Prakiraan Cuaca
BMKG Ingatkan Manggarai Raya Waspada Hujan Lebat Minggu 29 September 2024, Cuaca NTT Hari Ini
BMKG ingatkan Manggarai Raya Waspada Hujan Lebat Minggu 29 September 2024, Cuaca NTT Hari Ini
Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Adiana Ahmad
POS-KUPANG.COM - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) mengingatkan Wilayah Manggarai Raya yang meliputi Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur waspada hujan lebat hari ini, Minggu 29 september 2024.
Berdasarkan Prakiraan Cuaca NTT Hari Ini, selain hujan lebat ketiga kabupaten itu berpotensi dilanda petir dan angin kencang.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat di tiga daerah itu untuk mewaspada dampak dari hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang tersebut seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, tanah licin dan juga kerusakan atap rumah.
Sementara itu suhu tertinggi di NTT berada pada 31 derajat Celcius.
Suhu terendah terjadi di Bajawa dan Ruteng dengan kisaran 14-24 derajat Celcius.
Baca juga: Peringatan Dini BMKG Cuaca Maritim NTT 27 September 2024, 3 Perairan Ini Berpotensi Gelombang Tinggi
Musim Hujan di NTT Lebih Cepat
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Provinsi Nusa Tenggara Timur ( BMKG NTT ) dalam siaran persnya di Kantor Gubernur NTT, Kamis 27 September 2024, mengatakan, musim hujan di Provinsi NTT diprediksikan terjadi lebih awal.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG NTT mengimbau warga waspada bencana.
“Jika dibandingkan dengan rerata klimatologis, yaitu periode awal musim hujan 1921 sampai 2020, maka awal musim hujan 2024/2025 ini di NTT diperkirakan maju atau lebih cepat dibandingkan dengan normalnya yaitu ada 12 zom atau 39 persen,” kata Kepala BMKG NTT, Rahmattulloh Adji dalam keterangan pers di Kantor Gubernur NTT, Kamis 27 September 2024.
Adji menyebut, dari total 28 jumlah zona musim (Zom) di NTT, ada 1 zom yang diperkirakan akan mengawali musim hujan pada bulan Oktober 2024 yaitu kurang lebih 13 persen diantaranya, Manggarai Barat bagian Timur, Manggarai Tengah dan Manggarai Timur bagian Tengah.
Sementara, lanjutnya, untuk 19 zom atau 68 persen awal musim hujannya pada bulan November 2024, dan 8 zom atau 29 persen terjadi pada Desemeber 2024.
Baca juga: Awal Musim Hujan di NTT Kapan? Ini Penjelasan BMKG
Kemudian, yang diprediksikan sama dengan normalnya atau sama dengan biasanya sekitar 12 zom atau 43 persen, sedangkan yang mundur hanya ada 5 zom sebesar 18 persen.
“Secara umum musim hujan di tahun 2024/2025 ini umumnya di atas normal atau musim hujan yang lebih basah dari rerata, biasanya sekitar 22 zom, sedangkan 6 zom lainnya dalam keadaan normal,” bebernya.
Untuk puncak musim hujan di tahun 2024/2025 di Provinsi NTT, kata Adji, diperkirakan terjadi di bulan Januari 2025 sebanyak 16 zom, selebihnya sekitar bulan Februari.
Lebih lanjut, Adji mengatakan, sebagai rekomendasi, BMKG NTT mengimbau kepada pemerintah, K/L dan instansi terkait serta seluruh masyarakat agar lebih siap dan antisipatif terhadap potensi terjadinya bencana hidrometeorologi selama musim penghujan, terutama di wilayah yang mengalami musim hujan di atas normal atau lebih basah dari biasanya.
“Untuk wilayah yang berpotensi mengalami risiko bencana banjir dan tanah longsor, diharapkan agar pemerintah daerah dan instansi terkait dapat lebih optimal untuk mengedukasi masyarakat tentang cara menghadapi risiko bencana yang berpotensi terjadi selama musim penghujan serta pentingnya memperhatikan peringatan dini,” ujarnya
Dia menambahkan, Pemda dan sektor terkait dapat menjadikan informasi predisksi musim hujan 2024/2025 yang dikeluarkan BMKG sebagai acuan untuk menyusun aksi dalam menekan bencana hidrometeorologi.
“Masyaarakat juga perlu menjaga lingkungan guna menghindari penyakit yang rawan terjadi saat musim penghujan yaitu demam berdarah,” pungkasnya.
Baca juga: 5 Perairan NTT Ini Berisiko bagi Pelayaran Hari Ini, BMKG Sebut Gelombang Tinggi Capai 2,5 Meter
Sementara itu,, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda mengatakan, fenomena iklim El Nino sebelumnya cukup panjang yang berdampak perubahan iklim dan mempengaruhi produksi dan aktivitas pertanian.
”Tentu ini berpengaruh kepada produksi pertanian. Di sisi lain juga kekurangan air yang tersedia untuk menanam tanaman yang cocok," kata dia.
Dia menyebut, dengan antisipasi informasi dari BMKG dapat disampaikan kepada petani terkait kondisi dan edukasi untuk bisa mempersiapkan secara dini terkait kondisi El Nino dan El Nina.
Dia menambahkan, penyuluh dan petugas pertanian juga bergerak bersama mempersiapkan benih bermutu dan berkualitas untuk persiapan menjelang musim hujan.
Selain itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT, Cornelis Wadu pihaknya sudah menyampaikan kepada masyarakat agar bisa menangani kekeringan dengan keterbatasan yang ada.
"Kami difasikitasi 3 titik sumur bor setiap Kabupaten, minus Kota Kupang untuk mengatasi kekeringan yang mana curah hujan itu rendah," kata Cornelis.
Dia menyebut, setiap Kabupaten diberikan 3 titik sumur bor dengan pendanaan sebesar Rp 400 juta sampai Rp 700 juta per titik.
"Saat ini kami sedang berproses untuk antisipasi mengatasi wilayah kekeringan dan konsep bagi masyarakat tani agar masyarakat tidak mengeluh dengan air yang terbatas," bebernya. (*).
Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kali-waigete-yang-yang-terletak-di-desa-Kloangpopot-meluap.jpg)