Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Kamis 23 Mei 2024, Jangan Pernah Menyerah
penggalah dan jika matamu menyesatkan, cungkilah. Ketidaksempurnaan fisik tidak menghalangi kita berbuat baik
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Kamis 23 Mei 2024, Jangan Pernah Menyerah
Oleh : Pastor John Lewar, SVD
Lectio:
Yakobus 5:1-6
Mazmur 49:14-15ab,15cd-16,17-18,19-20
Markus 9:41-50
Meditatio:
Adalah seorang Tony Melendez, pria kelahiran Nicaragua, 47 tahun lalu. Dia terlahir tanpa memiliki lengan tangan. Sejak kecil dia sering diolok dan dibully teman sebayanya. Dia belajar memahami keadaannya. Dia tidak protes kepada siapa-siapa, tidak protes kepada sang Khalik pun tidak protes terhadap orang tua yang melahirkannya.
Ternyata Tuhan punya rencana. Dia bernyanyi dan bermain gitar dengan jari-jari kakinya. Melalui talenta yang dimilikinya, dia menyadarkan kepada teman-temannya untuk selalu punya harapan.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 22 Mei 2024, “Karena Ia Bukan Pengikut Kita”
Dia banyak berkeliling untuk memberi semangat kepada para pemuda atau orangorang yang mengalami keadaan seperti dirinya. “Jangan pernah menyerah” Demikian pesannya dalam setiap kesempatan.
“Kalau memiliki anggota badan yang lengkap, pasti bisa melakukan banyak hal. Tuhan menyayangi kita. Lihatlah saya.” Demikian seruan Tony kepada orang-orang yang tidak berpengharan lagi atau yang cepat putus asa.
Saat yang membanggakan adalah ketika dia tampil di hadapan Paus Yohanes Paulus II tahun 1987 di Los Angeles – Amerika Serikat. Pujian Paus dan pesannya sungguh menjadi pendorong semangat luar biasa.
Jadilah penyebar harapan, menumbuhkan harapan bagi sesama. Itulah yang dia kerjakan sekarang. Dia menjadi motivator melalui lagulagu dan penampilannya. Dia tidak menyerah dengan keadaan. Dia tidak merasa malu. Dia tidak mempersalahkan Tuhan dengan keadaannya. Dia sungguh percaya kepada Tuhan.
Orang yang tidak sempurna justru banyak melakukan kebaikan dan keutamaan, kita yang sempurna bahkan sering mengeluh dan merasa kurang.
Injil hari ini sungguh memberikan sederet peringatan tegas dan keras dari Sang Guru kepada kita murid-murid-Nya; “Lebih baik ikat batu di leher bila menyesatkan orang lain. Potong kaki, tangan dan cungkil mata bila mereka membuatmu berdosa. Intinya, semua anggota tubuh yang membuatmu berdosa, lebih baik dibuang/dipotong. Bayangkanlah jika ini benar-benar kita praktekan secara harafiah.
Sudah pasti kita akan tau siapakah yang berdosa dan dengan apakah ia berdosa; tangan kudung karena mencuri, mata satu bahkan keduanya tidak ada karena gunakan untuk melihat sesuatu yang membuat si buta berdosa, dan beragam contoh lainnya. Wah, pasti banyak pendekar mata satu kita temukan dalam hidup (film Indonesia) Atau lainnya, garam itu asin dan itu baik, tapi dengan apakah ia diasinkan lagi bila sudah menjadi tawar?
Tidak ada faedahnya kesempurnaan fisik, jika tidak membawa manfaat bagi kebaikan sesama. Yesus lebih mengutamakan kwalitas perbuatan daripada penampilan luar yang sempurna. Orang-orang cacat justru
menginspirasi banyak orang.
Missio:
Tuhan Yesus mengajak kita untuk mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan itu bukan terletak pada segi fisik, tetapi dari perbuatan. Kalau fisik kita sempurna tetapi menghalangi perbuatan baik kita, Yesus mengatakan “Jika tanganmu menyesatkan, penggalah dan jika matamu menyesatkan, cungkilah. Ketidaksempurnaan fisik tidak menghalangi kita berbuat baik
Perbuatan baik itulah yang menjadi syarat kita masuk dalam kehidupan kekal. Marilah selalu bersyukur atas anugerahNya dan menggunakannya demi kebaikan sesama manusia. Jangan pernah menyerah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Lewar-SVD-RP_0694.jpg)