Liputan Khusus
Lipsus - Megawati Batal Pimpin Apel Harlah Pancasila di Ende
Sementara Lapangan Pancasila pun dipenuhi dengan para peserta upacara yang hadir dengan beragam balutan pakaian adat se‑Nusantara.
POS-KUPANG.COM, KUPANG ‑ Mantan Presiden RI, Megawati Soekarnoputri datang ke Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (31/5). Sedianya, Presiden kelima RI ini akan memimpin apel hari lahir (Harlah) Pancasila di Ende.
Harusnya, Ketua Umum PDIP itu menjadi inspektur upacara pada 1 Juni 2024 di Lapangan Pancasila, Ende. Namun, Megawati dikabarkan tidak sehat sebelum pelaksanaan apel dimulai.
Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia yang sedianya hadir pada upacara tersebut berhalangan hadir karena alasan kesehatan.
Sementara Lapangan Pancasila pun dipenuhi dengan para peserta upacara yang hadir dengan beragam balutan pakaian adat se‑Nusantara.
Baca juga: 310 Personil TNI/Polri Siap Amankan Apel Harlah Pancasila di Ende
Penjabat Gubernur NTT, Ayodhia Kalake yang hadir juga dalam acara itu kemudian menjadi inspektur upacara dalam apel dengan tema "Pancasila Jiwa Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Emas Tahun 2045".
Dalam siaran pers yang dikeluarkan Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT, Minggu 2 Juni 2024 menerangkan, upacara itu dihadiri Ketua DPRD Provinsi NTT, Emelia Julia Nomleni, Penjabat Bupati Ende, Ignasius Ngasu, jajaran Forkopimda Kabupaten Ende, pimpinan perangkat daerah Kabupaten Ende, unsur TNI, Polri, ASN, dan para pelajar perwakilan dari SD, SMP, hingga SMA.
Ada juga mantan Menko Polhukam RI, Prof. Mahfud MD, Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Anggota DPR RI asal NTT Andreas Hugo Parera dan Herman Hery.
Pembacaan amanat dalam upacara tersebut yang semestinya dibacakan Megawati pun digantikan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto.
"Kami sampaikan permohonan maaf bahwa Ibu Megawati Soekarnoputri tidak bisa hadir di sini. Beliau kurang sehat. Mohon doanya," kata Hasto saat membacakan sambutan mewakili Megawati.
Hasto lalu bercerita mengenai perjuangan Soekarno bagi bangsa dan negara. Hasto berujar Ende merupakan tempat yang bermakna bagi masyarakat Indonesia. Sebab di sinilah Soekarno merenungi nilai Pancasila. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda mengasingkan Soekarno alias Bung Karno di Ende.
"Ende sangatlah penting bagi sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa, Ende merupakan tempat pembuangan Bung Karno oleh Belanda. Dia dikucilkan dan diredam semangat juangnya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, api semangat kemerdekaan Bung Karno makin bergelora bahkan disempurnakan oleh perjumpaannya dengan sahabat‑sahabatnya yang berasal dari rakyat biasa." ujar Hasto membacakan pidato Ketua Dewan Pengarah BPIP.
Usai pelaksanaan upacara Harlah Pancasila tersebut, dimeriahkan juga dengan para peserta upacara yang bersama‑sama menari Gawi dan Jai.
Senang dengan Megawati
Oma Inang (72), warga Kelurahan Paupire, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende rela panas‑panasan di depan Kantor Sekretariat DPC PDI‑P Kabupaten Ende. Hal ini dilakukan demi bisa bertemu Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri, Sabtu (1/6).
Inang ditemani sang cucu, menunggu Megawati Soekarnoputri sejak pukul 10.00 Wita di luar pagar. Sesekali terlihat Inang melihat‑melihat kondisi di dalam area kantor wong cilik dan berharap Megawati Soekarnoputri sudah berada di kantor yang baru selesai dibangun tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Megawati-Soekarnoputri-mengunjungi-rumah-pengasingan-Bung-Karno.jpg)