Selasa, 21 April 2026

Kota Kupang Terkini

Gelar Lokakarya di Kupang, Direktur KIJ Harap Kerja Sama Antar Umat Beragama 

Program itu mengarahkan kelompok masyarakat untuk tidak saja memahami agamanya sendiri tapi juga mengerti dengan agama orang lain. 

Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
lokakarya Penguatan Kompetensi Kolaboratif Antar Umat Beragama, Katong Semua Basodara: Keagamaan, Kebangsaan dan Kebersamaan dengan Toleransi Pro Eksistensi, Selasa (21/1/2025) di Hotel Aston Kupang. 

"Karena persepsi yang berkembang tanpa didasarkan pada pemahaman agamanya sendiri, itu membawa kebencian, membawa stigma," kata dia. 

Pertemuan antar komunitas itu diharapkan bisa ada interaksi, termasuk hal-hal sensitif. Namun, penekanan pentingnya adalah adanya kerja sama untuk saling bekerja sama berdasarkan ajaran agama. 

"Sehingga kita tidak bicara salah dan benar. Para peserta boleh bertanya, tapi mereka mendengarkan, mereka memahami, mereka menghormati meskipun tidak harus menerima," ujarnya. 

Prof Siti Ruhaini berkata, jika umat Islam tidak mempercayai trinitas dari Kristen itu adalah hal wajar. Tapi harus dihargai oleh umat Islam. Begitu juga sebaliknya pada konsep lainnya yang ada dalam Islam, orang Kristen harus menghargai. 

"Sehingga kita bisa memilah, mana yang menjadi dogma agama. Tapi disamping itu kita menggali ajaran agama yang sama untuk kita bisa bekerja sama menyelesaikan masalah-masalah yang ada," kata Prof Siti Ruhaini. 

Tujuan besar dari program ini adalah menjaga ketahanan ditengah masyarakat. Apalagi tantangan pada era seperti sekarang sangat besar. Terutama dari media sosial. 


"Biasanya karena mereka tidak saling kenal, mereka tidak punya ruang mengklarifikasi kalau terjadi apa-apa," kata Prof Siti Ruhaini. 

Paling tidak, bila terdapat sesuatu maka ada ruang komunikasi antar komunitas keagamaan untuk saling mengkonfirmasi. Kalaupun sesuatu yang berkembang di media sosial, bisa langsung ditanyakan ke orang yang memiliki agama itu. 

"Bisa saling berbicara dan bisa saling menguatkan, di kampung kita tidak begitu loh. Kita sama-sama tahu. Kalau kita tidak tahu maka pasti kita akan ragu. Kalau kita tak kenal maka tak sayang. Sesederhana itu tapi sangat substantif," katanya. 

Setelah rangkaian kegiatan perseorangan, kelompok komunitas, ke depan dilanjutkan dengan agenda bersama para komunitas. Seperti halnya yang digelar di Bali menyongsong Imlek, Isra Miraj, para komunitas membuat kegiatan bersama. 

Mereka membuat kegiatan pasar murah kerja sama dengan Bulog setempat. Kegiatan kolaborasi itu bertujuan tidak muncul kecurigaan pada kelompok agama tertentu. 

"Kita ingin ini menjadi sesuatu yang orang saling kenal, saling memahami. Misalnya gereja, masjid dan wihara berdekatan, itu kan mereka bisa saling kenal. Sehingga terjadi masalah disitu, mereka bisa saling melindungi," kata Prof Siti Ruhaini. 

Minimal, kata dia, mereka bisa saling kenal. Harapannya ada saling kerja sama. Dari ini maka dijadikan model. Dengan begitu maka akan ada kerja sama dan saling melindungi antar sesama umat beragama. 

"Memang semua orang tahu ini. Cuman hubungan sosial itu jarang maka kita akan kembalikan itu lagi sehingga mereka bisa berinteraksi," katanya. (fan) 

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved