Selasa, 2 Juni 2026

Kota Kupang Terkini

Sadari Kondisi Kesehatan Jiwa Sejak Dini

Meskipun dalam agama ada konsep roh dan jiwa, perasaan, segala dan sebagainya, tetapi dari biologi kedokteran jiwa ada di isi pikiran manusia. 

Tayang:
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
PODCAST - Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RS. Siloam Kupang, dr. Raymond Josafat Major Natanael bersama host jurnalis Pos Kupang, Ella Uzurasi. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kesehatan jiwa manusia saat ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan secara serius. 

Banyak hal bisa terjadi jika kondisi kesehatan jiwa tidak disadari dan dijaga. 

Dokter spesialis kesehatan jiwa RS Siloam Kupang, dr. Raymond Josafat Major Natanael, Sp.KJ, dalam Podcast Pos Kupang, Senin (3/2/2025) mengatakan, jiwa sebenarnya adalah pikiran. 

Meskipun dalam agama ada konsep roh dan jiwa, perasaan, segala dan sebagainya, tetapi dari biologi kedokteran jiwa ada di isi pikiran manusia. 

"Kita beraktivitas pun, oke kita butuh tangan, kaki, kita butuh badan kita untuk beraktivitas tapi semua itu kan fokusnya ada di pikiran kita. Semua itu saling berhubungan sehingga jiwa itu penting," kata dr. Raymond. 

Baca juga: RS Siloam Kupang Sediakan Dokter Spesialis Saraf untuk Masyarakat NTT

Lanjut dia, seperti fisik yang adalah dasar kehidupan manusia, jiwa pun demikian. Pikiran menjadi dasar untuk badan bergerak, sementara pikiran menjadi dasar untuk mulut berbicara dan melakukan sesuatu. Dua-duanya adalah hal mendasar sehingga kalau yang dipikirkan hanya satu dasar maka akan terjadi ketidaksinkronan. 

Sebagai praktisi kejiwaan, dr. Raymond menyarankan, salah satu tips untuk tidak gampang termakan informasi dari media sosial adalah tidak membandingkan diri dengan orang lain. 

"Yang paling penting adalah jangan pernah kita sebagai manusia selalu menyamakan diri dengan orang lain. Sebenarnya itu poin kunci untuk nantinya ke poin-poin selanjutnya. Maksudnya itu adalah, semua manusia itu sama, punya tangan, punya kaki, punya darah yang sama, betul manusia itu sama, bukan berarti secara jiwa, secara mental kita juga menyamakan dengan yang lain. 

Kenapa saya bilang begitu, karena nanti menyangkut banyak hal. Contoh kecilnya adalah bagaimana manusia yang satu dengan yang lain bertumbuh, dari kecil sampai umur yang sama, itu berbeda," jelasnya. 

Meskipun demikian, dr. Raymond menegaskan, poin ini hanya digunakan untuk hal positif sehingga dampak yang didapatkan untuk kesehatan jiwa juga positif. 

Dikatakan dr. Raymond, gangguan mental secara garis besar terbagi atas dua kategori yakni orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). 

 

Kata ODGJ sendiri menurut dia, seharusnya sudah dihilangkan karena agak kasar untuk menyebut mereka yang mengalami gangguan jiwa berat. 

"Bedanya kalau yang ODGJ sudah gangguan. 
Rata-rata yang sudah ODGJ bisa terlihat dengan jelas, produktivitasnya sudah gagal. 
Tapi kalau yang ODMK masih bisa produktif cuma rentan, gampang stress, gampang kecewa," ungkapnya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved