Undana
Generasi Muda Jadi Kunci Kedaulatan Pangan dan Masa Depan Pertanian NTT
Menurut dia, perubahan iklim menjadi tantangan yang perlu diantisipasi melalui inovasi, teknologi, dan penguatan kapasitas petani.
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
“Petani kita semakin tua, sementara petani muda semakin meninggalkan profesi ini. Ini menjadi perhatian bersama,” katanya.
Prof. Roy menjelaskan persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan sistem pangan dan kesiapan sumber daya manusia dalam menjawab kebutuhan masa depan.
Ia menilai generasi muda memiliki peluang besar untuk menghadirkan berbagai solusi di sektor pertanian, baik melalui pengembangan agribisnis, teknologi pertanian, maupun penguatan rantai pasok pangan.
Menurut dia, NTT memiliki beragam komoditas pangan lokal yang potensial untuk dikembangkan, seperti jagung, sorgum, kelor, ubi, talas, singkong, dan sagu.
Ia juga menyoroti peluang yang dapat dimanfaatkan generasi muda melalui berbagai program nasional yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
“Anda tidak harus selalu menjadi petani yang menanam. Anda bisa menjadi penggerak, manajer, pendamping, atau membangun jaringan pasar bagi petani. Peluangnya sangat besar,” ujarnya.
Prof. Roy menambahkan bahwa pertanian modern saat ini telah berkembang dengan dukungan teknologi digital.
Ia mencontohkan penggunaan drone untuk membantu pemupukan, pemetaan lahan, hingga deteksi hama dan penyakit tanaman secara lebih efisien.
Menurut dia, integrasi teknologi informasi dalam sektor pertanian akan membuka peluang baru bagi generasi muda yang memiliki minat terhadap inovasi dan teknologi.
“Pertanian kita berkaitan dengan teknologi, pola tanam, dan integrasi teknologi berbasis IT untuk membangun pertanian yang lebih maju,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Dr. Laurensius Lehar menyoroti pentingnya peningkatan produktivitas pertanian di NTT.
Menurut dia, produktivitas pertanian dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kesuburan tanah, ketersediaan air, benih, pupuk, teknologi, hingga kualitas sumber daya manusia.
“Produktivitas pertanian perlu terus ditingkatkan agar potensi yang dimiliki daerah ini dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.
Laurensius menjelaskan bahwa setiap wilayah di NTT memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda. Zona Timor memiliki dominasi lahan kering dan sektor peternakan, Flores dikenal dengan tanah vulkanik yang subur dan komoditas perkebunan, sementara wilayah kepulauan serta Sumba memiliki potensi besar pada sektor pertanian dan peternakan yang dapat terus dikembangkan.
Menurut dia, perubahan iklim menjadi tantangan yang perlu diantisipasi melalui inovasi, teknologi, dan penguatan kapasitas petani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Seminar-Nasional-Undana.jpg)