Perilaku CERDIK: Pace Lari Sekadar Tren atau Parameter Kesehatan Jantung?

Bagi gen Z, rajin aktivitas fisik sebagai salah satu bagian dari CERDIK bukanlah hanya ingin hidup yang lebih sehat.

|
Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
dr. Janet Edrina Ung 

Perilaku CERDIK: Pace Lari sekedar Tren atau Parameter Kesehatan Jantung?
Oleh dr. Janet Edrina Ung

Kementerian Kesehatan merumuskan CERDIK yang perlu diterapkan oleh masyarakat karena dapat menghindarkan berbagai penyakit tidak menular.

CERDIK terdiri dari Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat yang cukup dan terakhir K, yaitu Kelola stress.

Salah satu manfaat CERDIK adalah mencegah terjadinya penyakit jantung. Bagi gen Z, rajin aktivitas fisik sebagai salah satu bagian dari CERDIK bukanlah hanya ingin hidup yang lebih sehat.

Aktivitas lari menjadi suatu tren dan fenomena mengejar pace lari menjadi ajang pamer tersendiri bagi generasi muda. 

Pace lari dapat diukur menggunakan aplikasi seperti STRAVA. Pace lari adalah istilah yang digunakan untuk mengukur kecepatan berlari.

Misalnya, jika seseorang membutuhkan waktu 7 menit untuk berlari sejauh 1 kilometer, maka pace-nya adalah 7 menit/km.

Pace memberikan gambaran yang lebih spesifik tentang kecepatan lari seseorang. Tumbuh di era digital, di mana semua pencapaian harus dipamerkan di sosial media semakin rendah (cepat) pace-nya semakin bangga untuk dipamerkan.

Dibanding ingin merasa bugar, pace menjadi parameter yang dapat diukur dan bisa dibandingkan dengan sesama pecinta olahraga lari. Semakin cepat pace, semakin keren untuk dipamerkan pada followers di sosial media. 

Selain itu dengan mengetahui pace lari memiliki beberapa manfaat penting antara lain memantau perkembangan kemampuan berlari, mengatur stamina terutama dalam lari jarak jauh seperti maraton, serta menghindari cedera dengan mengontrol pace sehingga tidak overtraining.

Namun bagaimana pendapat ahli terkait olahraga yang baik untuk mecegah penyakit jantung? Berdasarkan konsensus Sports Cardiology dari European Society of Cardiology (ESC) tahun 2020 menyarankan agar olahraga pada individu dewasa sehat untuk terhindar dari risiko penyakit kardiovaskular adalah sebagai berikut :

  1. Olahraga aerobik intesitas sedang 150 menit/minggu (30 menit per hari selama 5 sampai 7 hari) seperti berjalan cepat dan bersepeda santai
  2. Olahraga aerobik intesitas tinggi 75 menit/minggu (25 menit /hari selama 3 hari) seperti jogging atau berlari, bersepeda cepat, dan berenang.

Olahraga lari termasuk dalam olahraga aerobik intensitas tinggi. Apakah semakin rendah pace lari (makin cepat) menunjukkan manfaat yang lebih besar?

European Society of Cardiology menekankan bahwa manfaat kesehatan kardiovaskular lebih dipengaruhi oleh durasi, konsistensi dan intensitas aktivitas fisik daripada waktu tempuh, jarak, atau pace lari.

Meskipun aplikasi seperti STRAVA dapat memberikan data tentang pace dan jarak tempuh, namun fokus utama seharusnya tetap pada konsistensi, waktu dan kualitas aktivitas fisik yang dilakukan. 

Oleh karena itu teman-teman harus lebih cerdik, bahwa berlari lebih cepat bukanlah parameter lebih sehat. Meskipun mengejar pace lari yang lebih cepat dapat menjadi motivasi dan parameter pencapaian pribadi yang dapat dipamerkan di sosial media. Kesehatan jantung lebih diuntungkan dengan olahraga rutin, konsisten dan durasi yang sesuai.

Maka, nikmatilah proses, bukan hanya angka. Hidup bukan tentang apa yang kita pamerkan di sosial media namun harus bermanfaat dalam jangka panjang. See you on the next article. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved