Selasa, 7 April 2026

Berita NTT

Lokakarya Perlindungan Sosial Adaptif terhadap Perubahan Iklim di NTT

Lokakarya ini menyoroti pentingnya perlindungan sosial adaptif untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat menghadapi risiko-risiko ini.

Penulis: Ray Rebon | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/RAY REBON
Suasana kegiatan lokakarya yang digelar oleh Resilience Development Initiative (RDI) di Kupang. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Langkah signifikan diambil dalam menghadapi perubahan iklim di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan diadakannya lokakarya bertajuk "Menuju Masyarakat Tangguh di Masa Depan: Perlindungan Sosial yang Adaptif terhadap Perubahan Iklim" di Kupang

Acara ini mengumpulkan ahli, akademisi, pemerintah, dan masyarakat bertempat di Hotel Swiss Belcourt Kupang pada, Senin 5 Agustus 2024. 

Acara ini juga, untuk menghasilkan rekomendasi strategis memperkuat sistem perlindungan sosial di NTT.

Lokakarya ini merupakan bagian kedua dari tiga workshop advokasi. Workshop pertama digelar di Jakarta pada 17 Juli 2024, dan workshop ketiga dijadwalkan di Sumba Timur pada 7 Agustus 2024.

Provinsi NTT, dengan kondisi geografis dan sosial-ekonomi yang unik, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Sumba Timur, misalnya, telah mengalami berbagai krisis seperti Siklon Seroja, kekeringan, hama belalang, hama tikus, malnutrisi, stunting, dan kemiskinan ekstrem.

Lokakarya ini menyoroti pentingnya perlindungan sosial adaptif untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat menghadapi risiko-risiko ini.

Riset Konsorsium KONEKSI adalah kolaborasi antara berbagai lembaga penelitian, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil, didanai oleh Pemerintah Australia melalui Program KONEKSI. 

Riset ini dilaksanakan oleh Resilience Development Initiative (RDI) bersama Charles Darwin University, Habitat for Humanity Indonesia, The Prakarsa Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Kristen Wira Wacana, dan Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC).

Tujuannya adalah mengeksplorasi dan mengembangkan strategi efektif menghadapi perubahan iklim dan meningkatkan ketangguhan masyarakat melalui pendekatan holistik dan inklusif.

Lokakarya ini dibuka oleh Wakil Direktur RDI, Hoferdy Zawani, yang menekankan pentingnya riset ini dan Dr. Elcid Li, anggota tim peneliti, memberikan gambaran tentang urgensi perlindungan sosial yang adaptif. 

Acara resmi dibuka oleh Kepala Bappenda Provinsi NTT, Dr. Ir. Alfonsus Theodorus, yang menyoroti hubungan erat antara perubahan iklim dengan kerentanan masyarakat NTT, terutama dalam isu kemiskinan dan stunting.

Baca juga: Masyarakat Flores Timur Dialog Perubahan Iklim, Curhat Gagal Tanam dan Panen

Para peneliti terkemuka, seperti Dr. Maklon Killa (Unkriswina), Dr. Victoria Fanggidae (The PRAKARSA), dan Dr. Elcid Li (IRGSC), mempresentasikan temuan riset mereka.

Dr. Maklon mengulas alternatif untuk meningkatkan adaptasi rumah tangga terhadap perubahan iklim, sementara Dr. Victoria Fanggidae menyoroti potensi integrasi berbagai bentuk perlindungan sosial dari program pemerintah, inisiatif NGO, bank, koperasi, dan masyarakat. 

Dr. Elcid Li menegaskan perlunya skema pembangunan sosial dan biosecurity untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved