Selasa, 9 Juni 2026

Prakiraan Cuaca

BMKG Sebut Interaksi Atmosfer Skala Lokal dan Global Warnai Cuaca Pekan Ini Periode 17-23 Juni 2025

BMKG Sebut Interaksi Atmosfer Skala Lokal dan Global Warnai Cuaca Pekan Ini periode 17-23 Juni 2025

Tayang:
Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Adiana Ahmad
POS-KUPANG.COM/PETRUS PITER
HUJAN LEBAT - Hujan besar guyur Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) pada Kamis (30/1/2025). BMKG Sebut Interaksi Atmosfer Skala Lokal dan Global Warnai Cuaca Pekan Ini Periode 17-23 Juni 2025 

 Intrusi udara kering dari selatan juga memperkuat ketidakstabilan atmosfer di sebagian wilayah Indonesia, khususnya di pulau Jawa.

Peningkatan kecepatan angin permukaan (>25 knot) di Laut Andaman, Laut Banda, Laut Jawa, dan Laut Arafura juga perlu diperhatikan, mengingat dampaknya yang mampu meningkatkan potensi gelombang laut tinggi sehingga dapat mempengaruhi aktivitas pelayaran dan kelautan.

Melihat kondisi atmosfer yang masih relatif dinamis, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi yang masih ada meskipun beberapa wilayah telah memasuki musim kemarau.

BMKG terus menekankan pentingnya untuk memantau informasi cuaca dari sumber resmi secara berkala dan mengambil langkah mitigasi yang diperlukan guna mengantisipasi serta mengurangi dampak risiko bencana hidrometeorologi di wilayah masing-masing.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Dalam sepekan ke depan, aktivitas gelombang Rossby equatorial dan Kelvin diperkirakan masih berpropagasi di wilayah Indonesia yang dapat memicu terjadinya hujan.

Selain itu, intrusi udara kering yang bergerak dari wilayah selatan, membawa massa udara yang lebih dingin dan kurang mengandung uap air.

Ketika udara ini bertemu dengan udara yang lebih hangat dan lembab dari utara atau permukaan bumi, perbedaan sifat ini menciptakan ketidakstabilan atmosfer. 

Ketidakstabilan ini berarti udara lebih mudah naik ke atas dan membentuk awan konvektif terutama di Pulau Jawa bagian barat hingga tengah dalam sepekan ke depan.

Kondisi seperti ini bisa menyebabkan hujan lokal yang tiba-tiba, petir, atau bahkan potensi hujan deras meskipun secara umum sedang memasuki musim kemarau.

Selain itu, daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) diprakirakan memanjang dari Perairan barat Bengkulu hingga Sumatra Barat, Perairan utara Jawa Tengah hingga Jawa Barat, Perairan selatan Jawa Barat hingga Banten, Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Barat, di Laut Banda, dari Laut Arafuru hingga Laut Banda, Laut Maluku hingga Perairan utara Gorontalo, Perairan utara Papua Barat hingga Laut Seram, Teluk Cendrawasih hingga Papua Barat, dan di Pesisir selatan Papua Selatan.

Daerah konfluensi diprakirakan berada di Laut Banda, Laut Arafuru, dan Samudra Pasifik utara Maluku Utara. 

Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.

Secara umum, curah hujan pada dasarian ke-3 Juni diprediksi berada pada kriteria rendah – menengah (0-150 mm/dasarian). Wilayah yang diprediksi mengalami hujan kategori tinggi-sangat tinggi (>150 mm/dasarian) meliputi sebagian kecil Jawa Barat, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian NTT, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat Daya, sebagian Papua Barat, sebagian Papua Tengah dan sebagian Papua Selatan.

Sementara itu, sirkulasi siklonik dan daerah konvergensi yang memanjang dari Sumatra hingga Papua serta konfluensi angin di sejumlah perairan Indonesia masih berkontribusi pada pertumbuhan awan hujan.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved