Senin, 20 April 2026

TTU Terkini

Persawahan Klae di Desa Naiola  Bikomi Selatan TTU Tinggal Cerita

Tidak ada seorang pun masyarakat yang sedang beraktivitas sejauh mata memandang di lokasi persawahan Klae. 

|
Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/DIONISIUS REBON 
LOKASI PERSAWAHAN - Lokasi persawahan Klae di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, Rabu (5/2/2025) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon 

POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Kisah kemegahan lokasi persawahan Klae, di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tinggal cerita. Lokasi persawahan milik 106 kepala keluarga di Desa Naiola tersebut kini tak kunjung dipersiapkan pada musim hujan kali ini.

Pantauan POS-KUPANG.COM, Senin, 3 Februari 2025, tampak lokasi persawahan seluas 102 hektare sejauh mata memandang tidak diolah sama sekali.

Lahan luas nan subur itu ditumbuhi rumput liar. Puluhan ternak sapi milik warga dibiarkan memakan rumput di tengah persawahan tersebut. Parit yang biasa digunakan masyarakat untuk mengalirkan air ke dalam sawah terpantau sangat kering.

Fakta getir ini diperparah dengan kondisi saluran mulut irigasi menuju lumbung pangan masyarakat Desa Naiola itu yang kini tak lagi dialiri air. Pintu irigasi dibiarkan tertutup. 

Baca juga: Polres TTU Didesak Transparan Soal Penanganan Kasus Dugaan Galian C Ilegal di Noemuti 

Tidak ada seorang pun masyarakat yang sedang beraktivitas sejauh mata memandang di lokasi persawahan Klae. 

Sebelumnya pada 31 Januari 2025 lalu, Warga Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Kris Taena, meminta Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan atensi terhadap dampak galian c terhadap laha persawahan warga Desa Naiola.

Galian C tersebut, menjadi penyebab selama bertahun-tahun terakhir masyarakat tidak dapat mengolah sawah mereka.

"Saya pikir bapak Presiden juga jangan hanya ada di sana. Harus ini jadi fokus utama,"ujarnya.

Jika tidak diberikan perhatian khusus, persoalan yang dialami masyarakat ini bakal tak kunjung usai. Masyarakat akan berasumsi bahwa, program swasembada pangan hanya sekedar wacana. 

Pasalnya, persoalan mendasar yang dialami masyarakat sebagai akibat dari galian c sangat tidak dapat diselesaikan.

Ia mengatakan, sangat miris ketika para petani di Desa Naiola harus mengharapkan beras bantuan dari pemerintah untuk bertahan hidup.

Sementara di sisi lain fakta bahwa, masyarakat setempat sebelumnya bisa mengolah sawah di sawah mereka sebanyak 2 sampai 3 kali dalam setahun.

"Padahal di wilayah kami itu salah satu lumbung pertanian di Kabupaten TTU,"bebernya.

Warga Desa Naiola, memiliki 3 titik lokasi persawahan. Dua lokasi masing-masing 20 hektare lebih dan 1 titik sekitar 102 hektare.Petani yang bisa mengolah sawah milik mereka adalah yang memiliki lahan tepat di pinggir aliran kali atau selokan. 

Kris berharap ada tindakan preventif untuk mengatasi persoalan-persoalan ini. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved