Pilgub NTT
Pengamat Politik Unwira Kupang Komentari Rilis Survei Indikator Soal Pilgub NTT
terhadap kandidat, justru cagub simon Petrus Kamlasi unggul tipis 85,3 persen, atas dua cagub lain. Ansy, 84,7 dan Melki 76,3 persen
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Rosalina Woso
Kemudian dilakukan over sample menjadi masing-masing 400 responden di empat Kabupaten/Kota, yakni di Kota Kupang, Kupang, Sumba Timur, dan Timur Tengah Selatan, kemudian di wilayah Manggarai Raya (Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggara Barat) dilakukan penambahan 400 responden. Sehingga total sample sebanyak 2.720 responden.
"Dengan asumsi metode stratified random sampling, ukuran sampel tersebut memiliki toleransi kesalahan (margin of error-MoE) sekitar +2.6 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen," kata Dr Rizka Halida selaku peneliti utama Indikator Politik Indonesia, Rabu 9 Oktober 2024.
Proses itu menggunakan sesi wawancara dan pengecekan 20 persen sampel yang sudah dilaksanakan survei. Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei bertajuk "Siapa Unggul di Nusa Tenggara Timur?", Dinamika Elektoral Pasca-Penetapan Cagub - Cawagub, Rabu sore.
Dalam populasi berdasarkan tingkat pendidikan, terdapat 46,5 persen responden tingkat SD, 14,8 SMP, 23,6 SLTA dan 15,1 perguruan tinggi.
Kemudian populasi di kategori gender, laki-laki 49,2 persen dan 50,8 persen perempuan. Lalu, 82,3 persen populasi di pedesaan dan 17,7 persen di perkotaan.
Pada tingkat usia, populasi umur dibawa 20 tahun sebanyak 11,0 persen dan diatas 60 tahun sebanyak 12,7 persen. Meski begitu, jumlah sampel dan populasi tidak berbeda jauh.
Dr Rizka menjelaskan, kondisi umum banyak warga menilai kondisi ekonomi NTT sedang 39,5 persen dan 14,3 kondisi buruk dan baik 34 persen. Sebanyak 47,8 responden menyebut tidak ada perubahan kondisi ekonomi, namun sebanyak 29,1 menyebut kondisi ekonomi cenderung lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas responden atau 82,1 persen tidak masalah tidak dengan etnis dari paslon. Sedangkan ada 15,5 persen menyatakan memilih karena etnis. Sementara, 2,6 persen tidak menjawab atau tidak tahu.
"Memang tidak etnik di NTT yang sangat dominan. Itu yang menjelaskan mengapa etnik vote itu tidak punya dampak secara elektoral buat warga NTT," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Prof Burhanuddin Muhtadi menambahkan.
Dr Rizka melanjutkan, hal yang sama juga menyangkut dengan sentimen agama. Ada 82,1 persen responden tidak masalah dengan agama dari paslon. Sementara 15,5 responden memilih karena sentimen agama. Sentimen agama, kata dia, tidak begitu berpengaruh pemilih di NTT.
Begitu juga dengan sentimen gender. 51,7 persen responden tidak masalah dengan calon gubernur laki-laki atau perempuan. Kemudian 34,3 memilih calon gubernur laki-laki dan 6,6 persen memilih calon gubernur perempuan.
Pada pertanyaan sentimen gubernur atau wakil gubernur asli NTT, terlihat ada 43,8 persen tidak masalah dengan calon gubernur atau wakil gubernur bukan asli NTT. 32,7 persen responden memilih karena calon itu asli NTT.
Namun, terdapat 16,4 persen responden yang menyebutkan calon gubernur harus orang asli NTT. Sementara, responden yang sama tidak mempermasalahkan calon wakil gubernur bukan asli NTT.
Dalam simulasi top of mind calon gubernur, Yohanis Fransiskus Lema atau Ansy Lema unggul 20,4 persen. Disusul Melki Laka Lena 16,4 persen, Simon Petrus Kamlasi 14,4 persen, Jane Natalia Suryanto 4,3 persen, Andre Garu 3,6 persen dan Johni Asadoma 1,6 persen. Sementara 39, 2 persen responden tidak menjawab atau merahasiakan jawabannya.
"Kami sebagai enumurator tidak menyajikan nama calon gubernur atau wakil gubernur. Jadi betul-betul terserah, apa yang terlintas di pikiran responden yang terpilih secara acak, siapa calon yang mereka pilih," kata Prof Burhanudin Muhtadi.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.