Jumat, 1 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Sabtu 29 Maret 2025, "Sikap yang Benar dalam Berdoa"

Ia memandang positif pada dirinya. Ia merasa bangga karena telah berpuasa dan memberikan persepuluhan lebih dari yang ditentukan

Tayang:
Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
Pastor John Lewar, SVD 

SUARA PAGI
Bersama
Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor
Sabtu, 29 Maret 2025
Hari biasa Pekan III Prapaskah
Lectio: Hosea 6:1-6; Mazmur 51:3-4,18-19,20-21ab;
Lukas 18:9-14

Sikap yang Benar dalam Berdoa

Meditatio:

Suara pagi hari ini bertemakan “Sikap yang benar dalam berdoa”. Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk mengadakan retret agung, di mana kita diundang untuk memperdalam relasi kita dengan Tuhan dalam doa.

Dalam Injil Lukas (18:9-14) hari ini, Yesus memberikan pengajaran bagaimana sikap yang benar dalam berdoa. Pengajaran ini pertama-tama ditujukan kepada mereka yang kerap “menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain.”

Melalui sebuah perumpamaan, Yesus menuturkan sikap kontras dalam berdoa antara orang Farisi dan pemungut cukai. Dalam Bait Allah orang Farisi ini berada cli jajaran depan. Namun ia bukannya memuji Tuhan, malah bermegah di hadapan-Nya atas segala pencapaian dan kesalehannya. Ia menonjolkan apa yang menjadi kelebihannya.

Ia memandang positif pada dirinya. Ia merasa bangga karena telah berpuasa dan memberikan persepuluhan lebih dari yang ditentukan. Bila orang Yahudi hanya berpuasa setahun sekali pada Hari Raya Pendamaian, orang Farisi ini rutin berpuasa seminggu dua kali, hari Senin dan Kamis. 

Bila orang Yahudi dituntut memberikan persepuluhan atas hasil ternak serta panen gandum dan anggur, orang Farisi ini bahkan memberikan persepuluhan atas semua penghasilannya, termasuk dalam hal rempah-
rempah bumbu dapur.

Tidak hanya itu, orang Farisi tersebut juga mengatakan bahwa dia tidak seperti “pemungut cukai ini.” Orang lain (pemungut cukai), dilihatnya dengan kacamata negatif, dari sisi kesalahan dan kelemahannya saja. 

Maklumlah pemungut cukai oleh orang Yahudi kerap dipandang sebagai orang berdosa, karena menarik pajak bagi penjajah Romawi dan biasa menarik lebih dari yang ditentukan.

Pemungut cukai dengan perasaan takut datang kepada Allah. Oleh karena itu, ia hanya memilih tempat paling jauh di belakang. Ia tidak berani menengadah, melainkan memukul diri dan berkata lirih, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Yesus menegaskan si pemungut cukai pulang sebagai orang yang dibenarkan Tuhan. Sementara orang Farisi yang menganggap diri saleh justru tidak dibenarkan oleh-Nya.

Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan oleh Tuhan. Sebaliknya, yang meninggikan diri justru akan
direndahkan oleh-Nya.

Dalam Kitab Nabi Hosea ini, bangsa Israel memperlihatkan kepalsuan dan kesombongannya. Dalam sebuah upacara tobat, umat Israel seakan-akan berseru kepada Allah. Mereka tampak menyesal atas segala dosanya.

Padahal kenyataannya, mereka belum sungguh-sungguh bertobat. Mereka masih mengandalkan kemampuan dirinya, bukan kekuatan Allah.

Secara lahiriah mereka beribadah dan fisik mereka berada di Bait Allah, namun hati mereka jauh dari Allah. Tuhan menghendaki kejujuran dan kerendahan hati manusia, bukan kepalsuan dan kesombongan.

Tuhan melihat keutamaan-keutamaan itu sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, melebihi kurban bakaran. Ia tidak menyukai kepura-puraan dan kemunafikan. Kita pura-pura baik kepada orang lain padahal menyembunyikan intrik licik di balik itu. 

Kita tampil sebagai orang yang pemurah, penuh belas kasih dan penyayang, padahal itu hanyalah topeng kepalsuan sekadar untuk dipuji orang. Bercermin pada umat Hosea dan orang Farisi yang manis di bibir dan arogan, mari kita berbenah diri untuk menjadi orang yang suci hatinya dan tulus dalam berbelas kasih.

Sikap seperti orang Farisi dalam perumpamaan tadi terkadang menggoda kita juga. Kita yang merasa sudah maju dalam hidup rohani, dalam ketekunan mendengarkan, merenungkan, dan melakukan sabda Tuhan; kita yang aktif dalam kegiatan menggereja di paroki maupun lingkungan; kita yang menjadi aktivis kelompok kategorial, bahkan tekun mengikuti misa setiap hari; bisa-bisa terperangkap dalam “kesombongan rohani” dengan menganggap diri benar di hadapan Tuhan dan memandang rendah saudara seiman lainnya.

Dalam Masa Prapaskah ini, kita diajak berdoa secara benar di hadapan Tuhan, dengan meniru si pemungut cukai, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”(https://www.lbi.or.id/2019/03/30)

Missio: Kejujuran dan keiklasan dalam berdoa itu yang utama. Jangan sombongkan diri, doamu tidak akan terkabulkan.  Belajar rendah hati seperti Pemungut Cukai, Tuhan mendengar dan mengabulkannya.

Doa: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa ini, dengan anugerah pengampunan-Mu...Amin.

Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Sabtu, Hari ke 22 Prapaskah. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. Pastor John Lewar SVD. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved