Kamis, 9 April 2026

Juwita Marsela Soluk, Cs Belajar Dihantui dengan Ketakutan

Ada enam ruangan kelas yang dibangun kala itu. Tapi apes dialami para siswa dan guru-guru dimana pada Desember 2019

Penulis: Edy Hayong | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/EDY HAYONG
Beginilah kondisi gedung SDN Tuakau, Desa Tuakau, Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang. Para siswa dan orangtua/wali bergambar dengan latar dinding gedung sekolah yang sudah bolong dan terancam roboh, Rabu (12/2). 

Juwita Marsela Soluk, Cs Belajar Dihantui dengan Ketakutan

POS-KUPANG.COM I OELAMASI--Juwita Marsela Soluk, siswi Kelas 6 di SDN Tuakau, Desa Tuakau, Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, pantas resah dan gelisah mengikuti pelajaran.

Juwita bersama 22 rekannya yang kini tengah mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir nasional (UAN) Tahun ajaran 2019/2020 dihantui dengan ketakutan. Pasalnya, gedung sekolah yang dibuat darurat dari dinding kayu itu,  terancam roboh karena dimakan rayap.

Juwita bersama 120 siswa siswi juga para guru di sekolah tersebut, saat disambangi Pos Kupang, Selasa (12/2) sekitar Pukul 13.15 Wita, tidak dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Waktunya mereka harus bersiap-siap pulang ke rumah masing-masing.

Namun, saking semangatnya untuk menyampaikan uneg-uneg mengenai kondisi gedung sekolah melalui Pos Kupang,  mereka memilih bertahan untuk tidak pulang.

Untuk mencapai SDN Tuakau, di Desa Tuakau, Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, membutuhkan waktu perjalanan sekitar 2 jam dari Oelamasi, pusat pemerintahan Kabupaten Kupang. Harus melintasi sekitar 20-an sungai besar dan kecil.

Belum lagi kondisi jalan yang memrihatinkan. Sungguh mengenaskan. Tidak ada penerangan listrik dari PLN. Warga setempat hanya mengandalkan lampu petromax, tetapi yang berekonomi mapan menggunakan generator.

Melihat kondisi gedung SDN Tuakau, hati siapapun akan terenyuh. Bangunan darurat berdinding kayu, beratap seng dan berlantai tanah itu dibangun sejak 2005. Sejak 2005 hingga kini, belum pernah direhap.

Ada enam ruangan kelas yang dibangun kala itu. Tapi apes dialami para siswa dan guru-guru dimana pada Desember 2019 lalu, angin puting beliung merobohkan empat bangunan ruang kelas sehingga tersisa 2 ruangan.

Sebanyak 2 ruangan kelas yang masih bertahan dari hasil swadaya orangtua/wali, kondisinya sekarangpun terancam rusak bahkan siap roboh. Kayu penyangga sudah termakan rayap. Dinding gedung pada beberapa titik berlubang.

Juwita Marsela Soluk siswi kelas 6 SDN Tuakau atas nama rekan-rekannya menyampaikan keprihatinan. Menurut Juwita, mereka sangat sedih karena gedung sekolah kondisinya rusak berat. Sejak angin puting beliung merobohkan empat ruangan kelas pada Desember 2019 lalu, kata Juwita, mereka belajar jadi tidak tenang.

"Kalau sudah mulai hujan dan ada angin, kami mulai gelisah. Karena gedung sekolah akan tergoyang. Dinding gedung sekolah sekarang sudah lapuk dan kalau tidak diperbaiki, pasti akan roboh," kata Juwita.

Dirinya atas nama rekan-rekannya memohon agar Pemerintah dan DPRD Kabupaten Kupang bisa memperhatikan gedung sekolah. Para guru dan siswa sangat semangat untuk belajar, hanya persoalan pada gedung sekolah saja.

Wali Kelas 6 SDN Tuakau,  Dora Tolai, mengatakan, Gedung SDN ini dibangun darurat. Sebelumnya anak-anak dari Translok Tuatuka belajar di SD GMIT Luataus. Mereka harus menempuh jarak ke sekolah  sekitar 2 kilometer. Kemudian SD GMIT  dipecah menjadi dua sekolah yakni SD Siumate dan SDN Tuakau.

Dikatakannya,  empat ruang kelas yang roboh dihantam angin beberapa waktu lalu terjadi pada malam hari, sehingga tidak ada korban jiwa. Dua gedung darurat yang masih layak pakai walaupun dinding sudah keropos, merupakan swadaya orangtua/wali. Berdinding bebak beratap seng yang merupakan bantuan dari anggota DPRD Kabupaten Kupang,  Agus Tanau.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved