Berita NTT
Pentingnya Puasa sebelum Operasi, Begini Penjelasan dr. Felix Sugi dan dr. Made Handa
padat dan susu dapat dikonsumsi hingga 6 jam sebelum operasi dan waktu puasa tambahan yaitu 8 jam atau lebih.
Penulis: Elisabeth Eklesia Mei | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei
POS-KUPANG.COM, KUPANG- Masyarakat awam pada umumnya tidak mengerti mengapa sebelum dilakukan tindakan operasi, pasien harus berpuasa terlebih dahulu.
Terkait dengan pentingnya puasa sebelum dilakukan tindakan operasi, dr Felix Sugi dan dr Made Handa SpAN yang saat ini bertugas sebagai dokter magang di Ruang Operasi Rumah Sakit Bhayangkara Kupang
pun menjelaskan hal tersebut, Sabtu 30 Maret 2024.
Dikatakan dr. Felix, tidak jarang tanpa sepengetahuan dokter atau perawat, keluarga pasien memberi makan atau minuman karena kasihan terhadap pasien.
Menurut dia, padahal tentu itu sangat membahayakan keselamatan pasien saat tindakan operasi dilakukan sehingga dokter akan meminta untuk menunda dan menjadwalkan ulang operasi tersebut.
Baca juga: Ahmad Yohan Gantikan Awang Notoprawiro Pimpin DPW PAN NTT Periode 2020-2025
"Puasa sebelum operasi atau puasa prabedah didefinsikan sebagai periode tidak diperbolehkan menerima asupan cair maupun padat peroral dalam jangka waktu tertentu sebelum prosedur pembedahan," jelasnya.
dr. Felix menyebut, American Society of Anesthesiologists (ASA) menerbitkan panduan praktik yang berkaitan dengan puasa sebelum operasi atau prabedah pada individu yang akan menjalani prosedur operasi.
Rekomendasi puasa prabedah, kata dia, untuk air mineral dapat dikonsumsi 2 jam sebelum operasi, untuk ASI dapat dikonsumsi hingga 4 jam sebelum operasi, untuk susu formula bayi dapat dikonsumsi hingga 6 jam sebelum operasi.
Selain itu, lanjutnya, rekomendasi untuk makanan padat dan susu dapat dikonsumsi hingga 6 jam sebelum operasi dan waktu puasa tambahan yaitu 8 jam atau lebih.
"Mungkin diperlukan dalam kasus asupan makanan gorengan, makanan berlemak atau daging," katanya.
Sementara itu, dr. Made Handa SpAN menyampaikan sebelum dilakukan pembedahan, pasien biasanya akan dibius terlebih dahulu. Pembiusan dibagi atas pembiusan umum, pembiusan setengah badan, dan pembiusan lokal.
"Pembiusan umum dapat menyebabkan pasien tidak sadar, hilangnya refleks batuk dan refleks menelan, serta hilangnya kendali dari spingter pada lambung yang mengatur kembalinya isi lambung ke tenggorokan," ungkapnya.
Dikatakan dr. Made, berpuasa sebelum operasi bertujuan agar pasien tidak muntah, yang bisa menyebabkan isi lambung naik ke tenggorokan, kemudian karena hilangnya refleks batuk dan menelan menyebabkan pasien tersedak, sehingga sisa muntahan akan masuk ke dalam paru-paru, yang dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru atau disebut dengan istilah aspirasi paru.
"Aspirasi paru tidak bisa disepelekan karena dapat menyebabkan komplikasi serius seperti infeksi, pneumonia, dan kesulitan bernapas hingga kekurangan oksigen," katanya.
Oleh sebab itu, tambahnya, sebelum dilakukan tindakan operasi, pasien biasanya dianjurkan untuk berpuasa terlebih dahulu sehingga proses tindakan operasi bisa berjalan dengan lancar. (cr20)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Feliks.jpg)