Ramadan 2025
Hikmah Ramadan: Merawat Kemabruran Puasa - Dari Mukhlish ke Mukhlash
Kata mukhlish dan mukhlash berasal dari akar kata akhlasha-yukhlishu yang berarti tulus, jujur, jernih.
Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA
POS-KUPANG.COM - Kata mukhlish dan mukhlash berasal dari akar kata akhlasha-yukhlishu yang berarti tulus, jujur, jernih, bersih, dan murni.
Dari akar kata tersebut lahir kata mukhlish, jamaknya al-mukhlishin berarti orang yang setulus-tulusnya mengikhlaskan diri dalam upaya mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT. Perkataan, pikiran, dan segenap tindakannya hanya mengingatkan kepada Allah SWT.
Pengertian ikhlas lebih populer berarti kesungguhan dan ketulusan dalam upaya mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT.
Perkataan, pikiran, dan segenap tindakannya hanya mengingatkan kepada Allah SWT. Ulama tasawuf Kalangan menjelaskan pengertian ikhlas sebagai upaya untuk menyucikan ketaatan dari perhatian sesamamakhluk dan menjadikan Allah sebagai tujuan dalam berbagai ketaatan yang dilakukannya.
Kebalikan dari ikhlas ialah riya, yaitu suatu perbuatan yang dilakukan selain untuk Allah SWT juga untuk mendapatkan pujian dari makhluk. Riya mulai terjadi manakala seseorang mulai menikmati pujian dari kebaikan yang dilakukannya.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Merawat Kemabruran Puasa - Dari Inabah ke Istijabah
Dari kata akhlasha lahir juga kata mukhlash, jamaknya mukhlashin berarti orang yang mencapai puncak keikhlasan sehingga bukan dirinya lagi yang berusaha menjadi orang ikhlas (mukhlishin) tetapi Allah SWT yang proaktif untuk memberikan keikhlasan.
Mukhlis masih sadar kalau dirinya berada pada posisi ikhlas, sedankan mukhlash sudah tidak sadar kalau dirinya berada pada posisi ikhlas. Keikhlasan sudah merupakan bagian dari kebiasaan dan kehidupan sehari-harinya.
Jika kadar keikhlasan masih dalam batas mukhlis maka masih riskan untuk diganggu berbagai provokasi iblis karena masih menyadari dirinya berbuat ikhlas. Sedangkan mukhlash Iblis sudah menyerah dan tidak bisa lagi berhasil mengganggunya karena langsung di-back-up oleh Allah Swt.
Berbagai firman Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang yang sudah sampai di maqam al-mukhlashin upaya iblis sudah tidak mempan lagi.
Ayat-ayat tersebut antara lain: “Wanita sejati itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memesan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (al-mukhlashin).” (QS Yusuf/12:24).
Baca juga: Hikmah Ramadan: Merawat Kemabruran Puasa - Dari al-Taib Menuju al-Tawwab
Ayat di atas terkait dengan hubungan antara Yusuf yang dijebak oleh isteri raja di dalam kamar kosong karena pesona ketanpanannya.
Dalam keadaan sepi, aman, disertai dengan adanya kemauan, maka hampir saja perbuatan tercela (zina) itu terjadi, namun Allah SWT yang proaktif melindungi Nabi Yusuf. Cobaan yang berat karena Nabi Yusuf mampu melewatinya, bukan karena kemampuannya menahan diri tetapi lebih karena pertolongan Allah SWT.
Dalam ayat lain, Allah SWTmenyatakan: “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan mengirim mereka semua, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlas di antara mereka”. (QS al-Hijr/15:39-40).
Sejalan dengan ayat lainnya: “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyebarkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka.” (QS Shad/38:82-83).
Ada beberapa ayat lagi yang seirama dengan ayat ini, kesemuanya nenandakan bahwa di atas langit masih ada langit. Kita tidak boleh berpuas diri dengan perestasi yang sudah kita miliki. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hikmah-Ramadan-Oleh-Menteri-Agama-KH-Prof-Nasaruddin-Umar.jpg)