Liputan Khusus
Lipsus - Petani Garam Khawatirkan Akses Pasar Garam Sabu Raijua
Hasil produksi ini biasanya ditukar dengan padi atau jagung. Jarang sekali menggunakan uang.
POS-KUPANG.COM, SEBA - Novita Wadu, warga Desa Dainao, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua sejak kecil sudah menjadi petani garam. Satu-satunya mata pencaharian turun-temurun keluarganya adalah petani garam.
Terhitung puluhan tahun Novita menjadi petani garam, setiap hari sejak pukul 05.00 Wita dirinya sudah mulai membuat garam dengan peralatan sederhana dan tradisional.
Masyarakat Sabu Raijua biasanya menggunakan daun lontar dan kima (kerang mutiara) raksasa pengganti geomembran untuk memproduksi garam lokal. Biasanya produksi garam ini untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Jika melebihi kebutuhan konsumsi, mereka menjual dengan sistem barter.
"Biasa hasil sekali panen tidak sampai satu ton. Untuk kebutuhan sepanjang satu tahun," kata Novita.
Sejak 2020 dari hasil jualan garamnya, Novita pelan-pelan beralih dari kima dan daun lontar ke geomembran yang dibelinya sendiri. Kemudian pada tahun 2023 ia mendapat bantuan dari pemerintah Desa Dainao.
"Beli geomembran dari toko. untuk bantuan dari pemerintah baru bulan ini," ujarnya pada Kamis (8/8).
Hasil produksi ini biasanya ditukar dengan padi atau jagung. Jarang sekali menggunakan uang. Biasanya dari Desa Dainao ia berangkat ke Seba sebagai salah satu pusat keramaian di Sabu Raijua untuk berjualan keliling memikul garam-garam ini menggunakan pelepah tuak atau lontar.
"Jual garam pakai rantang. Satu rantang biasanya Rp10 ribu kalau ditukar, satu karung padi ditukar dengan satu karung garam," jelas Novita.
Sejak menggunakan geomembran, Novita memproduksi garam di atas lahan seluas 20 x 30 meter. Dalam satu bulan, ia bisa dua kali produksi garam selama musim panas terhitung sejak Juni hingga Oktober. Artinya, dalam satu tahun, ia sepuluh kali produksi garam.
Pada tahun ini juga, Novita menjadi salah satu petani garam yang mendapat bantuan dari pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dalam program Garam Semesta atau Mongehi Semesta dalam bahasa Sabu. Tentu program ini berdampak baik dalam produksi garam yang perlahan beralih dari kima dan daun lontar ke geomembran.
Desa Dainao menjadi salah satu desa yang dicanangkan produksi Mongehi (Garam) Semesta, industri garam skala rumah tangga yang didatangi Bupati Sabu Raijua, Drs. Nikodemus N. Rihi Heke M.Si, didampingi Kepala Dinas PMPTSP Sabu Raijua Lagabus Pian.S.Sos, bersama jajaran pada Sabtu, 3 Agustus 2024.
Seperti Ruben Rohi, petani garam di desa Dainao mengatakan program Garam Semesta ini berdampak baik dan mendukung petani garam di Desa Dainao. Sebab, garam menjadi lahan empuk mereka mengais rezeki sejak dulu.
Kendati demikian, ia mengaku was-was dengan keterbatasan mengakses pasar garam saat ini. Jika sejak dulu dengan sistem barter, ia menilai lebih mudah menjual garamnya namun saat ini sistem barter semakin berkurang di Sabu Raijua.
"Jadi kami mau kerja banyak juga, pikiran. Kemarin bagi geomembran, bupati keluarkan pernyataan kalau produksi garam banyak, nanti bisa bekerja sama dengan Pemda. Untuk usaha sekarang, kita siap kerja banting tulang. Intinya pemerintah bertanggung jawab dengan pernyataan yang sudah dikeluarkan," ujar Ruben penuh harap.
Ia berharap banyak dengan adanya bantuan geomembran ini karena masih banyak harapan ke Pemda agar bisa mengakomodir semua masyarakat di Dainao karena Sarai ini sudah disalurkan geomembran kepada 60 Kepala Keluarga (KK) dari total pengajuan 127 KK.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Seorang-ibu-petani-garam-mandiri-memikul-haik-dari-geomembran.jpg)