Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Rabu 14 Mei 2025, "Mengasihi dengan Lebih Sungguh"
Di sana mereka, yang berjumlah kira-kira 120 orang, berkumpul di tingkat atas sebuah rumah di Yerusalem. Mereka bertekun dalam doa sambil menantikan d
Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor – NTT
Rabu, 14 Mei 2025
Pesta Santo Matias Rasul
Kis 1:15-17.20-26; Mzm 113:1-2.3-4.5-6.7-8; Yoh 15:9-17
Warna Liturgi Merah
Mengasihi dengan Lebih Sungguh
Hari ini 14 Mei, Gereja merayakan Pesta Santo Matias Rasul. Sesudah Yesus naik ke surga, para murid dan kesebelas Rasul bersama Bunda Maria kembali ke Yerusalem untuk menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan Yesus.
Di sana mereka, yang berjumlah kira-kira 120 orang, berkumpul di tingkat atas sebuah rumah di Yerusalem. Mereka bertekun dalam doa sambil menantikan dengan sabar kedatangan Roh Kudus.
Pada saat itulah Petrus, pemimpin para Rasul, mengusulkan pemilihan seorang murid untuk menduduki jabatan Rasul menggantikan Yudas Iskariot, si pengkhianat Yesus yang sudah mati menggantung diri.
Pemilihan ini dimaksudkan agar terpenuhilah nas Kitab Mazmur: ''Biarlah jabatannya diambil orang lain". Syaratnya ialah calon haruslah seorang murid yang selalu bersama Yesus sejak pembaptisanNya sampai la naik ke surga.
Sebab, seorang Rasul harus dapat bersaksi tentang Sabda, Karya dan Kebangkitan Yesus. Maka mereka mengajukan dua orang murid, yaitu Yosef, yang disebut juga Barsabas atau Yustus (=Yang Adil), dan Matias.
Setelah berdoa bersama-sama, mereka membuang undi. Pilihan jatuh pada diri Matias. Semenjak itu Matias menjadi penggenap bilangan kedua belas Rasul. Merekalah pengemban utama tugas menyebarkan kabar gembira ke seluruh penjuru dunia.
Nama Matias sekali saja disebut di dalam Kitab Perjanjian Baru. Dalam tulisan-tulisan Apokrif, namanya tidak pernah disebut-sebut. Namun kita yakin bahwa Matias adalah Rasul yang setia, tekun dan bersemangat prihatin.
Tahun kematiannya tidak diketahui pasti, namun makamnya terdapat di Trier, Jerman. Dalam amanat perpisahannya, Yesus memberi perintah baru kepada para muridNya untuk saling mengasihi. Mengapa mereka harus saling mengasihi?
Karena Yesus menyadari bahwa kodratNya sendiri adalah kasih (1Yoh 4:8.16), maka Ia berkata, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggalah di dalam kasihKu itu.” (Yoh 15:9).
Ketika kita mengikuti perintah Yesus yakni tinggal di dalam kasihNya maka dengan sendirinya kita juga tinggal di
dalam kasih Bapa.
Cinta kasih itu berasal dari Allah dan bahwa Dialah yang pertama-tama mengasihi kita. Ia selalu mengasihi kita apa adanya maka kita pun dipanggil untuk saling mengasihi satu sama lain. Cinta kasih yang benar itu butuh pengorbanan diri bukan hanya sekedar berkata “Saya mengasihimu”.
Kasih yang agung dan mulia adalah kasih yang didasari oleh pengorbanan diri. Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13). Kasih ini, kata Yesus, adalah bukti bahwa kita adalah sahabat-Nya.
Yesus mengajarkan kita untuk meniru kasih-Nya kepada Bapa, yaitu kasih yang tidak bersyarat dan penuh sukacita. Kasih ini adalah sumber sukacita kita dan merupakan landasan untuk semua tindakan kita sebagai murid-Nya. Kasih adalah buah dari hubungan yang erat dengan Kristus.
| Renungan Harian Katolik Kamis 16 April 2026, "Percaya Yesus: Pilihan Tepat untuk Keselamatan" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Kamis 16 April 2026, "Setia dan Taat Dalam Tugas Rutin Setiap Hari" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Kamis 16 April 2026, "Datang Dari Surga" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Rabu 15 April 2026, Iri Hati, Benci & Dendam Memasung Hidup Dalam Keburukan |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Rabu 15 Maret 2026, "Betapa Besar Kasih Allah akan Dunia" |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pater-John-Lewar-SVD_01.jpg)