Kota Kupang Terkini
Gelar Lokakarya di Kupang, Direktur KIJ Harap Kerja Sama Antar Umat Beragama
Program itu mengarahkan kelompok masyarakat untuk tidak saja memahami agamanya sendiri tapi juga mengerti dengan agama orang lain.
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Direktur Kalijaga Institute for Justice (KIJ) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA, berharap ada kerja sama antar umat beragama di Kupang, Provinsi NTT umumnya.
Dia menyampaikan itu saat lokakarya Penguatan Kompetensi Kolaboratif Antar Umat Beragama, Katong Semua Basodara: Keagamaan, Kebangsaan dan Kebersamaan dengan Toleransi Pro Eksistensi, Selasa (21/1/2025) di Hotel Aston Kupang.
Program penggerak Komunitas klaster Kupang merupakan kerja sama ICRS, KIJ UIN Sunan Kalijaga dan Leimena Institute.
Menurut Prof Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA, toleransi bukan sekedar memahami tapi juga harus bisa bekerja sama.
Program itu mengarahkan kelompok masyarakat untuk tidak saja memahami agamanya sendiri tapi juga mengerti dengan agama orang lain.
Baca juga: Yayasan CIRMA Indonesia Berencana Dampingi Petani Kecil pada Tiga Kelurahan di Kota Kupang
"Jadi bukan sekali selesai. Ada yang dulu itu kita hanya mengumpulkan ketua komunitas, setelah ketemu kita tahun lalu mereka membuat kelompok masing-masing di masjid, gereja, dan lain-lain," ujarnya.
Selanjutnya, pada agenda lokakarya kali ini, mengundang semua kelompok itu untuk saling memahami antar agama.
Prof Siti Ruhaini menyebut, seringkali seseorang memiliki perbedaan pandangan dengan orang lain yang memeluk agamanya.
Lokakarya komparatif itu diharapkan ada kesempatan saling bertukar pendapat sesama peserta yang berbeda agama itu. Agenda itu, tegas dia, bukan dibuat untuk wadah perdebatan.
"Memahami agama lainnya itu dari tradisi agama. Misalnya, orang Islam itu selalu meyakini agama Kristen berubah. Kita trinitas itu kapan, itu yang Kristen juga tidak tahu kapan gitu. Artinya, yang punya agama juga tidak tahu. Ketika ditanyakan Nabi Muhamad lahirnya tahun berapa, tahun gajah," ujarnya.
Dalam konteks itu, ketika ditelaah lebih lanjut mengenai konsili gereja tentang trinitas itu abad ke-4 dan Nabi Muhamad itu lahir di abad ke-6, artinya tidak ada perubahan. Sebab, saat kelahiran Nabi Muhamad justru trinitas sudah ada. Sehingga, pernyataan bahwa ada perubahan di agama Kristen itu sebenarnya tidak ada.
Baca juga: Pemuka Agama Sebut Alkitab Tidak Pernah Mencatat Orang yang Bunuh Diri di Luar Kasih Karunia Allah
Dalam Alquran surah Al-Maidah 73, kata Prof Siti Ruhaini, ada keterangan mengenai trinitas itu. Dia bilang, kadangkala seseorang memahami agama dari cara mendengar dibanding mendalami agama itu sendiri.
"Artinya pemahaman agama kita itu seringkali hanya mendengar. Tapi tidak mempelajari, tidak meliterasi diri, apakah itu Kristen, Muslim, Budha, hampir semuanya," ujarnya.
Sehingga, program ini mendorong semua untuk kembali dan belajar dengan baik agamanya masing-masing. Bila seperti itu maka seseorang bisa memperlakukan dengan baik agama orang lain.
"Karena persepsi yang berkembang tanpa didasarkan pada pemahaman agamanya sendiri, itu membawa kebencian, membawa stigma," kata dia.
Pertemuan antar komunitas itu diharapkan bisa ada interaksi, termasuk hal-hal sensitif. Namun, penekanan pentingnya adalah adanya kerja sama untuk saling bekerja sama berdasarkan ajaran agama.
"Sehingga kita tidak bicara salah dan benar. Para peserta boleh bertanya, tapi mereka mendengarkan, mereka memahami, mereka menghormati meskipun tidak harus menerima," ujarnya.
Prof Siti Ruhaini berkata, jika umat Islam tidak mempercayai trinitas dari Kristen itu adalah hal wajar. Tapi harus dihargai oleh umat Islam. Begitu juga sebaliknya pada konsep lainnya yang ada dalam Islam, orang Kristen harus menghargai.
"Sehingga kita bisa memilah, mana yang menjadi dogma agama. Tapi disamping itu kita menggali ajaran agama yang sama untuk kita bisa bekerja sama menyelesaikan masalah-masalah yang ada," kata Prof Siti Ruhaini.
Tujuan besar dari program ini adalah menjaga ketahanan ditengah masyarakat. Apalagi tantangan pada era seperti sekarang sangat besar. Terutama dari media sosial.
"Biasanya karena mereka tidak saling kenal, mereka tidak punya ruang mengklarifikasi kalau terjadi apa-apa," kata Prof Siti Ruhaini.
Paling tidak, bila terdapat sesuatu maka ada ruang komunikasi antar komunitas keagamaan untuk saling mengkonfirmasi. Kalaupun sesuatu yang berkembang di media sosial, bisa langsung ditanyakan ke orang yang memiliki agama itu.
"Bisa saling berbicara dan bisa saling menguatkan, di kampung kita tidak begitu loh. Kita sama-sama tahu. Kalau kita tidak tahu maka pasti kita akan ragu. Kalau kita tak kenal maka tak sayang. Sesederhana itu tapi sangat substantif," katanya.
Setelah rangkaian kegiatan perseorangan, kelompok komunitas, ke depan dilanjutkan dengan agenda bersama para komunitas. Seperti halnya yang digelar di Bali menyongsong Imlek, Isra Miraj, para komunitas membuat kegiatan bersama.
Mereka membuat kegiatan pasar murah kerja sama dengan Bulog setempat. Kegiatan kolaborasi itu bertujuan tidak muncul kecurigaan pada kelompok agama tertentu.
"Kita ingin ini menjadi sesuatu yang orang saling kenal, saling memahami. Misalnya gereja, masjid dan wihara berdekatan, itu kan mereka bisa saling kenal. Sehingga terjadi masalah disitu, mereka bisa saling melindungi," kata Prof Siti Ruhaini.
Minimal, kata dia, mereka bisa saling kenal. Harapannya ada saling kerja sama. Dari ini maka dijadikan model. Dengan begitu maka akan ada kerja sama dan saling melindungi antar sesama umat beragama.
"Memang semua orang tahu ini. Cuman hubungan sosial itu jarang maka kita akan kembalikan itu lagi sehingga mereka bisa berinteraksi," katanya. (fan)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sunana-kalijaga.jpg)