Berita Timor Tengah Utara
Dialiri Listrik, Warga Kampung Bah'eka Haumeni Ana Sampaikan Terima Kasih
Salah satu faktor mendasar mereka kesulitan memperoleh fasilitas listrik karena kondisi wilayah mereka yang cukup terisolir.
Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Warga Kampung Bah'eka (Dusun IV) Desa Haumeni Ana, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Raymundus Oki (43) menyampaikan terima kasih kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur UP3 Kupang dan Unit Layanan Pelanggan (ULP) Kefamenanu yang telah memasang instalasi listrik menuju ke wilayah tersebut.
Raymundus mengaku bahagia. Pasalnya di usai paruh baya ini bisa menikmati listrik di tanah kelahirannya. Sebagai ketua RT 12, Raymundus menyebut sebanyak sebanyak 34 kepala keluarga yang berdomisili di RT 12 dengan total sebanyak 103 jiwa.
Ia mengisahkan, sebelum instalasi listrik masuk ke wilayah itu, mereka menggunakan pelita dan obor sederhana yang dibuat dari biji pohon damar sebagai sarana penerangan. Hal ini mengurangi pengeluaran membeli minyak tanah.
"Satu bilah obor bisa dimanfaatkan dalam kurun waktu 30 menit. Oleh karena itu, dalam semalam masyarakat bisa membutuhkan sebanyak 12 sampai 24 obor sederhana tersebut untuk menerangi aktivitas mereka di malam hari,"ujarnya, Minggu, 25 Agustus 2024.
Menurut Raymundus, harga Minyak tanah di Kampung Bah'eka Rp. 10.000 per liter. Demi mengurangi pengeluaran, mereka terpaksa menjadikan obor yang dibuat dari biji pohon damar menjadi pilihan utama.
Meskipun memiliki handphone android maupun senter yang dialiri tenaga listrik, warga sangat kesulitan mengoperasikannya. Pasalnya, mereka wajib merogoh kantong pribadi untuk mengecas handphone dan senter listrik.
Handphone dan senter ini dicas di rumah warga yang berada di wilayah induk Desa Haumeni Ana. Biaya sekali cas Rp. 5000 untuk sebuah peralatan elektronik. Jika setiap hari masyarakat memiliki 2 perangkat elektronik untuk dicas maka, dalam sebulan mereka harus mengeluarkan biaya mengecas perangkat elektronik sebesar Rp. 300.000.
Sebelumnya, instalasi listrik hanya dipasang di rumah warga yang berdomisili di jalan negara yang melintas di jantung Desa Haumeni Ana. Sedangkan, wilayah dusun terisolir seperti Kampung Bah'eka tidak dialiri listrik.
Salah satu faktor mendasar mereka kesulitan memperoleh fasilitas listrik karena kondisi wilayah mereka yang cukup terisolir.
Meskipun berada di wilayah Desa Haumeni Ana namun, Kampung Bah'eka dan Obekilo berjarak sekitar 2 hingga 3 kilometer dari pusat pemerintahan desa dan pemukiman warga lainnya.
Ia mengaku bersyukur dengan instalasi listrik yang telah masuk ke wilayah mereka. Warga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat, PLN, dan Kementerian ESDM yang telah memberikan perhatian khusus kepada warga Kampung Bah'eka dan masyarakat di wilayah perbatasan pada umumnya. Sebagai wajah terdepan NKRI, warga setempat mengaku bangga telah menerima fasilitas yang sama dengan warga negara di belahan wilayah Indonesia yang lain.
Sementara itu, Kepala Desa Haumeni Ana, Siprianus Asuat menuturkan, sebanyak 1200 jiwa yang berdomisili di Desa Haumeni Ana dengan total 320 kepala keluarga. 98 persen masyarakat desa setempat bermatapencaharian sebagai petani. 8 kepala keluarga merupakan ASN.
Warga RT 12 yang sudah dialiri listrik sebanyak 56 kepala keluarga. Meskipun demikian, berdasarkan data validnya sebanyak 60 kepala keluarga yang berdomisili di Kampung Bah'eka dan Obekilo. Namun, ada beberapa rumah yang ditempati 2 kepala keluarga.
Pemerintah desa telah mengajukan proposal permohonan untuk pembangunan instalasi listrik ke wilayah tersebut beberapa tahun lalu. Namun, tepat pada Bulan Juni tahun 2024 ini harapan masyarakat terjawab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Tiang-Listrik-di-Desa-Haumeni-Ana.jpg)