Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Selasa 10 Juni 2025, "Rajin Berbuat Baik Kita Jadi Garam dan Terang Dunia"

Menjadi pengikut Kristus kita pun serentak menjadi milik Allah. Sebagaimana Allah dalam Kristus mengasihi kita sampai mati di salib dan bangkit

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
Pater Fransiskus Funan Banusu SVD 

Renungan Harian Katolik
Selasa 10 Juni 2025
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
DENGAN RAJIN BERBUAT BAIK KITA JADI GARAM DAN TERANG DUNIA
(2Kor 1:18-22; Mzm 119:129.130.131.132.133. 135; Mat 5:13-16)

"Hendaklah cahayqmu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di Surga." (Mat 5:16). Perumpamaan Yesus tentang menjadi garam dan terang dunia menunjukkan hakikat diri kita sebagai pengikut-Nya.

Melalui karya pelayanan yang tulus dan penuh kasih sebagai orang beriman, kita memberi rasa bagi kehidupan bersama dan kita adalah terang yang menyinari lingkungan sekiling kita dari kegelapan dosa. Garam dan terang itu identitas seorang pengikut Kristus di tengah dunia. Menjadi garam berarti kita memberi rasa untuk kebaikan bersama.

terang berarti menyinari, membimbing dan menuntun ke jalan kebaikan. Akibatnya jelas bahwa kita akan menghindari tindakan apa pun yang mencederai kemanusiaan, manipulasi dan aneka kejahatan lain dalam hidup bersama sebagai orang-orang beriman.

Manusia yang menjadi garam dan terang dalam dunia berniat untuk meningkatkan cara kerja bermutu dan tindakan kasih dalam hidupnya. Garam dan terang yang menjadi identitas kita di era ini kita tegaskan dalam cara hidup yang terpuji.

Dunia memaksa untuk menggapai cara hidup tercela melalui trik-trik busuk rekayasa, manipulasi rancangan iblis. Inilah cara di mana garam diri jadi hambar dan pelita hidup jadi redup, suram bahkan bisa padam. Kitab Suci mengatakan, "Jangan kamu jemu-jemu berbuat baik."

Setitik kebaikan mungkin tampak tak berarti di mata manusia, namun tidak bagi Yesus dan Allah Bapa-Nya. Kebaikan tetaplah kebaikan dan selalu menjadi hal luar biasa di mata Tuhan. Hanya dalam diri orang-orang susah, miskin dan menderita yang kita tolong, di sana kita menemukan Tuhan. Maka sukacita, rasa damai dan berkat Allah sungguh nyata dalam hidup kita.

Orang yang selalu mau berbuat baik tanpa kenal lelah menegaskan diri sebagai anak Allah. Sebab Allah dalam perjanjian kudus-Nya menyatakan dengan jelas bahwa Ia setia pada perjanjian-Nya dengan manusia. Isi perjanjian-Nya, Ia menjadi Allah kita dan kita menjadi umat yang kudus bagi-Nya. Janji ini diteguhkan melalui pembaptisan yang merupakan meterai kekal yang tak terhapuskan. "Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah.

Itulah sebabnya oleh Dia kita mengucapkan "Amin" untuk memuliakan Allah." 2Kor 1:20). Menjadi pengikut Kristus kita pun serentak menjadi milik Allah. Sebagaimana Allah dalam Kristus mengasihi kita sampai mati di salib dan bangkit, demikian juga kita berjuang berbuat baik di antara kita satu sama lain.

Dengan menghindari kejahatan apa pun dalam hidup, terang kita bersinar kuat dan kebaikan kita meluas lalu dirasakan banyak orang.

Yesus Sang Sabda dan Roh Kudus selalu menolong kita melaksanakan perintah kasih dalam hidup nyata. Melalui amal kasih kepada sesama yang susah dan berkebutuhan khusus (para difabel) selain memberi terang kepada dunia, kita pun secara tidak langsung mengundang dan membimbing banyak orang kepada kebaikan.

melantunkan madahnya demikian, "Bila tersingkap, firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh. Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku." (Mzm 119:130.135). Berakar dalam Kitab Suci dan Ekaristi kita bisa jadi garam dan terang dunia. 

Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Selasa / Pekan Biasa X/C, 100625)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved