Selasa, 19 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Hariak Katolik Selasa 19 Agustus 2025, "Bagi Allah Segala Sesuatu Mungkin"

Surga akan menjadi milik siapa saja, dimasuki oleh siapa saja yang Allah kehendaki, bukan dengan membeli tetapi dengan memberi.

Tayang:
Editor: Eflin Rote
dok-pribadi
Renungan Harian Katolik berikut ditulis oleh RP. John Lewar SVD 

Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor – NTT
Selasa, 19 Agustus 2025
Yohanes Eudes
Hak. 6:11-24a; Mzm. 85:9,11-12,13-14; Mat. 19:23-30
Warna Liturgi Hijau

Bagi Allah Segala Sesuatu Mungkin

Orang yang berharta bisa memiliki apa saja, bisa membeli apa saja, bisa pergi ke mana saja, bisa menikmati fasilitas apa saja, tetapi ia tidak bisa membeli surga.

Surga akan menjadi milik siapa saja, dimasuki oleh siapa saja yang Allah kehendaki, bukan dengan membeli tetapi dengan memberi.

Seperti dikisahkan dalam Injil hari ini (Mat 19:23-26), yang masih merupakan kelanjutan dari Injil kemarin (Mat 19:16-22), seorang muda yang kaya akan harta, pergi meninggalkan Yesus dengan sedih sebab hartanya banyak.

Hartanya yang banyak tidak bisa untuk membeli surga, bukan saja karena tidak cukup untuk membelinya, tetapi juga karena ia harus memberikan hasil segala harta milik yang ada padanya dan dijual kepada orang-orang miskin, dan itu yang dia tidak mau.

Terlalu berat permintaan Yesus. Hal itu tidak mungkin bagi si muda yang kaya harta itu. Upayanya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga terhalang oleh hartanya yang banyak.

Menanggapi reaksi si muda yang kaya harta, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, Aku berkata kepadamu: Sungguh, sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat 19:23-34).

Mendengar kata-kata Yesus yang penting tersebut, sehingga Dia merasa perlu menegaskan sekali lagi, seketika itu juga gemparlah para murid.

Benar, suasana di antara para murid langsung gempar. Mereka terkejut. Mereka kaget. Mengapa? Apakah para murid juga termasuk orang kaya, sehingga mereka langsung mengajukan pertanyaan kepada Sang Guru, Jika demikian siapakah yang dapat diselamatkan? (ay. 25).

Apakah ini adalah sebuah pertanyaan yang menyiratkan kekhawatiran mereka? Para murid merasa bahwa keselamatan mereka terancam karena harta yang ada pada mereka? Yesus menenangkan kegemparan di antara mereka dengan berkata, bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin (ay. 26).

Si anak muda kala itu sedang tidak baik-baik saja. Ia sedang terikat dan terlekat kuat oleh hartanya yang banyak, sehingga bagi dia jelas tidak mungkin menjual segala harta miliknya dan memberikan hasilnya untuk orang-orang miskin.

Dalam kelekatan dan kelepasan, jelas bahwa apa yang tidak mungkin tetap tidak mungkin. Apa yang tidak mungkin bisa berubah menjadi mungkin hanya jika ia mau bekerja sama dengan Allah dan hidup dalam rahmat-Nya.

Sebab, untuk memperoleh hidup yang kekal, untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga diperlukan semangat lepas bebas secara total dan yang dapat membebaskannya hanyalah Allah. Karena itu, “Ia tidak dapat mencapai tujuan akhirnya (masuk ke dalam Kerajaan Surga, red) tanpa bantuan rahmat” (Katekismus Gereja Katolik,
No. 308).

Dalam hal ini Gereja mengajarkan akan pentingnya iman akan Allah dan pertolongan rahmat-Nya. Seperti dikatakan oleh Santo Agustinus, seorang kudus dari Hippo, Afrika Utara, yang hidup tahun 354-430, “Tanpa Allah kita tidak dapat berbuat apa-apa.”

Gereja juga mengajarkan agar kita dapat mempergunakan harta yang kita punya secara wajar dan benar. Kita mempergunakan benda tercipta secara wajar: Iman akan Allah yang esa mengajar kita mempergunakan segala sesuatu yang bukan Allah, sejauh hal itu mendekatkan kita kepada Allah, dan melepaskannya, sejauh ia menjauhkan kita dari Dia (Mat 19:23-24) (Katekismus Gereja Katolik, No. 236).

Apa yang diajarkan Gereja ini mengingatkan kita akan doa dari seorang bruder bernama Santo Nikolaus dari Flüe, Swiss (1417-1487). Ia berdoa kepada Tuhannya dan Allahnya dengan sebuah doa yang sederhana namun indah dan inspiratif demikian, Tuhanku dan Allahku, ambillah dari diriku segala sesuatu yang menghalang halangi aku untuk datang kepada-Mu.

Tuhanku dan Allahku, berilah aku segala sesuatu yang mendekatkan aku kepada-Mu. Tuhanku dan Allahku, ambillah aku dari diriku dan jadikanlah aku sepenuhnya milik-Mu.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, iman akan Allah akan menyanggupkan kita untuk memiliki harta dunia namun tanpa terikat dan terlekat olehnya. Jika harta dunia menghalang-halangi kita untuk datang kepada Allah, untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, maka kita mesti berani mohon kepada Tuhan dan Allah kita seperti dilakukan oleh Santo Nikolaus untuk mengambil dan membebaskan segala penghalang itu, sehingga dalam semangat kelepasan kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Mari kita Imani bahwa bagi Allah segala sesuatu mungkin. Juga, karena Allah dan rahmat-Nya, segala sesuatu mungkin, termasuk dalam hal masuk ke dalam Kerajaan Surga. Tuhan memberkati. (diolah dari RP. A. Ari Pawarta, O.Carm, https://mkk.or.id/renungan-detail.php?r=2025066697).

Doa: Tuhan Yesus Kristus, bantulah aku agar bisa menjadi pribadi yang lepas bebas, tidak melekat dengan harta kekayaan. Semoga apa yang ada padaku kugunakan untuk kebahagiaan sesamaku. Hantarlah aku untuk mencapai kemuliaan Surga yang Kau janjikan...Amin.

Sahabatku yang terkasih. Selamat Hari Selasa Pekan Biasa XX . Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin (Pastor John Lewar SVD)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved