Berita Lembata

Petani Cerdas Iklim Nagawutung, Bakar Kebun Hilangkan 15 Unsur Hara Tanah Esensial

Andreas Ape Odung adalah teladan nyata dari petani yang berhasil menerapkan model pertanian cerdas iklim di Kabupaten Lembata

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/PAUL KABELEN
KUNJUNGI KEBUN - Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lembata, Kanisius Tuaq dan Direktur LSM Barakat, Benediktus Bedil mengunjungi kebun milik Andreas Ape Odung sekaligus kebun demplot program INCIDENT, Kamis, 16 Mei 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Kabelen

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Andreas Ape Odung adalah teladan nyata dari petani yang berhasil menerapkan model pertanian cerdas iklim. Saat petani lainnya menderita gagal panen, ladang jagung Andreas yang berada di desa Riabao, Kecamatan Nagawutung malah bertahan, tumbuh subur.

Ladang jagung ini juga merupakan kebun demonstration plot (demplot) program INCIDENT yang diselenggarakan LSM Barakat dan Catholic Relief Services (CRS).

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lembata Kanisius Tuaq dan Direktur LSM Barakat Benediktus Bedil mengunjungi kebun seluas 25x25 itu dan langsung kagum dengan model pertanian cerdas iklim yang diterapkan Andreas, Kamis, 16 Mei 2024.

Selain tanaman jagung yang tumbuh subur, di atas tanah kering itu tumbuh tanaman kacang-kacangan sebagai tanaman penutup tanah. kacang-kacangan tumbuh di antara jagung.

Andreas Odung mengingatkan bahwa metode membuka kebun dengan cara membakar itu sebenarnya bisa menghilangkan 15 unsur hara dari total 16 unsur hara esensial yang ada di tanah yang subur.

Setelah kebun dibakar yang tersisa hanya unsur hara fosfor terkandung di dalam abu. Sedangkan, unsur hara lainnya seperti khlor, karbon, mangan, nitrogen, kalium, kalsium, magnesium, oksigen, hidrogen, tembaga, belerang, besi otomatis lenyap.

"Kalau bakar permukaan tanah tertutup arang," ujarnya.

Baca juga: 11 Aksi Syahrul Yasin Limpo Palak Anak Buah di Kementerian Pertanian

Dia melanjutkan alasan kenapa di antara jagung masih bisa tumbuh kacang sebagai tanaman alternatif. Hal itu terjadi karena masih ada mikroba di dalam tanah yang mengubah unsur hara tanah nitrogen.

Kita mau bebas pestisida. Pestisida nabati. Pestisida nabati manduk, tidak berkembang lagi. Kita bikin KPS dengan barakat. Saya tidak mau pasca panen petani bingung mau jual kemana. Cara ini dipertahankan dan diperluas lagi.

"Pola tebas bakar kalau ada kekeringan maka langsung gagal. Kalau pakai sistem ini maka humus tanahnya terjaga sekali," katanya.

Metode pertanian cerdas iklim bisa membuat dia memanen jagung dua kali dan sekali panen kacang.

Untuk mengatasi hama tanaman, Andreas tidak menggunakan pestisida kimiawi. Dia justru memakai pestisida nabati. Pestisida nabati merupakan senyawa kimia yang berasal dari tumbuhan yang digunakan untuk memberantas organisme pengganggu tumbuhan berupa hama.

Prinsip dasarnya adalah mengolah tanah seringan-ringannya, menutup permukaan tanah serapat rapatnya dan menanam tanaman penutup tanah sepanjang tahun sepanjang musim seperti kacang-kacangan, penggiliran tanaman atau rotasi tanam.

"Kalau tidak rotasi maka makanan untuk hama tanaman selalu tersedia. Kalau kita rotasi maka kita bisa putus mata rantai antara hama dan tanaman," paparnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved