Belu Terkini 

Penyelamat Hidup Finus Bernama JKN-KIS

Saat ini, Finus menjalani cuci darah dua kali seminggu, setiap hari Selasa dan Jumat. Sekali sesi, prosedurnya bisa memakan waktu hingga empat jam. 

Penulis: Agustinus Tanggur | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/AGUS TANGGUR
CUCI DARAH - Yuni Mali, anak kandung Serafinus Mali Usuk (62) atau yang biasa disapa Finus, warga Salore, Desa Tulakadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste yang setia mendampingi Ayahnya melakukan terapi cuci darah di RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua, Jumat (25/7/2025). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Suasana Jumat (25/7/2025) pagi di Rumah Sakit Umum Daerah Mgr. Gabriel Manek Atambua begitu sunyi. Di salah satu sudut ruang hemodialisa, seorang pria tua terbaring lemah. 

Wajahnya tampak pucat di balik masker putih yang menutupi sebagian wajahnya. Tubuhnya yang renta terhubung pada beberapa selang yang menjadi penghubung hidupnya, alat cuci darah. 

Di sisinya, seorang perempuan muda terus menggenggam tangannya. Ia adalah Yuni Mali, anak kandung Serafinus Mali Usuk, atau yang biasa disapa Finus.

Finus (62), warga Salore, Desa Tulakadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, sudah dua pekan menjadi pasien rutin cuci darah. 

Baca juga: Bupati Belu Dorong Pameran Ekonomi Kreatif Lahirkan Pengusaha Baru

Dalam seminggu, dua kali ia harus datang ke rumah sakit untuk menjalani prosedur hemodialisa yang menyita waktu dan energi, namun menjadi satu-satunya harapan agar hidup tetap berjalan.

“JKN-KIS ini penyelamat hidup saya. Kalau tidak ada, saya tidak tahu bagaimana bisa terus berobat. Biaya cuci darah itu sangat mahal. Tapi dengan BPJS, semua ditanggung,” ujar Finus dengan suara pelan, sambil membuka maskernya. 

Ia menyatakan dengan JKN-KIS dan penyakit yang dideritanya tidak membebani anak-anaknya soal biaya rumah sakit. “Selama saya bisa cuci darah tanpa membebani anak-anak, saya bersyukur,” ucap Finus. 

Perjalanan Finus sebagai pasien di RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua sebenarnya dimulai sejak beberapa tahun lalu. 

"Pada tahun 2022, Bapa menjalani operasi prostat di rumah sakit ini. Saat itu kami menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. Ini yang menjadi penopang pengobatan Bapa," ujar Yuni, anak perempuan Finus. 

Namun, awal Juli 2025 menjadi titik balik yang paling berat dalam hidupnya. Saat itu, tiba-tiba tubuh mulai melemah, selera makan hilang, dan ia sering merasa mual. 

Baca juga: Cakupan JKN di Daerah Capai 98 Persen, Dewas BPJS Dorong Kolaborasi dan Layanan Hingga ke Ujung Desa


Keluarga membawanya ke RSUD Atambua, dan setelah menjalani serangkaian pemeriksaan intensif, pada 11 Juli 2025 dokter menyampaikan bahwa Finus mengalami gagal ginjal.

“Awalnya kami syok,” cerita Yuni. “Tapi kami juga tahu, menyerah bukan pilihan. Dokter menyarankan untuk melakukan terapi cuci darah. Tetapi Bapak tidak mau. Kami sebagai anak harus meyakinkan Bapak, bahwa cuci darah bukan berarti akhir dari segalanya. Justru itu penyambung napas untuk terus hidup," tuturnya. 

Yuni mengungkapkan bahwa bapaknya sempat ragu dan takut, karena masih trauma masa lalu. "Kakak kami juga dulu mengalami gagal ginjal namun menolak cuci darah. Waktu itu tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan," tambahnya. 

Namun kali ini, situasi berbeda. Finus sudah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan Mandiri, yang iurannya dipotong dari gaji istrinya, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved