Minggu, 19 April 2026

Juwita Marsela Soluk, Cs Belajar Dihantui dengan Ketakutan

Ada enam ruangan kelas yang dibangun kala itu. Tapi apes dialami para siswa dan guru-guru dimana pada Desember 2019

Penulis: Edy Hayong | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/EDY HAYONG
Beginilah kondisi gedung SDN Tuakau, Desa Tuakau, Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang. Para siswa dan orangtua/wali bergambar dengan latar dinding gedung sekolah yang sudah bolong dan terancam roboh, Rabu (12/2). 

"Tahun 2011 pernah dibangun gedung permanen tapi dalam perjalanan ada persoalan hukum sehingga kepala sekolah dan oknum PNS dari kabupaten yang kerjakan proyek gedung sekolah yang kini tinggal  fondasi itu masuk penjara," tutur Dora Tolai.

Menyinggung soal persiapan peserta didik menjelang UAS, Dora Tolai menjelaskan, tetap dilakukan les tambahan dan try out. Total siswa kelas 6  23 orang yang siap UAS.

"Kami  try out terus. Kalau bukan di sekolah juga
Ke gugus ujian. Saya bangga, walaupun gedung sekolah buruk tapi prestasi anak-anak kami luar biasa. Lomba Cerdas cermat, bola kaki, gerak jalan indah, festival budaya, anak-anak kami selalu juara," kata Dora.

Henderita Kaety, guru yang mengawali karier dari guru honor dan kini sudah diangkat jadi PNS sejak 2005 juga menceritrakan soal keberadaan lembaga ini.

Menurut Kaety, siswa yang bersekolah di SDN Tuakau merupakan warga translok sejak 2003. Sebelumnya dia  menjadi guru honor di SD GMIT Luataus. Terhitung sejak 27 Juli 2007, dirinya bersama beberapa guru merintis pembangunan gedung SDN Tuakau.

"Kami pikir anak-anak harus tempuh jarak sekolah dua kilometer dengan jalan kaki. Maka kami rembuk dengan para orangtua untuk bangun gedung darurat dan mendapat dukungan dari Pemkab Kupang," kenang Kaety.

Sejak itu maka dibangun  tiga ruangan kelas darurat untuk kelas 1,2,3 dengan jumlah siswa sebanyak 92 orang. Dirinya  merasakan betul nasib anak-anak Translok. Mereka semangat belajar walaupun kondisi gedung darurat.

"Saya sudah betah di sini karena saya sejak honor lalu diangkat jadi PNS di sekolah ini. Anak-anak sangat antusias untuk bersekolah, cuma kendala di kondisi gedung yang terancam roboh," ujar Kaety dengan suara terbata-bata.

Dora Tolai menambahkan, saat ini staf pengajar  7 guru dimana 5 PNS dan 2 guru honor. Total siswa  121 anak dari kelas 1-6. Sebelumnya ada dua guru PNS tetapi memilih pindah karena tidak tahan mengajar di sekolah yang memprihatinkan ini.

Maria Tabe, guru PNS di sekolah inipun menyampaikan uneg-unegnya. Dia menceritrakan kalau pada awal-awal keberadaan SDN Tuakau, sedikit stres. Pasalnya, pada pagi hari mereka masuk sekolah, hal yang ditemui adalah gumpalan kotoran sapi di dalam ruangan kelas.

Bobotoh Diimbau Tidak Hadiri Saat Laga Persib Bandung, Begini Alasan Imbauan Maung Bandung, Liga 1

Gunakan 4 Bahan Alami Ini Agat Pakain Yang Menguning Bisa Putih Kembali, Wajib Tiru!

"Ruangan kelas tidak ada pintu jadi ternak sapi yang masuk tidur di dalam. Kami harus bersihkan kotoran sapi dulu baru kegiatan KBM. Jadi memang serba susah. Sekarang memang sapi tidak masuk kelas lagi karena di translok sudah dibangun pagar tembok. Kondisi yang kami hadapi cuma KBM tidak tenang karena gedung terancam roboh," tutur wanita asal Amarasi ini.(Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Edi Hayong)

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved