Jumat, 10 April 2026

Ginjal Agustina Diangkat Dokter RSU Johannes Kupang

Saat operasi tumor, tim dokter mengangkat salah satu ginjal Ny. Agus karena ginjal pasien sudah terlilit tumor dan menjadi rusak.

Editor: Ferry Ndoen
Juan Sely Tupen
Pasien tumor agustina di RSU Prof Dr. WZ Johannes Kupang 

POS KUPANG.COM, KUPANG - Tim dokter RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang melakukan operasi tumor pada pasien, Ny. AL, Senin, 29 Februari 2016. Saat operasi tumor, tim dokter mengangkat salah satu ginjal Ny. Agus karena ginjal pasien sudah terlilit tumor dan menjadi rusak.

Demikian dijelaskan dr. Unedo, SpOG.K saat jumpa pers yang digelar Direktur RSU Prof. Dr WZ Johannes Kupang, drg. Domi Mere bersama tim dokter, Jumat (11/3/2016).

Hadir, dr. Hendriette Irene, SpOG, dr. Stefanus, Sp.B, D SOKG, dr. Jean Pello, Sp.B serta Wadir Pelayanan, dr. Mina Sukri.

Jumpa pers dipandu drg. Domi Mere dan dr. Unedo, SpOG.K menjelaskan bahwa tanggal 28 Februari 2016 seorang pasien dari RSU Belu atas nama Ny. Agus dirujuk ke RSU WZ Johannes Kupang dengan diagnosa tomor kandungan suspek ganas. Sebagai rumah sakit rujukan, RSU WZ Johannes tak bisa menolak pasien.

Kronologis penyakit, kata dr. Unedo, ada benjolan di perut Ny. Agus sejak kurang dari enam bulan lalu, dan dalam tiga bulan terakhir benjolan membesar. Selain itu, pasien mengalami gejala, demam naik turun disertai nyeri perut. Pasien sudah berobat ke dokter kandungan di Atambua untuk terapi tapi belum ada perubahan lalu pasien disarankan rujuk ke RSU WZ Johannes Kupang.

Setelah pemeriksaan dicurigai sebagai tumor kandungan arah keganasan. Tim dokter melakukan tindakan operasi dengan melakukan irisan perut bagian lateral. Ketika irisan di perut, ternyata terdapat saluran indung telur yang membesar dan melebar dan terjadi perlengketan hebat tumor pada rongga perut sampai arah belakang mengenai usus. Ketika dioperasi dan diangkat, ukuran tumornya 15 x 15 x 10 cm.

"Tumor lengket dengan dinding perut belakang dan bagian organ tubuh lain. Ketika memisahkan masa (tumor) yang menempel, ada cairan nanah berbau dan mengalami proses pembusukan. Kami angkat tumor jika tak diangkat dikhawatirkan meluas dan mengancam jiwa pasien atau berdampak pada kematian," kata Unedo.

Dari evaluasi gambaran massa tumor yang berbau, kata dr. Unedo, secara mikroskopik didapati infeksi pada saluran indung telur dan ginjal yang sudah rusak akibat lilitan massa tumor. Pembesaran ukuran ginjal bahkan 2-3 kali lipat dari ukuran normal 6 x 8 cm.

Setelah operasi, kata dr. Unedo, pasien dirawat di ruangan Flamboyan dan mulai membaik. "Proses operasi sudah sesuai SOP (standar operasional prosedur) mulai dari pemeriksaan kondisi pasien, lalu KIE (konfirmasi, informasi dan edukasi) di depan pasien dan keluarga pasien, terutama menyangkut penyakit yang diderita, bagaimana penatalaksanaan, bagaimana resiko yang akan terjadi dan lainnya. Pihak keluarga pasien menandatangani persetujuan diikuti saksi-saksi. Karena niat pasien datang ke RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang untuk berobat," jelas Unedo.

Dalam operasi, kata dr. Stefanus, ginjal pasien terpaksa diangkat karena ada pelengketan hebat dengan massa tumor.
Direktur RSU Prof. Dr WZ Johannes Kupang, drg. Domi Mere mengatakan, jumpa pers untuk menjelaskan bagaimana proses operasi terhadap pasien Ny, Agus. Diharapkan penjelasan tim dokter memberi pemahaman lebih baik kepada masyarakat dan pihak keluarga. (mar/sel)

Kami Takut Salah Operasi
Terkait pelaksanaan operasi, Athanasius Kati dan keluarga pasien lainnya tak terima tindakan operasi ke dua yang dilakukan tim dokter karena tak ada pemberitahuan kepada pihak keluarga termaksud pasien Ny.Agus dan suami Pilipus Fahit.

Athanasius ditemui Pos Kupang di RSU WZ Johannes Kupang, Jumat (11/3/2016), menjelaskan tanggal 27 Februari pasien atas nama Ny. Agus asal Malaka opname di RSU WZ Johannes dengan diagnosa dokter pasien mengalami kista sehingga harus operasi pengangkatan.

"Tanggal 29 Februari dilakukan operasi kista. Namun dalam perjalanan tim dokter tak cuma operasi kista pasien tapi angkat ginjal. Keluarga kecewa karena ijin operasi dari persetujuan keluarga hanya operasi kista tapi dalam perjalanan ada operasi bagian lain. Setelah operasi kedua baru dokter beritahu kepada keluarga sehingga keluarga terkejut,' 'ujar Athanasius.

Pasca operasi kondisi pasien belum stabil. Pasien sering mengeluh sakit pada daerah perut saat buang air atau saat duduk.

"'Sekarang baru mereka jelaskan panjang lebar soal diagnosa awal dan temuan saat operasi namun operasi itu sudah berjalan tanpa kami ketahui. Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada pasien kami salahkan siapa,'' ujarnya. (sel/mar)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved