Berita NTT
Program BISA Jadi Modal Untuk Cegah Stunting di NTT
Acting Director of Health and Nutrition Indonesia Save the Children, Aduma Lestari Situmorang mengatakan, isu stunting menjadi perhatian serius
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Eflin Rote
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Program Better Investment for stunting (BISA) yang dijalankan organisasi berbasis gizi Nutrition International bersama dengan Save the Children di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi modal pencegahan stunting lebih luas.
Diketahui, program bisa dijalankan dua lembaga itu di Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Utara (TTU) sejak tahun 2019 lalu. Berbagai upaya, terutama pola perilaku menjadi fokus utamanya.
Acting Director of Health and Nutrition Indonesia Save the Children, Aduma Lestari Situmorang mengatakan, isu stunting menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Dari sisi program, kata dia, memang terdapat keterbatasan.
"Tetapi, investasi sudah dilakukan dalam hal ini, investasinya berbentuk pendekatan, inovasi. Inilah yang menjadi capital, modal bagi Provinsi NTT dalam hal ini," kata dia, Jumat 7 Juni 2024.
Lestari Situmorang bilang, dengan pelatihan maupun aksi lainnya yang sudah dikerjakan, menjadi sumber daya tentu menjadi bekal. Investasi program BISA itu paling tidak membantu pemerintah untuk dijalankan lebih masif.
"Inti dari semua sebenarnya perubahan perilaku. Ada komitmen berubah, sehingga pendekatan yang kita lakukan, ini harusnya menjadi modal," kata dia.
Dalam perjalanan program itu dilaksanakan, ditemukan perubahan perilaku dari masyarakat di dua daerah itu. Hal itu terlihat dari intervensi dana desa yang ikut berperan untuk membantu program posyandu dan lainnya.
Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan Manusia, Bappeda Provinsi NTT Esron M. Elim mengatakan, program yang dijalankan pada dua kabupaten itu akan menjadi nilai untuk dua kabupaten dan berdampak ke kontribusi Provinsi.
Ia memaklumi ada keterbatasan dari para pihak yang menjalankan program BISA. Dia sepakat ada legasi yang ditinggalkan dan menjadi modal. Perubahan perilaku, kata dia, tentu merujuk pada edukasi yang dilakukan berdasarkan budaya ditempat masing-masing.
"Modal ini harus kita punya data. Kita harapkan pelatihan (dan menjadi modal) itu bisa ditransfer. Ilmu yang dia dapat sedapat mungkin orang lainnya juga mendapat itu," kata dia.
Regional Communication Manager Nutrition International Jigyasa Nawani saat melaporkan progres program tersebut di Kupang, Kamis, dalam acara jumpa dengan media di Kupang usai pertemuan dengan pemerintah dan pihak terkait, menyebutkan dua kabupaten itu adalah Kupang dan juga Timor Tengah Utara (TTU).
"Program ini mencakup intervensi yang terbukti memberikan dampak besar selama 1.000 hari pertama kehidupan, dari masa kehamilan hingga anak mencapai usia dua tahun, serta masa remaja (10-19 tahun)," katanya.
Program ini juga telah berjalan sejak tahun 2019 sampai dengan 2024 dengan hasil yang positif untuk mendukung program mengatasi masalah stunting di NTT.
Baca juga: Cegah Stunting, Pemkab Kupang bersama CV Elitism dan NTV Kota Kupang Gelar Diklat Budidaya Ikan
Dia menjelaskan bahwa program BISA itu berfokus pada intervensi gizi spesifik serta sensitif. Intervensi itu ujar dia bagian dari program pengurangan stunting di Indonesia termasuk di NTT.
| Wakil Ketua DPRD Rote Ndao Bantah Isu Perselingkuhan, Tempuh Jalur Hukum |
|
|---|
| Telkomsel, Wajah Baru Gaya Inovatif yang Menghipnotis |
|
|---|
| Sejarah Baru, Atlet Gymnastik Pertama dari NTT Langsung Naik Podium Juara di Jakarta |
|
|---|
| Pengamat Undana Nilai Hakim MK Tidak Berprinsip Hapus Parlemen Threshold |
|
|---|
| Pj Bupati Kupang Ajak Pemuda Katolik NTT Sinergi dengan Pemerintah Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Foto-bersama-pihak-International-Nutrition-bersama-Save-the-Children-Pemprov-NTT.jpg)