Sabtu, 25 April 2026

Opini

Opini: Tantangan Bagi Seorang Sarjana dalam Menciptakan Lapangan Kerja

Hidup di zaman modern, yaitu ditandai dengan zaman persaingan tenaga kerja yang kompetitif di lembaga pemerintahan maupun swasta. 

Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
Pdt. Frans Nahak, M.Th salah satu wisudawan UKAW Kupang 

Oleh: Pdt. Frans Nahak, M.Th 

(Catatan Refleksi Wisuda Sarjana ke-68 dan Pascasarjana ke-23 UKAW Kupang)

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Peristiwa wisuda merupakan sebuah peristiwa prosesi wisuda yang menandai kesuksesan dalam salah satu tahapan proses pendidikan generasi muda yang menempuh pendidikan.

Salah satu tahapan pendidikan adalah keberhasilan menyelesaikan tahapan pendidikan tinggi, bukan satu-satunya tahapan yang menentukan tinggi/rendahnya kualitas sumber daya manusia bagi kemajuan bangsa. 

Hari Jumat, 6 September 2024 Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, melangsungkan Wisuda Sarjana ke-68 dan Pascasarjana ke-23 bagi 501 orang mahasiswa.

Kita patut berbangga karena seorang siswa/i sukses menyelesaikan tahapan pendidikan tinggi. Tentu saja kesuksesan itu membutuhkan proses yang panjang, dan proses itu telah dilalui oleh para wisudawan dan wisudawati.

Setiap tahun  Perguruan Tinggi (PT), baik itu negeri maupun swasta yang tersebar di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) memproduksi para sarjana.

Harapan kita adalah semakin banyak warga NTT yang menjadi sarjana, berdampak pada sumber daya manusia di daerah ini.

Namun yang menjadi persoalan adalah, apakah para sarjana yang dihasilkan oleh PT mampu dan mau menciptakan lapangan kerja sesuai dengan bidang keahlian mereka? Ataukah menambah masalah, yaitu kemiskinan sarjana/intelektual karena menunggu pekerjaan.

Misalnya, kapan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS)? Atau mengharapkan belas kasihan pihak lain, baik pemerintah maupun swasta, untuk memberikan pekerjaan, dengan tetap bergantung pada hasil keringat orang tua? Masyarakat kita masih memiliki pola pikir bahwa seseorang dikatakan berhasil bila telah menjadi PNS, jadi tujuan sekolah untuk menjadi PNS.

Bagi saya pola pikir seperti ini pola pikir tradisional, belum modern. Mengapa? 

Hidup di zaman modern, yaitu ditandai dengan zaman persaingan tenaga kerja yang kompetitif di lembaga pemerintahan maupun swasta. 

Modernisasi membutuhkan orang-orang yang berperan dalam masyarakat. Manusia modern melihat sesuatu (masa depan) bukan sesuatu yang ditentukan oleh adat, nasib atau alam tetapi sebagai sesuatu yang diatur oleh manusia menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka sebagai seorang sarjana, harus terlibat di dalamnya agar tidak ketinggalan.

Baca juga: Rektor UKAW Kupang Godlief Neonufa Paparkan Prestasi Wisudawan, Ini Daftarnya

Jangan menunggu atau mengharapkan belas kasihan dari pihak lain karena akan memunculkan pengangguran sarjana.

Kebanyakan dari para sarjana ingin tinggal di kota dan hidup dari belas kasihan dan hasil keringat orang tua di desa yang tidak menganggur yang justru tidak bersekolah, tidak punya ijazah dan tidak punya gelar. Para sarjana malu pulang ke desa dan mengerjakan pekerjaan orang tua yang dikerjakan setiap hari, karena pekerjaan itu tidak cocok dengan pendidikan, keahlian dan sarjana mereka. Inilah sebuah ironi kehidupan. Orang tidak punya kerja karena sekolah tinggi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved