Kamis, 23 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis 2 Mei 2024,Tinggal Dalam Kasih Tuhan

Keseringan ada bersama Yesus, perlahan membentuk “Peradaban Hidup” para murid yang diwarnai dengan suasana kasih.

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-PATER FRITZ MEKO, SVD
Pater Fritz Meko, SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik Kamis 2 Mei 2024 dengan judul Tinggal Dalam Kasih Tuhan 

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Kamis 2 Mei 2024 dengan judul Tinggal Dalam Kasih Tuhan

Renungan Harian Katolik Kamis 2 Mei 2024 dengan judul Tinggal Dalam Kasih Tuhan ditulis oleh Pater Fritz Meko, SVD dan mengacu dalam bacaan Kis. 5:7-21 dan Injil: Yohanes 15:9-11

Seorang Bapak Gereja abad pertengahan pernah mengatakan, “Jikalau engkau menghendaki agar langkahmu terayun dengan ringan, optimis dan berani, maka Anda harus bersedia berjalan dalam hadirat Tuhan.”

Ungkapan Latinnya: Coram Deo Ambulamus (Berjalan dalam hadirat Tuhan). Pernyataan ini, secara implisit tersirat dalam amanat perpisahan Yesus dengan para murid-Nya. Yesus mengatakan, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikan juga Aku telah mengasihi kamu; tinggalah di dalam kasih-Ku….” Ungkapan hati Yesus ini, mengandung suatu rasa cinta yang begitu dalam kepada para murid-Nya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 29 April 2024, Santa Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja

Rentangan rasa cinta dan kasih Yesus kepada para murid-Nya, beranjak dari ketulusan hati-Nya. Rasa cinta Yesus kepada para murid, tidak tertakar dalam waktu yang panjang dan lama. Justru hanya tiga tahun saja Yesus ada bersama para murid.

Dan selama tiga tahun, Yesus tidak terlalu banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang mendukung kecerdasan dan ketrampilan para murid. Yesus hanya mengajak mereka berjalan keliling berbagai kampung dan kota sambil berbuat baik.

Berkeliling sambil berbuat baik merupakan ungkapan dorongan kasih yang tulus kepada orang-orang yang terlunta dan terperangkap dalam penderitaan. Keseringan ada bersama Yesus, perlahan membentuk “Peradaban Hidup” para murid yang diwarnai dengan suasana kasih.

Jadi sesungguhnya Yesus ingin meletakkan “Peradaban Kesalehan Hidup” kepada para murid-Nya yaitu, Kesalehan Pribadi dan Kesalehan Sosial. Ketika Yesus mengambil waktu untuk berdoa, ketika itu juga Ia memberi teladan bagaimana “menata kesalehan pribadi.”

Dan ketika Yesus berbuat baik dengan menyapa dan menyembuhkan orang yang sakit, ketika itu juga Ia mengajarkan bagaimana “menata kesalehan sosial.”

Yesus tidak menghendaki para murid hanya menata kesalehan pribadi dan mengabaikan kesalehan sosialnya. Dengan kata lain, Yesus sebenarnya mau mengatakan, percuma kamu berdoa dan membaca Kitab Suci setiap hari, tetapi perilaku hidup-mu diwarnai dengan iri hati, benci, menjelekkan, menggosip, malas, tidak setia, dll.

Kesalehan Pribadi yang dirajut melalui doa, merenungkan Kitab Suci dan meditasi harus tampak dalam Kesalehan Sosial yakni, mencintai, mengasihi, peduli, berbelarasa, rela menolong, berpikir positif terhadap orang lain, dll.

Nasehat Yesus agar para muridsaling mengasih dan berkenan tinggal dalam kasih-Nya, itu sama dengan ajakan agar mereka siap “Coram Deo Ambulamus” (Berjalan Dalam Hadirat Tuhan). Ketika para murid setia pada “Coram Deo Ambulamus” maka mereka pun akan dimampukan untuk menjaga kesimbangan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial mereka.

Keseimbangan dalam kesalehan pribadi dan kesalehan sosial sangat diharapkan ada pada setiap pengikut Yesus. Kita sadari bahwa, saat ini kita sedang hidup dalam zaman yang sangat “kompleks” dengan sajian berbagai macam tantangan yang begitu menggebu menyerang hidup kita. Semua bentuk kehidupan kita diobok-obok atau digugat.

Misalnya, Kehidupan kekuarga, diterpa dengan aneka persoalan seperti godaan untuk tidak saling setia antara suami-istri, perselingkuhan, hedonisme, anak-anak tidak mendengarkan nasehat orang tua, narkoba, alkohol, dll. Kehidupan karya, kita digoda oleh kecenderungan untuk korupsi, sogok, nepotisme, dll. Godaan-godaan ini adalah, “penyakit” yang harus dicarikan therapinya.

Salah satu therapi penting yang dapat dipakai untuk mengatasi godaan-godaan ini adalah, bertekun selalu dalam menumbuhkan keseimbangan antara “Kesalehan Pribadi” dan “Kesalehan Sosial.” Kita berusaha membina kehidupan doa pribadi dan berusaha memancarkannya melalui kesaksian hidup yang baik, rela mencintai, mengasihi, berpikir positif terhadap sesama, peduli, belarasa dan rela memberi apresiasi, dll.

Kesetiaan menjaga keseimbangan antara dua kesalehan ini, sama dengan kita membiarkan Tuhan untuk tinggal dalam diri kita, dan karena itu kita pun bersedia untuk selalu berjalan dalam hadirat-Nya.(*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved