Berita Sabu Raijua
BPBD Kabupaten Sabu Raijua Usulkan 46 Sumur Bor Siaga Darurat
Kita mengusulkan 46 sumur bor untuk siaga darurat yang terjadi sepanjang masa sehingga kerjanya bertahap
Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema
POS-KUPANG.COM, SEBA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sabu Raijua (Sarai) mengusulkan 46 sumur bor untuk siaga darurat musim kemarau di Sabu Raijua.
Kabupaten Sabu Raijua terdiri dari enam kecamatan. Lima kecamatan tersebar di pulau Sabu (Sabu besar) dan 1 kecamatan di Pulau Raijua yakni kecamatan Raijua.
Dari keenam kecamatan ini memiliki karakteristik wilayah yang berbeda. Begitu pun cadangan airnya yang berbeda-beda setiap desa di kecamatannya.
Kepala BPBD Sabu Raijua, Javid Ndu Ufi menyebutkan, beberapa lokasi desa kering yang terdapat di beberapa kecamatan di Sabu Raijua.
Baca juga: Jadwal Kapal Ferry ASDP Kupang NTT Jumat 26 Juli 2024, KMP Uma Kalada Kupang-Sabu-Raijua-Waingapu PP
Kecamatan Hawu Mehsra terdapat 10 desa yang harus di survei kepastian adanya sumber air. Kemudian Kecamatan Liae banyak desabyang kering, dan di Sabu Barat terdapat 9 desa kering dan 9 desa yang dekat dengan air.
Seperti di desa Ledeana, Kecamatan Sabu Barat dan sekitarnya lebih mudah mendapatkan air bersih, berbeda dengan desa di dataran tinggi. Walaupun masyarakat Ledeana membeli air bersih namun harganya lebih murah jika dibandingkan dengan desa di dataran tinggi. Misalnya, harga air bersih per tangki di Ledeana kisaran Rp00-Rp250 ribu tetapi desa di dataran tinggi harus Rp300 ribu per tangki.
"Kita mengusulkan 46 sumur bor untuk siaga darurat yang terjadi sepanjang masa sehingga kerjanya bertahap,"ujarnya pada Sabtu, 27 Juli 2024.
Untuk diketahui, selama ini untuk mendapatkan air bersih, masyarakat Sabu Raijua menggunakan sumur gali sebagai sumber mata air. Air ini pun digunakan untuk dikonsumsi, MCK dan juga untuk kebutuhan pertanian dengan menggunakan mesin pompa air.
Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sabu Raijua, Rubenson E Rihi mengatakan, dari sisi indeks kualitas air di wilayah Sabu Raijua tahun 2023 sebesar 50,00. Artinya, wilayah Sabu Raijua memiliki mutu air yang setengah baik.
Oleh karena itu, perlu intervensi program penghijauan pada lahan terbuka. Sehingga kalau ada hutan atau vetesi yang lebat maka daya simpan air tanah bisa lebih baik di kemudian hari.
Menurut Ruben, persoalan ini bukan hanya persoalan manusia dengan aktivitasnya saja tetapi juga memang kondisi lingkungan alam yang berat membutuhkan perhatian dan penanganan yang spesifik. Sabu tidak bisa disamakan dengan kondisi wilayah lain, ini sudah berlangsung lama apalagi diperparah dengan pola usaha peternakan yang lepas bebas menyebabkan tanaman yang tumbuh untuk menghijaukan lahan, mati dimakan hewan ternak.
Dengan pola peternakan tradisional seperti ini, tidak intensif atau semi intensif menyebabkan kerusakan lingkungan terus terjadi.
Khusus untuk penyediaan air di Sabu, pemerintah sudah membangun embung kecil, embung besar, dan jebakan-jebakan air yang sudah dikerjakan banyak, dan masih dibutuhkan anggaran lagi untuk penanganan lingkungan menjadi lebih baik.
Air tersedia hanya sampai pada bulan Juni sedangkan pada periode Juli sudah mulai kering dan air baku menjadi berkurang. Sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini berpengaruh nyata terhadap aktifitas masyarakat.
Persoalan lingkungan hidup cukup kompleks ada banyak kontribusi dari seluruh masyarakat yang berpengaruh nyata karena itu butuh dukungan masyarakat dengan pola kehidupan sosial budaya yang peduli terhadap kelestarian alam. (dhe)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.