Berita Kota Kupang
PIPAS Bantu Warga Binaan di Kupang
Ia mengatakan, galeri tenun itu berhasil dikembangkan lewat dukungan mantan Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi.
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG- Penasihat Utama Paguyuban Ibu-Ibu Pemasyarakatan (PIPAS) Anna Reynhard Silitonga bersama pengurus PIPAS pusat memberikan bantuan bagi warga binaan di Lapas Perempuan Kupang dan LPKA Kupang.
Kegiatan itu berlangsung di Rutan Perempuan Kelas II Kupang, Sabtu (17/2/2024) siang. Acara diawali dengan tarian dari ibu-ibu PIPAS Rutan Soe dan anak-anak binaan LPKA Kupang.
Kepala Kanwil Kemenkumham NTT Marciana D Jone menyebut kehadiran Penasihat Utama PIPAS di NTT sangat memberi perhatian yang serius terhadap kelompok penenun di NTT, lebih khusus di Lapas Perempuan Kupang.
Ia mengatakan, galeri tenun itu berhasil dikembangkan lewat dukungan mantan Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan maupun Disparekraf NTT maupun Dekranasda NTT ikut berkontribusi membantu mendirikan teman tenunan bagi warga binaan.
Baca juga: Pemkab Flotim Raih Penghargaan Peduli HAM 2023, Marciana D Jone: Jadi Motivasi Kabupaten lain di NTT
"NTT ini kaya akan kekayaan intelektual. Tarian itu ekspresi budaya tradisional. Kalau tenunan itu bagian dari indikasi geografis" kata dia.
Marciana Jone mengaku, negara punya kewajiban dan tanggungjawab untuk potensi budaya yang ada dini.
Dia mengatakan, saat dirinya menjadi kakanwil, hanya sedikit adanya ruang penenun hingga dengan kualitas yang masih dibawah standar.
Marciana Jone saat itu berkomunikasi dengan Ketua Dekranasda saat itu, Julie Laiskodat. Bantuan itu kemudian mengembangkan penenun hingga strategi pemasaran hasil tenunan.
Dengan segala terobosan maupun perkembangan yang sudah mulai bagus, Marciana Jone meminta Penasihat Utama PIPAS untuk memberikan nama ke kelompok penenun di Lapas Perempuan Kupang.
Nantinya, nama dan brand itu akan didaftarkan ke Kemenkumham NTT sebagai sebuah kekayaan intelektual. Adapun nama Renya Flobamora disematkan dalam kelompok tenun itu.
"Kami ingin kelompok penenun ini mendapat hasil yang dijual melalui Disperindag dan Dekranasda. Itu sudah mulai dijalankan," kata dia.
Baca juga: Lantik Pejabat Baru, Marciana Dominika Jone: Maknai Sebagai Rahmat
Setalah adanya nama dan brand ini, maka langkah selanjutnya adalah mulai memberdayakan kelompok itu lewat bantuan pemerintah di skema pinjaman KUR. Hal itu akan justru memudahkan.
Dia berharap, dengan adanya kelompok penenun itu maka warga binaan yang keluar dari Lapas, bisa membawa sesuatu yang bernilai lebih dan memberi dampak positif ke tengah masyarakat.
Menurut dia, perempuan NTT itu dikenal dengan keakraban di menenun. Perempuan NTT, kata dia, dianggap layak menikah dan dewasa jika sudah bisa menenun.
"Perempuan mempengaruhi kualitas rumah tangga masing-masing. Dengan menenun orang bisa menyekolahkan anak dan membantu ekonomi keluarga," ujarnya. (fan)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.