Editorial
EDITORIAL: Kondisi Geografis dan Pentingnya Pendidikan Anak
PENTINGNYA pendidikan bagi anak membuat orangtua rela melakukan apa saja agar anak sekolah. Kondisi ekonomi, lingkungan, jarak ke sekolah
POS-KUPANG.COM - PENTINGNYA pendidikan bagi anak membuat orangtua rela melakukan apa saja agar anak sekolah. Kondisi ekonomi, lingkungan, jarak ke sekolah dan cuaca tidak menghalangi niat orangtua untuk mengekolahkan anaknya.
Pentingnya menyiapkan generasi muda berkualitas untuk masa depan yang lebih baik adalah salah satu pemicunya. Tak berpendidikan maka kamu bakal tak terpakai di masa depan.
Sudah ada banyak bukti. Salah satu penyebab pengangguran di Provinsi NTT adalah rendahnya pendidikan. Tidak tamat atau putus sekolah, tingkat pendidikan yang rendah, membuat banyak tenaga kerja potensial di NTT yang tak terpakai.
Namun, keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang layak di Provinsi NTT masih jauh dari harapan. Belum sepenuhnya semua anak NTT dapat menyenyam pendidikan dengan baik.
Baca juga: Perjuangan Anak-Anak di Pedalaman Matim, Seberangi Sungai Wae Pekas Capai Sekolah
Dari berbagai sumber, diketahui bahwa di Provinsi NTT, terdapat 145.268 anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Jumlah ini tersebar di 22 kabupaten/kota.
Beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak tidak bersekolah antara lain kemiskinan, akses geografis yang sulit dan alasan pribadi seperti anak tidak mau sekolah atau merasa cukup dengan pendidikan yang ada.
Akses geografis inilah yang dihadapi banyak anak NTT. Belum semua daerah di NTT dijangkau oleh fasilitas pendidikan yang layak. Tak heran kalau banyak anak harus berjalan kaki jauh bahkan harus melewati sungai dan hutan untuk mencapai sekolah.
Sebut saja yang dialami siswa SMP Satap Benteng Sipi, asal Dusun Baja, Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.
Belasan siswa dari daerah ini harus menyeberangi arus sungai Wae Pekas baru tiba di sekolah. Sekolah mereka terletak di Kampung Nio, Desa Golo Wuas, Kecamatan Elar Selatan, sekitar 4 kilometer dari kampung itu.
Akses menuju sekolah tidaklah mudah, lantaran harus menyeberangi sungai dengan ketinggian air mencapai 30 sentimeter.
Bahakan pakaian seragam mereka seperti celana dan rok harus basah. Kecuali sepatu mereka dibuka. Anak-anak ini semakin kesulitan, terutama saat musim hujan, mengingat belum ada jembatan yang dibangun di sungai tersebut.
Baca juga: Berita Viral Bule Jerman Seberang Sungai Demi Nona Dari Pulau Terselatan NKRI Pulau Rote
Dengan derasnya dan ketinggian debit air saat banjir di sungai mencapai 3 meter, tentu sangat berisiko bagi keselamatan mereka.
Anak-anak pun terpaksa meliburkan diri. Ada juga yang menunggu hingga air surut sehingga terlambat masuk sekolah. Namun, ada siswa yang terkadang mengambil jalan penuh risiko dengan menyeberangi jembatan bambu yang dibangun orangtua mereka demi menambah ilmu.
Kondisi ini hanya salah satu contoh dari banyak kasus serupa yang dialami anak-anak NTT. Sangat memprihatinkan dan memang butuh perhatian.
Di saat anak-anak kota dengan mudah mencapai sekolah dan bahkan mendapatkan makanan bergizi gratis, mereka bahkan masih berjuang untuk ke sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/MELINTASI-SUNGAI-WAE-PEKAS.jpg)