Rabu, 6 Mei 2026

Renungan Harian Kristen

Renungan Harian Kristen Kamis 6 Juni 2024, Mengikuti Panggilan Tuhan dengan Setia

Yesaya diutus untuk menyatakan dosa dan hukuman Allah atas mereka serta menyampaikan janji keselamatan bagi yang mau bertobat.

Tayang:
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
Pdt. Aplonia Gasperz Leba, S.Th 

Oleh: Pdt. Aplonia Gasperz Leba, S.Th

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Renungan Harian Kristen Protestan Kamis 6 Juni 2024 dengan judul Mengikuti Panggilan Tuhan dengan Setia (Yesasa 6:1-13).

Syalom, kita semua pernah membaca atau mendengar kisah Bunda Teresa, seorang biarawati Katolik yang awalnya bekerja sebagai seorang guru dan kepala sekolah di sekolah biara Loreto di Kalkuta.

Meskipun menikmati pekerjaannya, dia sangat terganggu dengan kemiskinan di Kalkuta.

Suatu hari, saat bepergian dengan kereta untuk mengikuti retreat tahunan, dia mendengar panggilan Tuhan.

Tuhan Yesus menyuruhnya menanggalkan jabatan sebagai guru dan fokus menolong orang miskin dan sakit di Kalkuta.

Baginya, itu adalah perintah. Tidak melakukannya sama artinya dengan mengingkari imannya kepada Tuhan.

Tahun 1948, Bunda Teresa mulai menjalankan tugas sebagai misionaris, meninggalkan pakaian biara dan mengenakan kain sari putih dengan pinggiran biru.

Dia mengabdikan diri untuk membantu orang-orang miskin dan sakit HIV/AIDS maupun TBC. Suatu kali, seseorang bertanya kepadanya, “Ibu telah melayani kaum miskin di Kalkuta, tetapi tahukah ibu bahwa masih ada banyak lagi orang miskin yang terabaikan?

Apakah ibu tidak merasa gagal?” Bunda Teresa menjawab, “Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia.”

Panggilan Yesaya dan Kesetiaan kepada Tuhan

Kisah pemanggilan Yesaya oleh Allah terjadi secara luar biasa. Yesaya bukanlah seorang yang baik dan benar. Perilaku hidupnya tidak beda dengan orang-orang sebangsanya.

Baca juga: Renungan Harian Kristen Kamis 6 Juni 2024 Allah, Hakim Yang Adil

Pada waktu itu, Kerajaan Yehuda berada dalam krisis sosial, politik, dan spiritual. Mereka berperang dengan Asyur dan Babel, menjauh dari Tuhan, dan para pemimpin bekerja demi kepentingan diri sendiri.

Kebenaran diputarbalikkan, dan mereka hidup dalam pesta-pora, kemabukkan, dan penyembahan berhala.

Dalam kondisi ini, Yesaya dipersiapkan untuk dipanggil menjadi utusan Tuhan dengan cara yang luar biasa. Ia mendapat penglihatan tentang kemuliaan Allah yang maha dahsyat, duduk di atas takhta dan dikelilingi para serafim yang berseru, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam.” Berhadapan dengan kekudusan Allah itu membuat Yesaya mengakui dirinya tidak pantas ada di hadapan Tuhan. Ia berkata, “Celakalah aku.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved