Sabtu, 2 Mei 2026

Untuk Umbu Landu Paranggi

"BUKAN menulis beri daku Sumba! Yang kuminta adalah beri daku puisi," demikian komentar yang disampaikannya. Dia teringat Taufik Ismail yang menulis

Tayang:
Editor: Alfred Dama

Parodi Situasi, Maria Matildis Banda

"BUKAN menulis beri daku Sumba!  Yang kuminta adalah beri daku puisi," demikian komentar yang disampaikannya. Dia teringat Taufik Ismail yang menulis puisi Beri Daku Sumba, saat terkenang sahabatnya Umbu. Karenanya dia pun ingin  menulis puisi untuk laki-laki kelahiran Sumba itu.

Dia tidak ingat lagi, penyair itu kelahiran  Sumba Barat, Tengah, Timur, atau Sumba Barat Daya. Yang ia ingin lakukan sekarang adalah menulis surat untuknya. 

Puisi itu nyanyian hati.   Puisi itu musik berjiwa. Karena itulah Benza ingin memanggil Umbu yang sudah puluhan tahun bermukim di Bali itu, untuk pulang ke Sumba.  Benza ingin berteduh pada kedalaman puisi. Kepalanya pusing tujuh keliling, dan obatnya hanya puisi.

Maklum! Beberapa hari terakhir ini dia ada pada dua lokus. Sengketa pilpres di Jakarta dan sengketa pilkada di SBD. Dua lokus itu mempertaruhkan satu fokus yaitu puisi untuk keadilan dan kebenaran.

                                  ***
Apakah Umbu  tahu tentang Sumba sekarang? Khususnya SBD yang sedang bergejolak.  Apakah Umbu  tahu sebenarnya siapa yang menang dan siapa yang kalah di SBD.  Umbu dan Taufik pasti tahu, bahkan lebih tahu dari apa yang sekadar tertulis dan terberitakan.  Jadi, Umbu Landu Paranggi! Di manakah engkau?  

"Penyair sedang berhadapan dengan negara!" kata Benza. "Sedih rasanya. Apa yang dapat kulakukan untuk berjuang demi menegakan kebenaran di atas keadilan dan damai?"

"Kita baca saja puisi karya Umbu, jiwa kita pasti dicerahkan," saran Nona Mia. "Mudah-mudahan kita pun terinspirasi Umbu untuk bisa menulis puisi  untuk SBD."
"Ini dia puisi Umbu berjudul Ibunda Tercinta. Dengar ya," Nona Mia mulai membaca.

Perempuan tua itu senantiasa bernama: Duka derita dan senyum yang abadi - Tertulis dan terbaca jelas  kata-kata puisi - Dari ujung rambut sampai telapak kakinya. Perempuan itu senantiasa bernama: Korban, terima kasih, restu, dan ampunan - Dengan tulus setia telah melahirkan -berpuluh lakon, nasib, dan sejarah manusia. Perempuan itu senantiasa bernama: Cinta kasih sayang, tiga patah kata purba - Di atas pundaknya setiap anak tegak berdiri - Menjangkau  bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya."

"Indah sekali puisi ini," Benza, Jaki, Rara memejamkan mata.
"Semoga sanggup bercerita tentang perempuan dan anak-anak yang tidak dapat bicara tentang duka nestapa di tanah leluhurnya. Di mana matahari membusur api di atas sana. Kalimatku terakhir ini kalimatnya Taufik Ismail tentang Sumba."
"Karena itu sebagai penyair kita mesti menulis puisi untuk Sumba!" sambung Rara.  "Mulailah menulis! Kita akan pilih puisi terbaik untuk Umbu!"

                                                 ***
"Aku sungguh terinspirasi puisi Umbu. Ini puisiku! Dengar baik-baik," kata Rara. "Untuk Umbu Landu Paranggi. Wahai angin, sampaikan salamku untuk Sumba. Seberapa berkilaunya kebenaran dalam hati rakyat, dia akan disuramkan oleh kekuatan hukum yang ada di ketinggian," Rara mulai berpuisi. "Diamlah, Sumba! Tunggu aku di ujung Weetebula!"

"Kamu bukan penyair!" potong Benza yang langsung membuat penilaian. "Sebab berkilaunya kebenaran dalam hati rakyat, akan tetap berkilau! Tidak ada seorang pun yang sanggup menyuramkannya! Umbu pasti tidak mau terima puisimu."
"Sekarang giliranmu, Jaki!" kata Benza lagi.

"Untuk Umbu Landu Paranggi. Wahai Bunda tercinta, beri daku satu pena dan kata untuk menulis," Jaki mulai berpuisi. "Apakah kamu tahu, Bunda! Seberapa kuatnya upaya rakyat mencari keadilan dan kebenaran, dia akan disingkirkan oleh kekuatan undang-undang yang lebih memiliki ketenaran. Kuharap engkau diam saja, Bunda.
Tunggu aku di padang gembala," Jaki meyakinkan syairnya. 

"Kamu tidak lulus sebagai penyair," kata Benza. "Puisimu bisa mencemarkan puisi  Ibunda Tercinta milik Umbu Landu Paranggi."  

                                                    ***
"Giliranmu, Nona Mia! Buatlah satu puisi untuk Sumba!"
"Untuk Umbu Landu Paranggi. Kutulis puisi ini di atas Rumput Padang Savana," Nona Mia mulai dengan salah satu judul film garapan Garin Nugroho. "Untukmu Sumba raja pasola dan ringkik kuda. Dengarlah ringkik kuda di ufuk senja. Suara yang lahir dari alam semesta tanpa dusta," Nona Mia memberi isyarat bahwa puisinya belum selesai. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved