Parodi Situasi

Parodi: MK dan Banjir Manise

"Masyarakat jadi sulit mengakses air bersih," kata Nona Mia dengan wajah sedih. "Ya, karena sumur bor milik warga kelanda lumpur akibat banjir."

Editor: Dion DB Putra
DOK POS-KUPANG.COM
Maria Matildis Banda. 

Oleh Maria Matildis Banda

POS-KUPANG - "Kulihat ibu Pertiwi. Sedang bersusah hati. Air matanya berlinang. Kini Ibu sedang lara Lihat banjir di Pulau Flores.

"Hutan Gunung sawah lautan simpanan kekayaan. Kulihat Ibu Kartini sedang bersusah hati. Tunggu pengumuman hasil sidang MK demi Indonesia bersatu. MK dan banjir manise."

"Hei, jangan ngarang. Ibu Pertiwi dan Ibu Kartini bisa menangis akibat ulahmu."

"Memang Ibu Pertiwi benar-benar menangis akibat ulah kita…banjir di mana-mana. Bulan lalu di Manggarai, bulan ini di Kewapante Sikka manise, entah bulan depan dimana lagi. Flores bukan lagi Pulau Bunga tetapi kuala lumpur alias banjir. Moga-moga berbeda dengan hasil sidang MK e. Demi Indonesia satu jangan ada banjir sengketa."

"Maka lengkaplah penderitaan kita," sambung sinambung Jaki dan Rara berkomentar tentang banjir akibat tiadanya saluran air yang memenuhi syarat, mampet akibat sampah dimana-mana. Hasil sidang MK yang ditunggu-tunggu. Maka, ramai-ramailah salahkan cuaca, hujan, angin, dan KPU dan lain-lain.

"Siapa yang bersalah sebenarnya e?" Rara dan Jaki sama-sama berupaya mencari kambing hitam. Sebagaimana diberitakan, puluhan bahkan lebih dari seratus rumah di Dusun Namangjawa, Desa Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur terendam banjir pada Jumat, 19 April kemarin. Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah itu sejak Kamis 18 April.

"Masyarakat jadi sulit mengakses air bersih," kata Nona Mia dengan wajah sedih. "Ya, karena sumur bor milik warga kelanda lumpur akibat banjir," sambung Jaki.

Baca juga: Parodi: Damai Lebaran Tanah Airku

"Masyarakat juga butuh makanan dan minuman karena dapur terendam banjir, kayu api basah, kompor minyak tanah tidak ada. Bagaimana caranya agar kita bisa bantu?" tanya Benza. "Bantu? Bantu apa?" Jaki mengeluh.

"Bantu apa? Siapa yang salah e?" Rara pun mengeluh. "Semua ini gara-gara hujan. Seandainya saya bisa tutup itu sumber air hujan e. Pasti aman ini tanah lahir kita. Sekarang banjir mesti bantu lagi. Bantu apa?"

"Pusing tujuh keliling," Jaki memegang kepalanya. "Apakah penting pikir ini banjir? Pikir bantuan? Ini soal keciiil," Jaki menjentik jari-jarinya.

"Sekarang ini, yang jauh lebihpenting itu adalah pengumuman MK tentang 02 keluar sebagai pemenang, ataukah 01 dan 03 yang menang sengketa dan hasil pilpres pun dibatalkan, dan pilpres ulang pun dilakukan. Waduuuh," Jaki benar-benar menggenggam kepalanya.

"Mana yang lebih penting Nona Mia dan Benza," Rara pun berteriak memohon jawaban kedua sahabatnya. "Urus pusing kepala akibat banjir ataukah pasang mata dan telinga dengar kabar hasil sengketa pilpres?"

"Letakkan pada tempatnya masing-masing," jawab Benza. "Korban banjir yang harus segera ditolong pada pos tersendiri. Hasil sidang MK tentang 01, 02, dan 03 pada pos tersendiri." "Mana yang lebih penting?" Jaki tidak sabar.

"Letakkan pada tempatnya masing-masing," Nona Mia menjawab. "Dua-duanya penting. Korban banjir segera ditolong. Hasil sidang MK segera diumumkan."

"Seandainya 01 dan 03 menang? Apakah banjir berhenti?" "Bagaimana kalau seandainya 02 menang? Apakah banjir berhenti?"

"Jangan berandai-andai. Bantu korban banjir manise. Indonesia menang manise. Hasil sidang MK yang pasti Indonesia harus tetap menang. Demi Ibu Pertiwi. Demi Ibu Kartini. NKRI harga mati." (*)

 

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved