Paskah 2024

Umat Kampung Kote Noemuti Timor Tengah Utara Gelar Ritual Soet Oe dalam Prosesi Kure Paskah 2024

Setelah menerima berkat dari Pastor, rombongan bergerak ke pinggir kali dan dipimpin oleh Tua Adat di barisan paling depan.

|
Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/DIONISIUS REBON
Pose kaum perempuan saat mengambil air di kali pada pelaksanaan Ritual Soet Oe dalam Prosesi Kure, Kamis, 28 Maret 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon

POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Umat Kampung Kote, Desa Noemuti, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar Ritual Soet Oe dalam Prosesi Kure

Soet Oe adalah ritual pengambilan air di kali oleh 18 suku di Kote kemudian digunakan untuk membersihkan patung-patung rohani peninggalan Portugis.

Disaksikan POS-KUPANG.COM, Kamis, 28 Maret 2024, sebelum Ritual Soet Oe ini digelar, Tua Adat dan masing-masing utusan dari beberapa suku di Kampung Kote berkumpul di Gereja Katolik Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus. Utusan dari masing-masing rumah adat ini adalah kaum pemuda dan gadis maupun ibu-ibu. 

Mereka membawa serta kendi yang pada bagian atasnya di tutup dengan tempurung kelapa yang sudah dibersihkan. Semua orang yang hadir dalam pelaksanaan Ritual Soet Oe ini mengenakan pakaian adat. Selain itu, mereka juga tidak mengenakan alas kaki. 

Baca juga: Menyongsong Paskah 2024, Umat Katolik Lingkungan Bunda Para Beriman di Belu Kerja Bakti

Rombongan berdiri berbaris dengan dua baris lurus menghadap kepada Pastor. Para Tua Adat setempat berdiri pada barisan paling depan dengan posisi berbanjar.

Sebelumnya bergerak ke kali, Tua Adat setempat mengucapkan tutur adat atau Takanab di hadapan Pastor sembari memohon berkat.

Setelah menerima berkat dari Pastor, rombongan bergerak ke pinggir kali dan dipimpin oleh Tua Adat di barisan paling depan.

Ketika tiba di pinggir kali, seorang dari rombongan Tua Adat setempat mengucapkan Takanab sebelum para gadis dan ibu-ibu mengambil air.

Setiap perempuan yang membawa kendi maju satu persatu dan menimba air menggunakan tempurung kelapa yang menjadi tutupan kendi tersebut. Air di isi ke dalam kendi dengan tanpa meninggalkan tetesan air pada bibir kendi. Sementara kaum pria atau pemuda, mengambil dua buah batu yang berbentuk ceper dan agak lebar. 

Setelah mengambil air dan dua buah batu, rombongan kemudian kembali ke gereja dengan urutan Tua Adat berada paling belakang barisan tersebut. Setelah tiba di gereja, Tua Adat kembali memohon berkat dari Pastor terhadap air yang mereka bawa dari kali. 

Semua rombongan yang hadir menerima berkat dari Pastor dan kemudian kembali ke rumah adat masing-masing untuk melakukan ritual lanjutan yakni pembersihan patung-patung.

Ketua Panitia Prosesi Kure tahun 2024, Petrus Ratrigis mengatakan, air yang diambil dari kali dalam Ritual Soet Oe ini digunakan untuk membersihkan patung-patung peninggalan Bangsa Portugis. Patung tersebut disimpan oleh 18 rumah adat dan dibersihkan pada momentum menjelang Perayaan Hari Raya Paskah.

Sedangkan batu yang diambil ini digunakan untuk menghancurkan tebu hingga tersisa serat-seratnya yang berbentuk seperti kuas. 

Menurutnya, pada zaman dahulu masyarakat belum mengenal kuas. Mereka menggunakan batang tebu yang dihancurkan dan menyisakan serta untuk membersihkan semua sisa patung.

Baginya, Tradisi Kure adalah salah satu tradisi peninggalan Bangsa Portugis yang dihidupi masyarakat Kampung Kote hingga saat ini. Tradisi ini terus dijaga oleh 18 suku yang memiliki rumah adat di kompleks Kampung Kote tersebut.

Memasuki Tri Hari Suci, jalan masuk ke Kampung Kote ditutup. Tidak ada kendaraan yang melintas di dalam kampung tersebut. Masyarakat setempat melaksanakan aktivitas dengan berjalan kaki. 

Tidak ada bunyi mesin, bunyi musik dan lain-lain yang mengganggu telinga. Hal ini sebagai untuk menjaga suasana khusyuk dan keheningan dalam perayaan Tri Hari Suci tersebut.

Dikatakan Petrus, Prosesi Kure adalah tradisi berdoa sambil berkeliling di setiap rumah adat di Kampung Kote. Setiap perayaan Hari Raya Paskah, semua keluarga dari Kampung Kote yang berada di luar akan datang berkunjung ke masing-masing rumah adat mereka.

Sementara itu, Pastor Rekan Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus Noemuti, Romo Yanner Uskenat, Pr mengatakan, gereja sangat menghargai Tradisi Kure ini. Tradisi tersebut mesti dihidupi masyarakat setempat di masa-masa mendatang.

Baginya, Prosesi Kure ini sangat penting untuk tetap bertahan dan dijaga untuk meningkatkan iman umat setempat maupun menjaga warisan sejarah masuknya Agama Katolik di Kampung Kote maupun di seluruh wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved