Sabtu, 11 April 2026

Berita Nasional

Natal Nasional 2024: Komitmen Bersama Melawan Krisis Sosial dan Lingkungan

Ia menyebut toleransi sejati bukan sekadar ucapan, melainkan kesediaan untuk menerima perbedaan dengan hati yang ikhlas.

|
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
Kementrian Agama RI menggelar Seminar Natal 2024, Kamis (19/12). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Apolonia Matilde Dhiu

POS-KUPANG.COM - Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menekankan pentingnya toleransi yang tulus dan mendalam di Indonesia.

Ia menyebut toleransi sejati bukan sekadar ucapan, melainkan kesediaan untuk menerima perbedaan dengan hati yang ikhlas.

Hal ini disampaikan dalam pembukaan Seminar Natal Nasional 2024 di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta Pusat, Kamis (19/12).

Seminar tersebut mengusung tema “Gereja Berjalan Bersama Negara: Semakin Beriman, Humanis, dan Ekologis.”

Dalam sambutannya, Nasaruddin menegaskan bahwa keberhasilan pemuka agama dan Kementerian Agama (Kemenag) tidak hanya diukur dari indikator formal seperti pencapaian administrasi, tetapi dari seberapa jauh mereka mampu mendekatkan umat pada ajaran agama masing-masing.

“Substansi Kementerian Agama dan para tokoh agama adalah seberapa besar kita dapat mendekatkan umat dengan ajaran agamanya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa toleransi sejati membutuhkan keikhlasan yang mendalam, tidak sekadar penerimaan, tetapi juga memberikan tempat dalam hati bagi mereka yang berbeda. “Toleransi sejati adalah kesediaan kita menerima orang yang berbeda dengan tulus, bahkan memberikan tempat dalam hati kita,” tambahnya.

Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2024, Thomas Djiwandono, memperkuat pesan Nasaruddin dengan menekankan pentingnya hubungan sinergis antara gereja dan negara.

Menurutnya, gereja membutuhkan dukungan negara sebagai institusi besar yang memiliki otoritas dan sumber daya, sementara negara membutuhkan arahan moral dari gereja untuk memastikan kebijakan tidak menyimpang.

“Negara perlu mendengar suara gereja yang mewarisi ajaran moral untuk memberikan arah dan batasan bagi kebijakan negara agar tidak tergelincir ke jurang kesewenang-wenangan,” kata Thomas.

Dengan demikian, ia berharap seminar ini dapat menjadi ruang dialog yang konstruktif, memungkinkan gereja dan negara bekerja bersama dalam mengatasi krisis sosial, kemanusiaan, dan lingkungan.

Baca juga: Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI Harap Kembalikan Masa Jaya Pendidikan Katolik

Thomas juga menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi dunia saat ini, seperti kemiskinan, konflik bersenjata, diskriminasi, perdagangan manusia, pencemaran lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

“Krisis ini berdampak tidak hanya pada lingkungan tetapi juga pada kesejahteraan sosial dan manusia,” tegasnya.

Ia menyampaikan, sebagai bagian dari perayaan Natal Nasional 2024, berbagai kegiatan telah digelar, termasuk bakti sosial di berbagai daerah di Indonesia. Aksi ini menjadi wujud nyata komitmen umat Kristiani untuk berjalan bersama pemerintah dalam mengatasi krisis kemanusiaan dan lingkungan. “Berbagai kegiatan telah dilaksanakan oleh panitia, seperti bakti sosial di berbagai daerah,” ujar Thomas. Dalam pandangan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, hubungan antara manusia, agama, dan alam memiliki makna mendalam. Ia menjelaskan, semua agama di Indonesia memiliki prinsip yang sama dalam memahami keberadaan Tuhan sebagai Sang Pencipta. “Semua agama di Indonesia sama, karena dia memahami dari pencipta,” ujarnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved