Opini

Cinta dan Politik Cleopatra

Tanggal 14 Februari 2024, di Negara kita, selain akan dilaksanakannya Pesta Demokrasi, juga perayaan Valentine Day dan Rabu Abu untuk umat Katolik.

Editor: Agustinus Sape
FOTO PRIBADI
Sakarias Abduli 

Valentinus menyadari ketidakadilan keputusan tersebut, menentang Claudius dan terus melakukan pernikahan untuk kekasih muda secara rahasia. Ketika tindakan Valentinus diketahui, Claudius memerintahkan agar ia dihukum mati.

Valentinus mungkin dibunuh karena berusaha membantu umat Kristen melarikan diri dari penjara Romawi yang keras di mana mereka sering dipukuli dan disiksa.

Valentinus sebenarnya telah mewakili suara para rohaniwan atau ulama yang memperjuangkan nilai demi martabat manusia dalam kehidupan bersama.

Cerita lainnya, Valentinus sebenarnya yang pertama kali mengirimkan ucapan ‘Valentine’. Saat berada di penjara, diyakini bahwa ia jatuh cinta dengan seorang gadis muda, yang mungkin adalah putri sipir penjara, yang mengunjunginya selama dia dikurung.

Sebelum kematiannya, diduga dia menulis surat padanya, yang ia tandatangani “Dari Valentine-mu,” sebuah ungkapan yang masih digunakan sampai sekarang.

Dari sini tersingkap makna, bahwa di balik ruangan penjara yang pengap tidak dapat menghalangi seorang manusia untuk mengekspresikan haknya menikmati kebebasan pikiran dan perasaan manusiawinya.

Kini, ketika kita berada dalam ledakan politik, kita tak boleh kehilangan dimensi yang menjadikan kita multi-perceiver, terpaku pada informasi yang diterima dari data yang dirilis oleh Tim dan multi-thinker, banyak berpikir tentang banyak hal yang berpotensi baik atau buruk.

Dalam bukunya In Praise of Love, Alain Badiou menggunakan metafora cinta sepasang kekasih ketika menulis tentang ‘esensi politik’. Dalam politik terkandung dua pertanyaan: Apa yang mampu dilakukan individu-individu ketika mereka bertemu, berorganisasi, berpikir dan mengambil keputusan?

Sedangkan dalam cinta, politik itu tentang mengetahui apakah Anda mampu melakukan dua hal, mengasumsikan perbedaan, menjadikannya kreatif atau mengetahui adanya perbedaan lalu menciptakan kesataraan.

Atau dalam konteks teologis dikenal sebagai prinsip pari cum pari atau primus cum pari, artinya setara dengan setara atau menjadi pertama dari yang setara?

Tentu saja cinta dan politik 14 Februari 2024 tidak semata-mata apa yang kita sebut kontes/kontestasi, melainkan, selaras konsep etimologis politik, kata ini sejak dulu dikenal dalam bahasa Yunani (Greek) ‘politicos’ yang diartikan sebagai kota, kerangka umumnya tentang intensionalitas kesejahteraan bersama, partisipasi dalam kebersamaan dan kesadaran hati yang penuh cinta.

Cinta dalam berpolitik adalah arsitek alam semesta, pencarian kebaikan dan keindahan, hak dan kesetaraan. Menurut Plato, kita memiliki dua sayap untuk terbang, akal dan cinta.

Memberi diri tanpa pamrih pada suatu tujuan dengan penuh semangat adalah cara jatuh cinta untuk menciptakan kehidupan dan mencari kebahagiaan.

Baca juga: Pemilu 2024 Bertepatan dengan Rabu Abu, Keuskupan Kupang Lakukan Misa di Hari Kamis

Meski tampak seperti kontradiksi, namun cinta bisa menjadi salah satu kekuatan rahasia dan kuat dalam perjuangan kelas. Cinta, menurut Marx, memungkinkan manusia untuk bangkit dari kotak kelas sosial menjadi sungguh-sungguh manusia. Bagi para filsuf Pencerahan, cinta adalah kain yang disulam dengan benang citra dan kuasa dalam semua tindakan alamiah dan rasional.

Gairah cinta dalam refleksi mereka bisa muncul ketika rakyat terpesona oleh sebuah retorika atau pidato politik. Terkadang orang tergila-gila pada pemimpin dan janjinya dalam balutan diksi yang menawan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved