Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Minggu 17 Agustus 2024, “Gambar dan Tulisan Kaisar”
Belanda ditukar dengan rumah lain di Jalan Lembang. Jadi rumah itu memang disiapkan Jepang untuk Bung Karno.
Oleh: Bruder Pio Hayon,SVD
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Minggu 17 Agustus 2024, “Gambar dan Tulisan Kaisar”
Hari Sabtu Biasa Pekan XIX
Sabtu,17 Agustus 2024, Hari Kemerdekaan RI
Bacaan I:Sir. 10:1-8
Bacaan II: 1Ptr. 2:13-17
Injil: Matius 22:15-21
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Salam damai sejahtera untuk kita semua.Gambar dan tulisan adalah juga bagian tak terpisahkan dari sebuah simbol bagi satu bangsa atau negara atau juga satu kelompok tertentu atau bahkan setiap kita juga punya satu gambar atau tulisan yang menjadi simbol dari kita sendiri.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 14 Agustus 2024, "Makin Besar Iman, Makin Besar Cobaan"
Mengapa? Karena dibalik gambardan tulisan itu langsung berhubungan dengan satu ciri khas tertentu yang miliki oleh setiap bangsa atau kelompok atau diri seseorang. Gamba dan tulisan itu langsung mewakili diri atau kelompok atau bangsa tertentu.
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Hari ini adalah hari spesial bagi bangsa dan negara kita karena kita merayakan hari kemerdekaan kita. Saat di mana bangsa kita mermproklamasikan kemerdekaan yang dilakukan oleh Soekarno dan Hatta.
Sebagai satu sejarah dapat diringkas demikian: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 tahun Masehi, atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang (kōki) (17 Agustus Shōwa 20 dalam penanggalan Jepang itu sendiri) pukul 10:00 waktu Jepang, yang dibacakan oleh Soekarno dengan didampingi oleh Mohammad Hatta di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat.Chairul Basri, yang bekerja pada kantor propaganda Jepang, disuruh mencari rumah yang berhalaman luas.
Rumah Pegangsaan Timur 56 milik orang Belanda ditukar dengan rumah lain di Jalan Lembang. Jadi rumah itu memang disiapkan Jepang untuk Bung Karno.
Chairul tidak menyebut nama pemilik rumah itu. Saat diambil alih pemerintah Jepang untuk Sukarno, rumah itu milik Mr. Jhr. P.R. Feith seperti disebut Kwee Kek Beng, pemimpin redaksi koran Sin Po dari 1925 sampai 1947, dalam Doea Poeloe Lima Tahon Sebagi Wartawan, 1922–1947 (1948).Dari pemberitaan di koran Sin Po 5 Juli 1948 diketahui bahwa rumah tersebut merupakan rumah bersejarah bagi bangsa Indonesia karena menjadi tempat diproklamasikannya kemerdekaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pio-Hayon-Bruder_04.jpg)