Pelaku Penikaman di Oesapa
Istri Tejo Minta Maaf kepada Keluarga Roy Bolle dan Konay
MA alias Tejo menjadi tulang punggung bagi Serly Salfince Sado dan ketiga anaknya yang masih kecil.
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Perebutan lahan di Oesapa hingga berujung tewasnya Roy Herman Bolle masih menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Rasa duka yang mendalam atas peristiwa tersebut dialami pula oleh Keluarga MA alias Tejo, pelaku penikaman yang menewaskan Roy Herman Bolle.
Kini, MA alias Tejo, harus meringkuk dibalik jeruji besi guna mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut. Padahal, sebagai seorang kepala keluarga, MA alias Tejo menjadi tulang punggung bagi Serly Salfince Sado dan ketiga anaknya yang masih kecil.
Sesuai rilis yang diterima Pos Kupang, Minggu 29 Oktober 2023, ungkapan rasa penyesalan mendalam secara tulus disampaikan Serly Salfince Sado, istri MA alias Tejo ketika ditemui wartawan, Sabtu (28/10/2023). Serly Salfince Sado tak sendiri namun ditemani, Yohana A, kakak sulung Tejo yang hanya bisa terdiam mendengar cerita adik iparnya tersebut.
"Atas nama pribadi dan keluarga, saya mohon maaf kepada keluarga korban (Roy Herman Bolle). Semoga permohonan maaf kami dapat diterima. Suami saya (Tejo) sudah mengakui kesalahan dan sekarang sedang menjalani hukuman," kata Serly Sado.
Permintaan maaf juga disampaikan Serly Salfince Sado kepada Keluarga Konay yang harus ikut menanggung akibat dalam kejadian ini. Terutama Tenny Konay (Marthen Konay) yang sesungguhnya tidak ada hubungan sama sekali dengan peristiwa tersebut karena tidak berada di lokasi saat terjadi kejadian tersebut.
"Saya juga minta maaf kepada Keluarga Konay. Akibat perbuatan suami saya, bapak Tenny Konay ikut terbawa-bawa dan harus ditahan di Polresta. Padahal bapak Tenny Konay tidak ada di lokasi. Semoga permintaan kami bisa diterima Keluarga Roy Bolle dan Keluarga Konay," ungkap Serly lagi.
Selama sebulan ini, Serly Salfince Sado terus dihantui rasa bersalah karena memiliki andil sehingga suaminya MA alias Tejo harus ditahan polisi. Bila saja, Serly tidak menerima panggilan telepon dari Obed Magang dan membangun Tejo yang sementara tidur, tentu suaminya lolos dari peristiwa naas itu.
"Jadi siang itu HP-nya ada di kios. Dia (Tejo) ada tidur di rumah. HP-nya nada diam. Tidak ada suara. Saya lihat, ada tiga panggilan tidak terjawab dari Obed (Obed Magang). Saya lihat layar kedap-kedip. Lalu saya angkat. Saya sempat lihat jam waktu itu, pas setengah 1 (12.30 WITA)," tutur Serly Salfince.
"Saat saya terima telepon, Obed bilang, bapak nona (Tejo) mana? Saya bilang, ada tidur bapak. Karmana? Ada perlu kah? Obed bilang, kalau ada na naik dulu. Cepat saja, sonde lama," sambung Serly mengutip percakapannya dengam Obed lewat hanphone.
Serly kemudian berjalan menuju rumah dan membangun Tejo yang sementara tidur dalam kamar dan melaporkan kalau Oebd ada perlu. "Saya kasih bangun Tejo. Saya bilang kakak Obed ada perlu. Ada perlu apa, saya juga tidak tahu. Jadi kau (Tejo) pergi dulu ketemu kakak Obed," lanjut cerita Serly.
Setelah mendapat pemberitahuan darinya, Tejo kata Serly kemudian bangun dari tempat tidur dan mengambil baju kemudian langsung berjalan keluar rumah menuju ke lokasi yang dimaksud Obed dalam percakapan di telepon tadi.
"Setelah itu, saya tidak tahu lagi, sampai kemudian saya diberitahu Obed kalau Tejo sudah di Polresta karena ditangkap polisi," kata Serly sambil berlinang air mata.
Saat diwawancarai wartawan, Serly masih memendam rasa bersalah karena nekat membangun suaminya yang sementara tidur. Padahal siang itu, dirinya bersama Tejo baru saja bolak-balik dari rumah ke SPBU Bimoku membeli BBM untuk dijual lagi secara eceran di kios di depan rumah mereka.
"Siang itu, Tejo ada tidur karena kami dua bolak balik beli bensin di SPBU Bimoku. Coba kalau saya tidak kasih bangun dia (Tejo) tentu tidak terjadi kejadian seperti ini," kata Serly dengan mata berkaca-kaca.
Karena itu, dari lubuk hati yang terdalam, Serly menyampaikan permohonan maaf kepada Keluarga Roy Bolle. Apa yang sekarang dialami merupakan buah dari perbuatan suaminya (Tejo).
"Saya mohon maaf buat keluarga korban (Roy Herman Bolle) dan Keluarga Konay. Saya mohon dimaafkan. Saya yang bersalah. Coba kalau saya tidak kasih bangun Tejo karena pas waktu itu dia (Tejo) lagi tidur," tutur Serly sambil mengusap air matanya.
Kini Serly harus siap untuk sendiri membesarkan ketiga anaknya tanpa suaminya yang meringkuk di tahanan guna harus mempertanggungjawabakan perbuatannya. "Yang (anak) ketiga, yang selalu tanya dia punya bapak (Tejo). Mama, bapak di mana. Saya hanya bisa jawab, kalau bapak lagi kerja," ujarnya.
Permohonan maaf yang sama dari hati yang tulus diungkapkan Yohana Alang, mewakili Keluarga Besar Alang, yang berharap keluarga almarhum Roy Herman Bolle bisa memaafkan perbuatan adiknya (Tejo). Biarlah proses hukum tetap berjalan sebagaimana mestinya, sehingga adiknya bisa menjalani hukuman dengan baik.
"Mewakili keluarga, saya minta maaf yang sebesar-besarnya buat keluarga korban (Roy Herman Bolle) dan Keluarga Konay. Semoga permohonan maaf kami (Keluarga Alang) ini bisa diterima," kata Yohana dengan penuh haru.
Yohana tak ingin berbicara banyak selain memohon maaf atas perbuatan adiknya tersebut. Apalagi masalah ini tengah ditangani aparat Polresta Kupang Kota jadi keluarga percaya penuh sampai nanti vonis hakim di pengadilan.
MA alias Tejo, merupakan pelaku penikaman hingga menewaskan Roy Herman Boleng saat sengketa lahan di Oesapa. Roy Herman Boleng sendiri berada di Oesapa diduga diajak oleh Paul Bethan, penasihat hukum Mirah Tini Singgih.
Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan bahwa dalam peristiwa tersebut, Tejo sempat terlibat duel (perkelahian) dengan Paul Bethan di Jalan Timor Raya. Duel terjadi setelah Tejo dkk mengejar Paul Bethan dkk hingga ke Jalan Timor.
Saat duel dengan Paul Bethan ini, korban (Roy Herman Bolle) datang membantu dengan memukul Tejo persis di kepalanya. Saat itulah Paul Bethan kabur, sementara Tejo siap melanjutkan duel dengan korban (Roy Herman Bolle). Namun sebuah mobil melintas, sehingga memisahkan Tejo dan korban (Roy Herman Bolle). Kesempatan itulah, yang dipakai Tejo mencabut senjata tajam dan menghabisi korban hingga meninggal.
Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan bahwa sebelum turun ke lokasi, Paul Herman Bethan sempat menghubungi Erminnoldus Adam Senlau alias Gomez untuk menurunkan 'pasukan' guna melakukan pengamanan saat dirinya bersama kliennya Mira Singgi melakukan aktifitas di Oesapa.
Sayangnya, Erminnoldus Adam Senlau alias Gomez menolak karena tidak ada kesapakatan soal bayaran pengamanan. Meski Gomez sudah mengumpul anak-anak (pasukan) dan sudah turun ke Oesapa menggunakan satu unit mobil pickup untuk melakukan pengamanan terhadap Paul Betan dan Mira Singgi.
Gomez kemudian menghubungi Donny Konay dan Obet Magang menginformasikan soal aktifitas Paul Betan bersama Mira Singgi di Oesapa. Untuk memastikan informasi dari Gomez ini, Obet Magang kemudian menghubungi Stevy Konay. Setelah mendapat kepastian dari Stevy Konay, Obet Magang akhirnya menghubungi Matheus Alang alias Tejo untuk segera ke Oesapa.
Saat itu, Tejo sementara tidur ketika dihubungi Obet Magang, sehingga dibangun istrinya yang menerima telepon tersebut. Tejo pun langsung pamit kepada istrinya menuju ke Oesapa usai mendapat telepon dari Obet Magang agar segera ke Oesapa.
Gomez sempat dimintai keterangan oleh penyidik namun kemudian dilepas karena diduga memberikan keterangan palsu dengan memutarbalikkan fakta yang sesungguhnya. Diduga Gomez telah kabur ke Jakarta sejak dua pekan yang lalu pasca peristiwa Oesapa.
sementara Obed Magang, sudah dimintai keterangan oleh penyidik Polresta Kupang namun kemudian dilepas dengan alasan tidak cukup bukti dalam kejadian tersebut. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Tersangka-MA-dan-ML.jpg)