Hari Keluarga Nasional
Kualitas Keluarga di Indonesia Rendah Meski Tingkat Kebahagiaan Cukup Tinggi
Tingkat kualitas keluarga di Indonesia masih rendah. Hal itu terlihat dari indeks pembangunan keluarga yang belum optimal.
POS-KUPANG.COM, SEMARANG - Keluarga merupakan unit terkecil dari negara. Kualitas suatu negara akan dipengaruhi oleh kualitas setiap keluarga di dalamnya. Namun, sayangnya, kondisi keluarga di Indonesia kini masih rapuh, terutama tingkat kemandirian dan ketenteraman keluarga masih rendah dan angka perceraian yang tinggi.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menuturkan, tingkat kualitas keluarga setidaknya dapat dilihat dari hasil indeks pembangunan keluarga. Indeks tersebut meliputi tiga indikator utama, yakni ketenteraman, kemandirian, dan kebahagiaan.
Indeks kebahagiaan keluarga Indonesia pada 2023 mencapai 71,86 persen, ketenteraman sebesar 59,79 persen, dan indeks kemandirian sebesar 52,49 persen.
”Ini menunjukkan bahwa keluarga-keluarga di Indonesia, meskipun belum punya kemandirian yang baik, masih miskin, tetapi bahagia,” ujarnya dalam acara puncak Hari Keluarga Nasional ke-31 di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (29/6/2024). Hari Keluarga Nasional tahun ini mengusung tema ”Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas”.
Jawa Tengah menjadi salah satu daerah yang mencapai indeks pembangunan keluarga yang cukup tinggi. Indeks pembangunan keluarga di Jawa Tengah mencapai 62,92 persen, lebih tinggi dari indeks nasional sebesar 61,39 persen.
Penjabat Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana mengungkapkan, upaya meningkatkan dimensi kemandirian keluarga di Jateng, salah satunya, dilakukan dengan meminimalkan kemiskinan ekstrem dan mengendalikan laju inflasi. Peningkatan kualitas keluarga juga akan dilakukan dengan menurunkan prevalensi stunting atau tengkes.
”Kami juga akan menekan perkawinan dini, menekan kasus-kasus perceraian pada keluarga, dan mengupayakan kesehatan mental masyarakat,” kata Nana.
Hasto mengatakan, terdapat beberapa aspek yang dilihat pada setiap indikator pembangunan keluarga tersebut. Pada indikator kebahagiaan keluarga, antara lain, dilihat bagaimana tingkat interaksi antar-anggota keluarga setiap hari, pengasuhan anak yang dilakukan bersama, rekreasi bersama, serta kesertaan dalam kegiatan sosial.
Sementara indikator kemandirian diukur dari kepemilikan sumber penghasilan, makanan yang beragam, rumah yang layak, kepemilikan tabungan, anak yang tidak putus sekolah, serta akses media daring.
Pada indikator ketenteraman, antara lain, terkait pelaksanaan ibadah, kepemilikan akta nikah, kepemilikan jaminan kesehatan, konflik dalam keluarga, serta tingkat perceraian.
Menurut Hasto, ketiga indikator tersebut dapat menjadi acuan dari setiap daerah untuk melakukan intervensi dalam upaya peningkatan kualitas di setiap keluarga. Intervensi yang dilakukan pun harus mendasar dan menyasar pokok persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
Di era modern saat ini, berbagai tantangan yang harus dihadapi semakin berat. Ikatan setiap anggota keluarga semakin rapuh. Daya ikat antar-anggota keluarga juga kian melemah.
Menurut dia, di era disrupsi, di mana masyarakat semakin banyak menggunakan gawai, independensi setiap anggota keluarga semakin kuat. Mereka tidak lagi memiliki ketergantungan dengan orangtua serta kakak dan adik. Selain itu, tingkat egoisme juga berkembang.
”Di lain sisi, dalam satu keluarga juga bisa terdiri dari beragam generasi, mulai dari generasi baby boomer, milenial, generasi Z, dan generasi alfa. Pola komunikasi yang berbeda membuat ikatan bisa semakin rapuh,” katanya.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyampaikan, kualitas keluarga dapat menggambarkan kualitas sebuah negara. Persoalan yang terjadi di dalam keluarga dapat menunjukkan pula persoalan di sebuah negara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/kehidupan-keluarga-04.jpg)