NTT Terkini
BI NTT Targetkan Inflasi 2025 Capai 2,5 Plus Minus 1 Persen
prasarana produksi pertanian kepada kelompok tani, seperti traktor roda 4, hand tractor, sumur bor, transplanter, combine harvester,
Penulis: Elisabeth Eklesia Mei | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTT menargetkan inflasi tahun 2025 mencapai 2,5 plus minus 1 persen (yoy).
"Sinergi dan kolaborasi dalam menjaga inflasi dalam rentang target semakin diperkuat pada tahun 2025, dalam mencapai target inflasi tahun 2025 yaitu 2,5 ±1 persen (yoy)," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Agus Sistyo Widjajati, Senin (13/1/2025).
Agus menyebut, target tersebut dapat dicapai dengan penguatan sinergi dan kolaborasi lintas sektoral dalam mengendalikan inflasi sepanjang tahun.
"Pelaksanaan upaya-upaya pengendaliaan inflasi seperti gerakan pasar murah, sidak pasar, peningkatan produksi pertanian, penerapan GAP, kerja sama antar daerah (KAD) terus diintensifkan dalam rangka pengendalian inflasi," ucapnya.
Baca juga: Gempa Bumi M 3,0 Kembali Terjadi di Ruteng, Manggarai NTT
Upaya lainnya, kata dia, turut serta peran masyarakat dalam program pengendalian inflasi seperti diversifikasi pangan dapat turut membantu dalam tingkat inflasi tetap terjaga.
Lebih lanjut, Agus mengatakan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memainkan peranan penting dalam menentukan tingkat inflasi Provinsi NTT sepanjang tahun 2024.
"Untuk tingkat inflasi Provinsi NTT bulan Desember dan keseluruhan tahun 2024 sebesar 0,82 persen (mtm) atau 1,19 persen (yoy) masih di bawah target inflasi nasional, yaitu 2,5 ±1 persen (yoy)," kata Agus
Menurutnya, inflasi utamanya dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau yang memiliki andil terbesar yaitu sebesar 0,87 persen (mtm) dalam pembentukan tingkat inflasi di Provinsi NTT.
"Pada kelompok ini terdapat komoditas strategis seperti beras, bawang merah, cabai rawit, cabai merah dan lain-lain," katanya.
Dia menyebut, adapun faktor yang mempengaruhi harga kelompok ini antara lain, belum optimalnya produktivitas, ketersediaan yang kurang/tidak mencukupi di sepanjang tahun 2024 serta tingginya ketergantungan pemenuhan dari luar Provinsi NTT.
"Peningkatan produksi pertanian menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga inflasi di Provinsi NTT dan sebagai upaya menuju swasembada pangan," ucapnya.
Faktor utama untuk peningkatan produksi, kata dia, diantaranya peningkatan kapasitas petani dalam pengolahan pertanian, kecukupan dan ketepatan ketersediaan sarana dan prasarana produksi (benih dan pupuk) serta pemanfaatan teknologi.
Selain itu, lanjutnya, berdasarkan data BPS 77,41 persen petani masih belum menggunakan teknologi pertanian dalam pengolahan lahan. Lebih lanjut, 44,77 persen lahan sawah pertanian di Provinsi NTT belum menggunakan irigasi sehingga produksi petanian masih merupakan lahan tadah hujan.
"Dalam meningkatkan produktivitas pertanian di Provinsi NTT, Bank Indonesia turut serta dengan pemberian sarana prasarana produksi pertanian kepada kelompok tani, seperti traktor roda 4, hand tractor, sumur bor, transplanter, combine harvester, pupuk, benih dan lainnya," bebernya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kepala-Perwakilan-Bank-Indonesia-Provinsi-NTT-Agus-Sistyo-Widjajati-tengah.jpg)