Kunjungan Paus Fransiskus

Paus Fransiskus Puji Rekonsiliasi Timor Leste-Indonesia, Sejalan dengan Ajaran Injil

Pujian pertama terkait pencapaian warga Timor Leste membangun rekonsiliasi penuh dengan saudara mereka di Indonesia.

Editor: Agustinus Sape
TIZIANA FABI
Paus Fransiskus disambut dua anak kecil yang memberi bunga saat turun dari pesawat di Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato di Dili pada 9 September 2024. 

POS-KUPANG.COM, DILI - Paus Fransiskus secara khusus memuji upaya tekun warga Timor Leste untuk membangun komunitas yang menghormati martabat manusia. Pujian pertama terkait pencapaian warga Timor Leste membangun rekonsiliasi penuh dengan saudara mereka di Indonesia.

Pernyataan Paus Fransiskus itu mengemuka dalam pertemuan yang digelar di Istana Kepresidenan Timor Leste, Dili.

Paus menilai, sikap Timor Leste sejalan dengan ajaran Injil. ”Anda tetap teguh dalam harapan, bahkan di tengah penderitaan. Berkat karakter umat Anda dan iman Anda, Anda telah mengubah kesedihan menjadi sukacita,” tutur Paus di depan Presiden Jose Ramos Horta serta sejumlah pejabat tinggi dan duta besar-duta besar negara sahabat, Senin (9/9/2024).

Setelah pujian terhadap sikap Timor Leste yang teguh dalam harapan, Paus Fransiskus berdoa, semoga Tuhan menganugerahkan keinginan untuk berdamai dan memurnikan ingatan juga dapat menang dalam konflik lain di berbagai belahan dunia. Keinginan itu dapat membalut luka serta mengganti kebencian dengan rekonsiliasi dan pertentangan dengan kerja sama.

Selanjutnya, Paus Fransiskus mengapresiasi adopsi Deklarasi Persaudaraan Manusia dalam dokumen nasional Timor Leste. Deklarasi yang dikenal sebagai Deklarasi Abu Dhabi itu ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Mesir, Ahmed al-Thayeb pada 4 Februari 2019.

Sebagai bagian dari peringatan 20 tahun kemerdekaan, Timor Leste mengadopsi Deklarasi Abu Dhabi dalam kurikulum pendidikan.

 ”Memang, proses pendidikan itu fundamental. Pada saat yang sama, saya mendesak Anda untuk terus dengan keyakinan baru dalam pendirian dan konsolidasi yang bijaksana dari lembaga-lembaga Republik Anda sehingga warga negara dapat merasa bahwa mereka benar-benar terwakili. Lembaga-lembaga itu diperlengkapi dengan baik untuk melayani rakyat Timor Leste,” tutur Paus Fransiskus.

Sosial ekonomi

Di sisi lain, Paus Fransiskus menyoroti situasi sosial-ekonomi di Timor Leste. Paus tampak prihatin dengan fenomena emigrasi di negara itu yang menurut Paus mengindikasikan sulitnya Timor Leste menyediakan pekerjaan dan gaji yang layak untuk warganya.

”Saya juga memikirkan kemiskinan yang ada di banyak daerah perdesaan. Kebutuhan selanjutnya, tindakan kolektif dan luas yang melibatkan berbagai upaya dan pemimpin dari semua sektor sipil, agama, dan sosial untuk mengatasinya dan menawarkan alternatif yang layak untuk emigrasi,” tuturnya.

Salah satu fenomena sosial lain yang juga disoroti Paus adalah maraknya geng yang berbasis seni bela diri. Menurut Paus, geng-geng semacam itu justru menghancurkan martabat kaum remaja. Alih-alih menggunakan pengetahuan ini untuk melayani yang tak berdaya, mereka menggunakannya sebagai kesempatan untuk menunjukkan kekuatan kekerasan yang cepat berlalu dan berbahaya.

”Menanggapi hal ini (maraknya geng), kita semua dipanggil untuk melakukan segala yang mungkin untuk mencegah segala jenis pelecehan dan menjamin masa kanak-kanak yang sehat dan damai bagi semua kaum muda,” kata Paus.

Baca juga: Paus Fransiskus Disambut Bak Bintang Rock di Timor Leste

Untuk menjawab persoalan-persoalan itu, termasuk mengelola sumber daya alam yang dimiliki, Paus Fransiskus menawarkan kepada Timor Leste agar mempersiapkan dengan baik dan memberikan pelatihan yang tepat bagi mereka yang akan dipanggil untuk menjadi pemimpin negara.

Gereja, menurut Paus, menawarkan doktrin sosial sebagai landasan bagi proses persiapan dan pelatihan. ”Hal itu merupakan pilar yang sangat diperlukan serta dapat dipercaya untuk membangun berbagai pendekatan. Selanjutnya, pendekatan itu perlu diverifikasi apakah benar-benar mendukung pembangunan integral atau malah menjadi hambatan yang menghasilkan ketidaksetaraan yang tidak dapat diterima. Jika terjadi ketidaksetaraan, sejumlah besar orang yang dibuang atau ditinggalkan di pinggiran,” kata Paus Fransiskus menambahkan.

Beribadah bersama

Paus Fransiskus dijadwalkan akan memimpin misa akbar di Lapangan Tasitolu, Timor Leste, Selasa (10/9/2024). Sejumlah warga negara Indonesia dari Nusa Tenggara Timur sudah melewati perbatasan negara dan menginap di mes yang disediakan Pemerintah Timor Leste.

Dia merinci, persiapan koordinasi untuk kedatangan warga NTT di Timor Leste sudah berlangsung sejak enam bulan lalu. Koordinasi melibatkan Pemerintah Provinsi NTT di perbatasan, Kementerian Agama, Kepolisian Negara RI, Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, serta pimpinan pemerintahan dan keuskupan di Timor Leste.

(kompas.id)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved