Berita Lembata
Ratusan Remaja di Lembata Jadi Pekerja Seks Jalanan
Hal ini menjadi sinyal buruk di tengah upaya penanggulangan penyakit HIV dan Aids di Kabupaten Lembata
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Masalah sosial di Kabupaten Lembata kian memprihatinkan. Selain tingginya kasus penyakit HIV dan Aids, pertemuan lintas sektor Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata menguak fakta mencengangkan.
Ratusan remaja di Kabupaten Lembata tercatat menjadi pekerja seks jalanan. Fenomena ini terungkap saat KPAD Kabupaten Lembata dan pegiat HIV/Aids serta Dinas Kesehatan melakukan pemetaan di Kota Lewoleba.
Hal ini menjadi sinyal buruk di tengah upaya penanggulangan penyakit HIV dan Aids di Kabupaten Lembata
Baca juga: Begini Tingkat Diskriminasi dan Stigma Buruk Penderita HIV/AIDS di Lembata
Pegiat HIV dan Aids di Lembata, Nefri Eken, mencatat setidaknya ada 507 remaja telah menjadi pekerja seks jalanan. Mereka berusia 15-17 tahun.
“Dari jumlah ini ada yang masih aktif sekolah dan ada yang sudah putus sekolah,” katanya dalam pertemuan yang diselenggarakan di ruang rapat kantor bupati Lembata, Rabu, 29 November 2023.
Menurut dia, dari hasil pemetaan, tidak semua remaja menjadi pekerja seks karena alasan ekonomi. Ada juga remaja yang sudah biasa melakukan seks bebas karena alasan fantasi akibat terpapar pornografi dan pornoaksi. Dia mengingatkan para orangtua untuk mulai menjaga anak-anak khususnya para remaja di tengah era pergaulan bebas yang sulit dikontrol.
Baca juga: DPRD Lembata Sesalkan Pasar Pada Terbengkelai Usai Dibangun
Nefri berujar ratusan remaja pekerja seks jalanan ini juga ada yang dihimpun dalam satu grup dan ada pula yang bertugas sebagai koordinatornya.
Fakta ini juga dipertegas lagi oleh Paskalis Witak dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata. Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata dan KPAD telah melakukan mobile VCT (penemuan penderita HIV/AIDS secara mobile yang menyasar kelompok rentan) yang juga menyasar para pekerja seks jalanan dan mereka menemukan ratusan remaja yang masih duduk di bangku SMP dan SMA sudah menjadi pekerja seks jalanan.
Paskalis Witak juga mengingatkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) supaya lebih giat lagi melakukan penyisiran di tempat-tempat umum saat malam hari. Dia menyebut sejumlah tempat yang jadi hotspot atau tempat yang biasa menjadi lokasi para remaja melakukan transaksi seks. Beberapa di antaranya adalah pantai Harnus, Eks Kantor Bupati Lembata, Pantai SGB Bungsu, Pantai Hukung, Tanjakan Lusikawak, taman kota, pantai Pada, Waijarang dan beberapa tempat lainnya. Walaupun demikian, para pekerja seks jalanan ini masi sulit dilacak karena ada banyak tempat yang diduga dijadikan sebagai tempat transaksi seks.
Fakta baru ini membuat forum yang hadir dalam rapat lintas sektor tersebut geger. Asisten Setda Lembata Irenius Suciadi yang mewakili pemerintah sampai dibuat geleng-geleng kepala mendengar pemaparan tentang maraknya remaja di Lembata yang menjadi pekerja seks jalanan.
KPAD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata juga selama ini sudah melakukan sosialisasi HIV/AIDS di sekolah-sekolah yang ada di Lembata. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/KPA-LEMbata.jpg)