Jumat, 24 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Selasa 28 Januari 2025, “Siapa Saudara-saudara-Ku?”

Hukum Taurat memberikan bayangan, tetapi Yesus datang untuk membawa kita ke dalam realitas yang lebih dalam: hubungan yang intim dengan Allah.

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
Bruder Pio Hayon SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik Selasa (28 /1/2025), “Siapa Saudara-saudara-Ku?” 

Oleh : Bruder Pio Hayon SVD

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Selasa 28 Januari 2025, “Siapa Saudara-saudara-Ku?”

Hari Selasa Pekan Biasa III  
PW Sto. Thomas dari Aquino 
Bacaan I:  Ibr.  10: 1-10
Injil:  Markus  3: 31-35

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Salam damai  sejahtera untuk kita semua. Ketika menyebut saudara, maka pikiran kita langsung tertuju kepada keluarga di mana kita dibesarkan karena di sana ada saudara dan saudari kita.

Namun sapaan saudara atau saudari juga sudah meluas tidak hanya pada hubungan kekerabatan tapi juga sebagai ungkapan kebersamaan dan kesatuan dalam satu ikatan emosional walupun tak kerabat.

Hidup bersama sebagai saudara menjadi satu impian akan satu masyarakat yang hidup dalam kesatuan ikatan ini. 

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Pada hari ini, kita merayakan peringatan wajib Santo Thomas dari Aquino ini.  Kita merenungkan dua bacaan yang menggugah yaitu dari  Ibrani 10:1-10 dan Markus 3:31-35.

Dalam bacaan pertama, kita melihat bagaimana pengorbanan Yesus menjadi penggenapan dari semua ritual dan hukum yang ada. 

Hukum Taurat memberikan bayangan, tetapi Yesus datang untuk membawa kita ke dalam realitas yang lebih dalam: hubungan yang intim dengan Allah.

Apakah kita benar-benar hidup dalam kesatuan yang intim dengan Tuhan atau kita hanya mengandalkan hidup kita sendiri?  

Sedangkan dalam bacaan injil dari Markus berkisah tentang Yesus yang didatanti oleh ibu dan saudara-saudaraNya.

Ketika Yesus ditanya tentang siapa saudara-saudara-Nya, Ia menjawab dengan tegas bahwa mereka yang melakukan kehendak Allah adalah keluarga-Nya.

Ini membuktikan bahwa ikatan spiritual yang kita miliki dalam iman jauh melampaui ikatan darah. Ketika kita menjawab panggilan-Nya dan berusaha hidup dalam kasih serta ketaatan, kita menjadi bagian dari keluarga Allah

Pertanyaan “Siapa saudara-saudara-Ku?” memicu kita untuk merenungkan hubungan kita dengan orang lain. Apakah kita hanya melihat orang-orang terdekat sebagai keluarga kita, atau kita juga menganggap mereka yang berbeda latar belakang, budaya, atau pandangan sebagai saudara?

Yesus mengajak kita untuk memperluas pandangan kita, dan melihat setiap orang yang berusaha melakukan kehendak Allah sebagai bagian dari komunitas kita.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved