Berita Lembata

Catatan Piter Pulang untuk Festival Badu Watodiri: Dari Sampah Plastik hingga Cara Tanam Mangrove

Badu berarti sebuah model atau sistem penangkapan ikan di kawasan laut yang sudah ditutup dari aktivitas penangkapan dalam rentang waktu cukup lama.

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO-PEMDES WATODIRI
Seorang nelayan dari Desa Watodiri di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, sedang mencari ikan dengan perahunya. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Perhelatan Festival Badu di Desa Watodiri, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata yang akan digelar 28-31 Oktober 2023 menunjukkan keterhubungan relasi masyarakat desa dan kawasan laut di sekitarnya. Tradisi tua masyarakat ini merupakan strategi ketahanan pangan (food security) yang masih bertahan hingga kini.

Secara harafiah, Badu berarti sebuah model atau sistem penangkapan ikan di kawasan laut yang sudah ditutup dari aktivitas penangkapan dalam rentang waktu cukup lama. 

Magister lingkungan, Piter Pulang, mengapresiasi inisiatif pemerintah desa untuk menggelar festival budaya tersebut.

Baca juga: NTT Memilih, Sosialisasi Pemilu KPU Lembata, Fasilitasi Pemilihan Ketua OSIS SMK Ile Lewotolok

Menurut dia, sebagai tradisi yang melukiskan relasi harmonis manusia dan alam, Badu tetap aktual hingga masa kini, asalkan masyarakat bisa merawatnya, termasuk memastikan kawasan pesisir, laut dan hutan mangrove tidak tersentuh eksploitasi dan sampah plastik.

Saat melakukan penelitian di sana, Piter menemukan banyak sampah plastik di pesisir pantai. Sampah plastik, kata Piter, berpotensi merusak ekosistem pantai dan mangrove. Maka dari itu, dia harap, pemerintah desa dan masyarakat bisa menjaga kebersihan pantai dari sampah plastik.

“Sampah terlalu banyak di sana (pantai Watodiri) dan mengganggu lingkungan di sana,” ungkap Piter saat dihubungi, Senin, 25 September 2023.

Lebih dari itu, Piter juga mengakui indeks kerapatan taanaman mangrove di pesisir Watodiri secara ekologis masih tergolong cukup baik. Ini merupakan hal yang harus dipertahankan.

Baca juga: Dari Lembata, Dirjen Kemendes Sampaikan Komitmen Pemerintah Untuk Majukan Daerah Tertinggal

“Kalau tidak ada mangrove itu abrasinya tinggi sekali. Kelihatan sekali di Watodiri,” imbuhnya.

Masih tentang mangrove, Piter juga melihat masih banyak masyarakat yang belum tahu cara menanam mangrove secara baik dan benar. Dia melihat ada banyak anakan mangrove yang ditanam di sana tetapi tidak tumbuh. Sebabnya, tanaman mangrove itu ditanam tidak pada zonasi seharusnya.

Banyak masyarakat belum mengetahui jenis-jenis tanaman bakau yang banyak tumbuh di pesisir. Tanaman itu harus ditanam di habitat sesuai zonasinya. Itulah sebabnya, tanaman itu tidak tumbuh subur di semua zonasi. 

Piter Pulang, memaparkan, setidaknya ada empat zonasi kawasan tanaman bakau yaitu, zona depan (area terbuka), zona tengah, zona berair payau atau berair tawar dan zona nypa yang berada di daratan. Nah, banyak orang yang tidak tahu kalau tanaman yang berada di zona nypa adalah bagian dari bakau (mangrove). 

“Zona depan itu berhadapan dengan abrasi dan gelombang. Zona tengah itu lumpur halus dan zona nypa itu biasanya sudah ada campuran tanah dan karakteristik pantai. Jadi, dia memfilter semua yang dari darat sebelum masuk ke laut. Itu manfaat dari zona nypa,” kata Piter Pulang. 

Baca juga: Pemda Lembata Dukung Pelaksanaan Pendataan Koperasi dan UMKM Oleh BPS

Yang perlu diedukasi kepada masyarakat, kata dia, adalah wilayah zona nypa itu juga masih satu kesatuan dengan kawasan hutan bakau.

“Memang ada kalanya masyarakat melihat zona itu tidak jadi bagian dari kawasan bakau. Mereka anggap itu semak-semak belukar biasa saja,” paparnya.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved