di Cina daratan, namun dia mewariskan semangat misi yang besar bagi Gereja universal. Justru untuk itulah Uskup Brixen, Mgr. Gaser dengan rela melepaskannya.
Berikut kata-kata uskup Brixen sebagai seorang Wali Gereja terkemuka, ”Sebagai uskup Brixen saya katakan TIDAK, tapi sebagai uskup katolik saya katakan YA. Nah, silakan mengambil putraku Freinademetz, dan jadikanlah dia seorang misionaris sejati.”
Nilai pengorbanan, tanggung jawab, kesabaran, keramahtamahan, disiplin, ketekunan, cinta yang tulus, semangat doa, percaya kepada penyelenggaraan Allah dan iman yang dihidupi Yosef Freinademetz bersifat abadi, tetap aktual dan relevan pada setiap zaman.
Tentu timbul pertanyaan, dari mana dia mendapatkan kekuatan untuk bisa bertahan seperti itu terlebih dalam situasi yang paling sulit dan membahayakan nyawa. Jawaban satu-satunya adalah dalam persatuan dengan Tuhan melalui dan dalam Ekaristi.
Di situlah dia menimba rahmat Allah yang tiada pernah habis-habisnya, yang terus-menerus membarui semangat Yosef Freinademetz dan yang memberi makna terdalam bagi karyanya (bdk. KGK.1374). Dengan perkataan lain, khazanah rahmat dalam Ekaristi sungguh menjadi penopang utama bagi seluruh karyanya di tanah misi.
Bruder Paulus memberi kesaksian tentang hal ini. “Di depan tabernakel dia tidak jemu-jemunya merenungkan cinta Penebus dalam Ekaristi dan mengucap syukur, memuji dan menyampaikan permohonan-permohonan. Di sini dia menimba kekuatan yang tak habis-habisnya untuk pekerjaannya dan semangatnya demi melayani Kerajaan Allah."
Inilah warisan Freinademetz yang dapat menginspirasi segenap kaum beriman terlebih generasi muda yang secara potensial terpanggil untuk menjadi misionaris dengan mengabdikan dirinya bagi kejayaan Kerajaan Allah.
Dengan kata lain, kita dapat belajar dari Yosef Freinademetz yang telah mendedikasikan hidupnya hanya untuk misi. Ini pula yang diharapkan Freinademetz yang terungkap dalam kata-katanya kepada para konfraternya.
“Menjadi misionaris dan tidak dibakar oleh semangat untuk kemuliaan Allah adalah lebih hina daripada sifat seorang pengecut, yang tidak mencintai rajanya, lebih rendah daripada sifat seorang anak yang tidak mengasihi ibunya.”
Penutup
Para kudus adalah mereka yang secara radikal, militan mengikuti dan menghayati panggilan Allah dalam semangat injil. Mereka memilih jalan yang tidak biasa-biasa saja. Artinya jalan yang tidak biasa dilewati oleh orang-orang pada umumnya yakni yang gampang, instan, yang bebas dari hambatan apa pun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yosef-Freinademetz-Santo_02.jpg)