Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 3 November 2024, "Mengasihi Sesama Seperti Diri Sendiri"

Karena Allah adalah Kasih, Deus Caritas Est , telah mengasihi manusia  secara total, demikian juga manusia beriman hendaknya mengasihi Allah

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE
RD. Florens Maxi Un Bria 

Renungan Harian Katolik, 3 November 2024 
Kasih Orang Beriman
RD. Maxi Un Bria 
Markus 12 : 28b-34

"Mengasihi Sesama Seperti Diri Sendiri"

Keterbukaan untuk mendengarkan dan mengasihi Allah menjadi pilihan utama untuk menjadi bagian dari Kerajaan Allah. Kerajaan Allah berkaitan dengan komitmen, kesetiaan dan keberlanjutan melaksanakan Hukum Cinta Kasih dalam hidup. 

Karena Allah adalah Kasih, Deus Caritas Est , telah mengasihi manusia  secara total, demikian juga manusia beriman hendaknya mengasihi Allah dan sesama dengan sungguh, sebagai bentuk pernyataan iman dan  syukur.

Ahli Taurat  berupaya menguji Yesus dengan pertanyaan "Perintah mana yang paling utama?"

Yesus pun menjawab bahwa perintah yang paling utama dari segala perintah adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan. Perintah yang kedua adalah mengasihi sesama seperti diri sendiri. Untuk memaknai dan melaksanakan  kedua perintah tersebut  dalam hidup maka pertama-tama dibutuhkan  kerelaan dan keterbukaan hati untuk mendengarkan Sabda Allah.

Sebagaimana yang diminta Yesus “Dengarkanlah, Hai Orang Israel” selanjutnya "Kasihilah”;  Jelas Yesus menegaskan bahwa pelaksanaaan perintah utama memberi makna dan pengayaan terhadap identitas diri sebagai orang beriman. Sebab tanpa melaksanakan hukum kasih, kita kehilangan makna  dan identitas diri sebagai insan beriman.

Yesus juga menegaskan bahwa Allah  lebih mengutamakan kasih dari pada korban dalam bentuk apapun. Bagi Yesus, semua tindakan dan korban mesti didasari oleh sikap dan motivasi  hati yang penuh kasih kepada Allah dan sesama.

Dengan melaksanakan hukum kasih, manusia beriman mengalami kebahagiaan, kebaikan, damai sejahtera dan keberlimpahan berkat dalam hidup.

Musa mengingatkan orang Israel bahwa ketaatan dan  kesetiaan kepada hukum Allah akan  membawa kebaikan dan berkat serta kebahagiaan dalam  hidup.

"Dengarkanlah ,hai Orang Israel; Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan Allah, dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan  dengan segenap kekuatanmu! (Ulangan 6 :2-6).

Intinya bahwa setiap perbuatan apa pun dan sebaik apa pun yang dilakukan mesti berlandaskan kesadaran dan penghayatan akan Hukum Cinta Kasih. Tanpa itu, kehilangan makna dan daya.

Bunda Theresa dari Kanak-Kanak Yesus mengatakan "Suatu perbuatan yang paling cemerlang, tanpa cinta, sama sekali tidak berarti“. Atau sebagaimana dikatakan Rasul Paulus "Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang  ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku“ ( 1 Kor 13 :3 ). 

Kesungguhan kasih kepada Allah dan sesama mengantar kita pada kebaikan, damai sejahtera dan kebahagiaan sejati. Kesungguhan kasih membuat hidup menjadi berfaedah dan bermakna bagi Tuhan, sesama dan diri sendiri. Kesungguhan dalam menjiwai dan mengamalkan cinta kasih  menuntun kita kepada kesejatian hidup dan keselamatan. Karena sesungguhnya kasih berasal dari Allah. Bahkan Allah adalah Kasih.

Deus Caritas Est. Kasih kepada Allah dan sesama inklusif. Tidak  sombong,. Juga tidak diskriminatif, menghina, megadili  dan meremahkan. Kasih tidak berkesudahan ! (1 Kor 13 :8 ) dan kasih-lah  yang paling besar pengaruhnya membuat hidup bahagia, sehat  dan sukses ! Salve. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved