Sabtu, 2 Mei 2026

Panggung Perempuan, Perempuan Adat Mainkan Peran Vital Merawat Alam

Perempuan adat memainkan peran vital dalam merawat alam dan melestarikan kearifan lokal dan tradisi leluhurmeski peran mereka sering terabaikan

Tayang:
POS KUPANG/JOHN TAENA
Linda Tagie salah satu pementas seni teater saat berlatih salah adegan ‘Jejak’ yang akan ditampilkan dalam malam pentas seni monologia Panggung Perempuan Biasa di Taman Dedari Sikuman. Senin (13/6/2016) 

POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Perempuan adat memainkan peran vital dalam merawat alam dan melestarikan kearifan lokal dan tradisi leluhurmeski peran mereka sering terabaikan dan kadang tidak dianggap penting dalam budaya patriarki.

Ketahanan perempuan suku Helong dalam upaya menjaga alam, hutan, tanah, dan air yang bersumber dari alam Kolhua merupakan contoh konkrit bagaimana perempuan memiliki peran fundamendal dalam merawat kearifan lokal untuk kehidupan yang berkelanjutan.

Solidaritas Perempuan Flobamoratas (SPF) bersama Perempuan Akar Rumput di Kolhua mengambil bagian dan bersolidaritas dalam Festival Budaya Helong yang diselenggarakan oleh Komunitas Penjaga Budaya Helong dan Taman Baca Uibaha di Kolhua melalui “Panggung Perempuan.”

Panggung Perempuan menjadi ruang bagi tokoh perempuan Suku Helong Kolhua yang merupakan inisiator praktik-praktik baik di Kolhua. Panggung ini dipandu oleh Irene Kanalasari dari Solidaritas Perempuan Flobamoratas dengan menghadirkan Atalya Taklale sebagai perempuan penenun sekaligus guru tenun bagi anak-anak perempuan di Kolhua.

Lily Bistolen sebagai penggagas Taman Baca Uibaha sekaligus sebagai pengajar di Taman Baca ini, dan Melyawati Bistolen sebagai petani perempuan muda sekaligus ketua panitia Festival Budaya Helong III.

Hadir juga Pdt. Emmy Sahertien dari Komunitas Hanaf dan Linda Tagie dari Solidaritas Perempuan Flobamoratas sebagai penanggap. Irene menyampaikan bahwa Panggung Perempuan ini bertujuan untuk mendengar cerita-cerita inspiratif dan praktik-praktik baik dari tokoh-tokoh peremupuan Helong di Kolhua.

Di Panggung Perempuan ini, Atalya Taklale menceritakan pengalamannya sebagai ibu tunggal dari tiga orang anak. Ia mulai menekuni tradisi menenun dalam sepuluh tahun terakhir.

“Awalnya sebagai rasa cinta terhadap budaya karena sadar bahwa tradisi ini hampir punah karena tidak ada lagi yang mau menenun, sangat sedikit orang muda yang mau menenun jadi beta mau membagikan ilmu menenun kepada generasi muda suku Helong, tujuannya supaya budaya itu tidak putus, tapi ternyata rasa cinta terhadap budaya juga ternyata membantu beta sebagai ibu tunggal untuk berdaya secara ekonomi, anak-anak bisa sekolah itu karena beta menenun,” Jelas Atalya.

Atalya merupakan ibu muda yang masih menenun menggunakan pewarna alam dengan memanfaatkan sumber daya alam dari alam Kolhua, ia memanfaatkan tumbuhan pewarna dari hutan Kolhua sebagai pewarna tenunan.

Ia juga menggunakan lumpur dari sungai Kolhua dan mata-mata air yang ada di Kolhua sebagai perekat warna alami kain yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Karena itu, alam bagi Atalya dan perempuan-perempuan penenun di Kolhua merupakan sumber penghidupan yang menyediakan sumber-sumber kehidupan perempuan, mulai dari pangan hingga sandang.

Di Panggung Perempuan, Lyli Bistolen bercerita tentang inisiatif pertama terbentuknya Taman Baca Uibaha. Inisiatif ini muncul karena beban moril sebagai anak muda dan perempuan suku asli Helong di Kolhua yang mendapat kesempatan belajar ke Jakarta.

Ia merasa penting untuk menciptakan ruang belajar bagi anak-anak suku Helong yang berdomisili di Kolhua. Taman Baca Uibaha bukan hanya sekadartempat membaca atau meminjam buku, namun juga membuka “Kelas Bahasa Helong” bagi anak-anak untuk belajar bahasa Helong.Selain itu, anak-anak juga belajar tuturan adat dan tarian adat di Taman Baca Uibaha.

Ketua panitia Festival Budaya Helong, Melyawati Bistolen menyampaikan bahwa Festival ini bertujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya Helong kepada masyarakat luas sekaligus menjadi ruang transfer pengetahuan antar generasi mengenai budaya Helong.

Tahun ini merupakan tahun ketiga terselenggaranya Festival ini. Para orang tua, orang muda, perempuan, dan anak-anak berkumpul bersama untuk merayakan Festival ini. Inisiatif untuk menyelenggarakan Festival ini berasal dari anak-anak muda suku Helong yang tergabung di dalam Komunitas Penjaga Budaya Helong.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved