Berita Sabu Raijua
Pola Perilaku Masyarakat Sebabkan Antrean BBM di Sabu Raijua
Sehingga kerap kali terjadi penumpukan antrean sepanjang hari. Khusus BBM subsidi juga tidak bisa didistribusikan melalui mekanisme lain.
Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema
POS-KUPANG.COM, SEBA - Pola perilaku masyarakat Sabu Raijua menjadi salah satu faktor penyebab antrean panjang setiap hari di sejumlah SPBU yang ada di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Perindustrian dan Perdagangan, Lagabus Pian mengatakan, pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) di Sabu Raijua sesuai ketentuan dan aturan BPH Migas, distribusi harus melalui satu pusat penyalur yaitu melalui dua SPBU yang ada.
Sehingga kerap kali terjadi penumpukan antrean sepanjang hari. Khusus BBM subsidi juga tidak bisa didistribusikan melalui mekanisme lain.
Penyaluran satu pintu ini tentu menjadi sulit diakses oleh masyarakat yang jauh dari titik lokasi SPBU seperti di desa-desa yang jaraknya puluhan kilometer dari pusat SPBU di ibukota kabupaten Sabu Raijua. Kondisi ini memicu peluang usaha bagi masyarakat Sabu Raijua untuk menjual BBM eceran baik yang subsidi maupun nonsubsidi.
Pola perilaku masyarakat ini yang harusnya juga menjadi perhatian khusus baik oleh masyarakat itu sendiri, pemerintah, pengelola SPBU maupun Pertamina. Kalau lemah di pemerintahan, lemah di kepolisian mereka akan terus melakukan antrean untuk melakukan penjualan kembali.
"Itu dilarang sehingga kasihan juga nanti kalau kena operasi, bermasalah. Perilaku masyarakat ini juga yang perlu diubah supaya tidak memperdagangkan BBM subsidi," ujar Lagabus Pian Sabtu, 6 Juli 2024.
Menurut Gab, jika masyarakat ingin berdagang, sebaiknya menjual BBM nonsubsidi agar tidak melanggar ketentuan. Sehingga antrean berulang-ulang di SPBU bukan untuk dijual kembali.
"Kadang satu orang bawa lebih dari satu motor sampe delapan motor pergi antre. Itu yang memang sulit dikendalikan karena ketentuan satu motor berhak untuk dapat. Satu orang pakai banyak motor, orangnya berulang-ulang, motornya diganti-ganti. Itu pola spekulan yang terjadi di sabu seperti itu," katanya.
Baca juga: BBM Subsidi Tak Jadi Solusi Bagi Masyarakat Desa di Sabu Raijua NTT
Tetapi secara umum, kondisi ini sudah terkendali dan perlu pembenahan kembali. Dengan harapan pihak Pertamina dan pengelola SPBU bisa mengoptimalkan penyaluran. Ketika terjadi kekosongan BBM untuk estimasi sepuluh hari, seharusnya kapal berangkat sehingga dalam dua sampai tiga hari SPBU sudah terisi kembali tanpa harus menunggu sampai BBM habis.
"Begitu BBM habis, masyarakat ribut. Kasihan juga masyarakat yang harus antre habiskan waktu meninggalkan aktivitas hanya untuk mendapatkan BBM," ujarnya. (dhe)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Antrean-kendaraan-di-SPBU-Roboaba-Sabu-Barat-Kabupaten-Sabu-Raijua.jpg)