Breaking News
Sabtu, 18 April 2026

Berita Nasional

Stok Produksi Beras Defisit, Pemerintah Siap Buka Keran Impor

Harga beras yang naik pada awal tahun ini disebut merupakan akibat dari defisit produksi beras yang dialami Indonesia.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/NOFRY LAKA
Ilustrasi beras. Terbaru, stok produksi beras defisit, pemerintah siap impor. 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Harga beras yang naik pada awal tahun ini disebut merupakan akibat dari defisit produksi beras yang dialami Indonesia.

Kepala Badan Pangan Nasional ( Bapanas ) Arief Prasetyo Adi mengatakan, produksi beras RI pada Januari-Februari 2024 berada di bawah kebutuhan.

"Ini kita itu mengalami shortage. Produksi kita itu jauh di bawah (kebutuhan) dalam Januari Februari ini. Kebutuhan (beras) 2,5 juta ton sebulan," kata Arief Prasetyo Adi kepada Tribun, Minggu (28/1).

"Januari itu sama Februari kita tuh defisit (berasnya) 2,8 juta totalnya," lanjutnya.

Dia bilang, kondisinya saat ini adalah penggiling padi tidak bisa mendapat gabah. Oleh karena itu, terbatasnya gabah berarti juga berimbas pada beras yang terbatas.

Beras terbatas, kata Arief Prasetyo Adi, mengakibatkan kenaikan harga di hilir. Jadi, dari sisi produksi, ini yang mengakibatkan harga beras naik pada awal tahun ini.

Kemudian, ia menjelaskan yang dikerjakan oleh pemerintah untuk menekan harga beras ini adalah melakukan importasi.

"Keputusan yang sangat pahit, tapi harus diambil, yaitu impor. (Importasi) tidak beken, selalu dianggap tidak baik," ujar Arief Prasetyo Adi.

Menurut Arief, jika importasi tidak dilakukan, harga beras bisa jauh lebih tingi dari sekarang.

Meski importasi dilakukan, ia memastikan pemerintah melakukannya secara terukur. Buktinya, harga gabah di tingkat petani tidak jatuh.

Baca juga: Airlangga Bantah Beras Bansos Berstiker Prabowo-Gibran: Semua Bansos Program Pemerintah

"Jadinya, petani happy karena importasinya terukur. Kalau importasinya tidak terukur, kita ambil impor sebanyak-banyaknya, jatuh gak harga? Jatuh. Kan kasihan petaninya," tutur Arief.

"Jadi kalau ada siapapun menyampaikan 'Wah petani sekarang lagi susah.' Enggak! Petani itu sekarang lagi happy. Kita lagi buat skema bagaimana petani, peternak, itu happy," sambungnya.

Sementara itu, untuk di bagian hilir, bagi para konsumen miskin, Arief mengatakan mereka mendapat bantuan pangan berupa beras.

Bantuan beras diberikan kepada 22 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), yang menurut Arief mereka adalah golongan orang yang paling memerlukan bantuan ini.

Sebagai informasi, harga rata-rata beras secara nasional pada hari ini menurut data panel harga Bapanas, mengalami kenaikan yang hampir serupa.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved